Berita

Ketua Umum Partai Gerindra, Presiden Terpilih, Prabowo Subianto.

Publika

Meneropong Cagub DKI Versi Prabowo

JUMAT, 31 MEI 2024 | 07:20 WIB | OLEH: DR. SYAHGANDA NAINGGOLAN*

BUDI Djiwandono telah membantah pencalonan dirinya sebagai Cagub  Jakarta sebagaimana telah menajadi spekulsi beberapa saat lalu, yang dipasangkan dengan Kaesang putra Jokowi. Apalagi manuver Partai Garuda mengubah batas usia kepala daerah untuk  calon gubernur, minimal usia 30 pada saat pendaftaran, menjadi usia 30 pada saat pelantikan, telah disetujui Mahkamah Agung.

Bantahan ini telah disampaikan Budi, melalui Kompas, tadi malam, ketika media lainnya belum  mengetahui/memberitakan informasi bantahan ini.

Dalam bantahannya, Budi mengatakan arahan tentang dirinya dia dapatkan langsung melalui pamannya, Prabowo Subianto. Hal ini menegasi pernyataan wakil ketua umum Gerindra sebelumnya bahwa alur informasi pencalonan Budi akan diumumkan ketua hariannya (lihat Kompas).


Selain mendapatkan informasi langsung dan mengumumkan langsung ke publik, Budi mengatakan bahwa cagub versi Prabowo dan koalisinya sudah ada namanya, cuma belum diumumkan.

Mengapa Prabowo menolak upaya pencaguban Budi, yang berpasangan dengan Kaesang, di Jakarta? Lalu siapakah calon gubernur versi Prabowo? Ini menjadi bahan kajian menarik tentunya.

Pertama, soal munculnya nama Kaesang yang disertai perubahan syarat batas umur telah membuat keresahan di masyarakat. PKS menganggap MA melanggar UU. Nasdem, melalui Sugeng Suparwoto, menilai tidak perlu membuat instabilitas baru dengan mengulangi cara-cara mirip di MK terkait Gibran yang lalu. Sugeng yang semula mengapresiasi pencalonan Budi dan siap bersinergi dengan Gerindra terlihat kritis dengan isu yang diperkirakan untuk meloloskan Kaesang ke pilgub Jakarta.

Demokrat sendiri, yang menjadi bagian koalisi Prabowo, ragu dengan keputusan MA tersebut. Herman Khaeron, PD, mengatakan seharusnya urusan perubahan terkait UU dilakukan oleh MK bukan MA. PDIP, melalui jubirnya, Chico Hakim, mengkritik keputusan MA tersebut. Disamping partai, berbagai kelompok masyarakat sipil mengkritik keputusan MA tersebut.

Penjelasan Budi yang bersumber langsung dari Prabowo bahwa sudah ada calonnya Prabowo mungkin berusaha meredam gejolak yang berkembang saat ini. Mungkin pula dia sendiri tidak ingin dimasukkan dalam bagian kemarahan rakyat yang disinggung di atas.

Kedua, konstruksi kekuasaan Prabowo ke depan sangat berhubungan dengan pilihan Prabowo dalam menentukan calon kepala daerah nantinya. Jika Prabowo melihat kekuasan daerah sebagai eksistensi tersendiri dalam bagian kekuasaannya, maka pertarungan atau kompetisi di daerah perlu dilakukannya secara serius. Namun, jika Prabowo menganggap dirinya akan menjadi "penguasa tunggal" ke depan, maka kepala daerah bukanlah sosok pemilik "power" terpisah dari dirinya.

Untuk alasan kedua ini kita perlu pemahaman utuh. Pertama, presiden yang berasal dari mantan tentara akan mempunyai kekuatan super ketika menjadi presiden. Kenapa? Karena dia akan menjadi panglima tertinggi militer. Meskipun sejak era demokrasi hal ini bersifat ambigu, namun faktanya ketika militer menjadi presiden, kekuatan militer solid dan tunduk total pada presiden tersebut.

Kedua, implikasi dari hal di atas, merujuk pada berbagai teori yang menganalisa hubungan militer dan politik di dunia ketiga, presiden tersebut akan memanfaatkan kekuatan militer tersebut sebagai tulang punggung kekuatan dan kekuasaannya. Pada masa SBY, yang dibantu 3 eks militer utama, Syamsir Siregar di bidang intelijen, Sudi Silalahi di istana dan M. Yasin di kalangan sipil, konsolidasi militer dalam menjalankan stabilitas dan pembangunan, khsususnya penanganan Tsunami Aceh dan perundingan dengan GAM, dapat berjalan mulus.

Hanya saja, karena SBY dianggap terlalu dipengaruhi ide-ide demokrasi barat, SBY memberi ruang yang sangat besar untuk sistem politik demokrasi. Sehingga, isu kepala daerah dan desentralisasi, tetap dianggap sebagai eksistensi tersendiri.

