Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Pendidikan Murah dan Kesaktian Prabowo

SELASA, 28 MEI 2024 | 11:02 WIB | OLEH: DR. SYAHGANDA NAINGGOLAN*

BARU saja 4 hari Prabowo Subianto menyatakan sikapnya bahwa pendidikan harus murah bahkan gratis dalam acara Wawancara Eksklusif TVOne arahan produser Lalu Mara, Joko Widodo "terbirit-birit" memanggil Nadiem Makarim ke Istana untuk menghentikan kenaikan UKT mahasiswa yang ribut sejak Maret lalu.

Pemerintahan Jokowi yang mengkomersialisasikan Perguruan Tinggi negeri telah mengakibatkan demo mahasiswa sejak dua bulan ini.

Protes mahasiswa itu bukannya membuat Jokowi mengambil tindakan positif, malah membiarkan nasib mahasiswa tanpa kepastian dengan adanya laporan rektor (Universitas Riau) mempidanakan mahasiswanya, dan membiarkan mahasiswa gagal mendaftar jadi mahasiswa.


DPR sendiri, sebagian besar kelompok pendukung Prabowo, tidak bertindak tegas. Bahkan, kepada ketua BEM Yarsi yang protes ke DPR, disebutkan bahwa tanggung jawab negara hanya sebatas wajib belajar 9 tahun. Jadi resiko mahalnya uang UKT merupakan pilihan mahasiswa.

Pikiran beberapa pimpinan DPR sejalan dengan pimpinan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi bahwa UKT mahal merupakan hal wajar saja.

Sekarang setelah Prabowo menegaskan pendidikan pasti murah dan bahkan mungkin gratis ke depan, jika dia dilantik Presiden, semua pihak, termasuk Jokowi sadar bahwa semua urusan pendidikan, termasuk pendidikan tinggi menjadi tanggung jawab negara.

Prabowo membandingkan era mertuanya berkuasa dulu, di mana mahasiswa miskin mampu masuk perguruan tinggi. Memang dahulu tidak ada mahasiswa negeri yang drop out karena miskin.

Sikap Prabowo ini tentu saja membuat seluruh elit yang bertanggung jawab atas dunia pendidikan menata ulang konsep pendidikan murah dan berkualitas. Spektrum persoalan harus dilihat jernih, khususnya di PTN. Beberapa hal yang mungkin perlu diperhatikan adalah sebagai berikut.

1. Negara harus menata ulang "link and match" dunia pendidikan dan industri. Sehingga pilihan dan jenjang pendidikan disesuaikan dengan peluang mencari kerja. Ini akan membuat tidak semua orang berlomba-lomba mencari gelar atau jenjang seragam.

2. Alokasi negara atas sektor pendidikan 20% APBN harus fokus pada kerja kementerian pendidikan dan riset. Dari Rp665 triliun dana APBN sektor pendidikan dan hanya dikelola di bawah Rp100 T, terlalu kecil.

3. Pengadaan sarana dan prasarana universitas yang dibiayai negara harus ditata ulang agar mudah, murah dan kolaboratif dengan pihak aparat. Mafia proyek yang dibekingi aparat di sektor pendidikan harus zero.

4. Pemerintah harus menghapus semua lembaga bimbingan belajar dengan memasukkan mereka ke dalam ekosistem sekolah. Bimbingan belajar selama ini membuat guru-guru di sekolah kehilangan peran, sebagiannya, pada kesuksesan siswa. Dan orang-orang miskin tidak mampu membayar bimbingan belajar, sehingga mereka tersisih dalam jenjang kemajuan vertikal.

Pemerintah China pada tahun 2010 melakukan hal ini. Gantinya adalah membiayai kehidupan guru dengan layak. Sehingga, semua urusan pendidikan dan mutunya selesai di sekolah.

5. Pemerintah harus mulai melirik cara IPB, misalnya, menjalankan pencarian dana (social entrepreneur) selama ini, sehingga tidak menaikan UKT. Juga kenapa pemerintah gagal, misalnya, menjadikan dana Rp6 triliunan pembuatan aplikasi (govt apps) yang dikritik Jokowi kemarin, sebagai projek kampus-kampus, untuk sumber pemasukan. Sesungguhnya kampus jika dilibatkan untuk proyek pemerintah akan membuat sumber pemasukan bagi kampus dan juga pengembangan riset.

Begitu juga, model Universitas Digital, yang dijalankan Professor Laode Kamaluddin, dapat dipelajari sebagai bagian model pendidikan murah.

Dunia pendidikan adalah dunia penting bagi manusia melakukan mobilisasi vertikal. Jika dunia ini gagal dikelola negara, maka orang-orang miskin akan terus miskin selamanya. Negara juga tidak mampu mendongkrak daya saing nasional.

Perhatian dan sikap Prabowo yang menghentak semua orang, termasuk Jokowi, untuk mengoreksi mahalnya pendidikan kita harus segera direspon dengan kerja keras dan detail. Sehingga ketika Prabowo bekerja semuanya sudah siap dijalankan. Pendidikan murah, rakyat sejahtera, nantinya.

Itulah kesaktian Prabowo dalam kisah dunia pendidikan ini. Semoga mahasiswa senang UKT tidak jadi naik 300-500 persen.

*Penulis adalah Founder Sabang Merauke Circle

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

UPDATE

Investasi Jakarta Tertinggi Nasional, Tumbuh 22,1 Persen

Rabu, 04 November 2026 | 00:34

Pemerintah Optimis Polri Bakal Bongkar Aktor Intelektual Penyadapan Presiden

Rabu, 04 November 2026 | 00:20

Geledah Pukul 03.20

Rabu, 04 November 2026 | 00:04

Peduli Karhutla, PKSS Salurkan Ribuan Masker dan Susu Steril

Selasa, 03 November 2026 | 23:43

Listyo Sigit Cs Salah Pilih Lawan, Akhirnya Masuk Penjara

Selasa, 03 November 2026 | 23:22

WNA China Praperadilkan BNN di PN Jaktim terkait Narkoba

Selasa, 03 November 2026 | 23:00

Ditanya soal Gibran Ikut Disadap, Yusril: Wallahu A'lam bish-Shawab

Selasa, 03 November 2026 | 22:45

TEI 2026 jadi Pintu Ekspor Produk Sawit dan Pangan Indonesia

Selasa, 03 November 2026 | 22:32

Ini Kronologi Penyadapan Prabowo oleh Listyo Sigit Dkk

Selasa, 03 November 2026 | 22:29

Prabowo Bekali 400 Calon Pemimpin BUMN dengan Nilai Integritas dan Nasionalisme

Selasa, 03 November 2026 | 22:13

Selengkapnya