Prabowo yang lebih berlatar belakang komando, dibandingkan SBY, tentu saja akan berbeda. Dengan konsolidasi melalui kekuatan dan kekuasaannya atas militer, efektifitas kekuasaannya lahir bukan dari partai politik dan derefatifnya, melainkan dari militer itu sendiri. Kekuatan dan kekuasaan Prabowo yang cenderung absolut hanya membutuhkan kaum teknokrasi, sebagaimana pak Harto dulu, dalam menjalankan pembangunan.

Spekulasi Prabowo akan menentukan calon-calon kepala daerah berdasarkan keinginan parpol dan demokrasi murni mulai mengalami keraguan sejak Prabowo ingin menjalankan ide-ide besar seperti makan siang gratis, pendidikan gratis, pertumbuhan ekonomi 8%, pengentasan kemiskinan secara tuntas, dlsb. Ide besar ini hanya bisa berjalan dengan cara pak Harto dahulu, dan sulit dengan cara paska reformasi selama ini.

Prabowo mungkin hanya melihat pilkada hanya salah satu sarana mencari ajang pencarian kepala daerah yang mampu merealisasikan cita-cita besar dia di daerah. Sebagai "back up", rencana perubahan UU TNI, yang membolehkan TNI bekerja dalam ruang lingkup sipil, seperti kepala daerah atau seksa, boleh jadi akan merupakan " plan B" jika pilkada tersebut gagal seperti yang dia harapkan.

Spekulasi lainnya seperti Prabowo membenci Anies dan kecewa dengan PDIP karena belum menyatakan dukungannya sulit untuk difahami. Pertama, kita melihat tema persatuan nasional yang kerap digembar-gemborkan Prabowo, lebih khususnya lagi doktrin tentara Orde Baru bahwa mereka di atas semua golongan, akan mengarahkan pada konsolidasi total anak bangsa. Ini terlihat pula Prabowo kurang tertarik lagi dengan mempersoalkan orang orang yang dulu menghina dia psikopat maupun memecatnya dari militer.

Kedua, Anies dan Andhika, misalnya jika dicalonkan PDIP, pasti akan tunduk pada kekuasan dan kekuatan Prabowo sebagai eks militer yang menjadi presiden, sebagaimana dibahas di atas. Sehingga, siapapun pemenangnya di Jakarta dan pilgub lainnya hanyalah yang terbaik untuk melayani kekuasan Prabowo kelak.

Dengan analisa di atas, kemungkinan besar Prabowo sedang melakukan suatu strategi besar dan tersendiri, yakni melihat pilgub bukan sebagai ajang kompetisi terhadap dirinya. Sehingga cagub Prabowo tidak perlu terasosiasi lagi pada dirinya. Itu pula mungkin melatarbelakangi penolakan dia terhadap pencalonan Budi Djiwandono, ponakannya, yang kelak diperkirakan sebagai penggantinya dalam waktu dekat.

Lalu siapa cagub Prabowo di Jakarta? Mungkin Prabowo akan membiarkan siapapun bertarung dan tidak memihak.

Penulis Direktur Eksekutif Sabang Merauke Circle.

Populer

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Kasihan Banyak Tokoh Senior Ditipu Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:19

Partai Politik Mulai Meninggalkan Jokowi

Selasa, 17 Februari 2026 | 13:05

Sangat Aneh Bila Disimpulkan Ijazah Jokowi Asli

Kamis, 19 Februari 2026 | 18:39

Gibran Jadi Kartu Mati Prabowo di Pilpres 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 03:02

UPDATE

RI Tak Boleh Tunduk atas Bea Masuk 104,38 Persen Produk Surya oleh AS

Jumat, 27 Februari 2026 | 10:16

DPR: Penagihan Pajak Tanpa Dasar Hukum yang Jelas Namanya Perampokan

Jumat, 27 Februari 2026 | 10:09

Suara Rakyat Terancam Hilang Jika PT Dinaikkan

Jumat, 27 Februari 2026 | 10:09

Bursa Cabut Status Pemantauan Khusus 14 Saham, Resmi Keluar dari Mekanisme FCA

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:57

IHSG Dibuka ke Zona Merah, Anjlok ke Level Terendah 8.093 Pagi Ini

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:41

Komisi III DPR Ingatkan Aparat Tak Main Hukum Terhadap ABK Fandi

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:38

Perjanjian Dagang RI-AS Perkuat Hilirisasi

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:36

Laba Bersih Astra International Turun 3,3 Persen di 2025, Jadi Rp32,77 Triliun

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:31

185 Lapangan Padel Belum Berizin, Pemprov DKI Segera Bertindak

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:16

Bursa Asia Melempem Jelang Akhir Pekan

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:06

Selengkapnya