Berita

Mantan Calon Wakil Presiden (Cawapres) nomor urut 3 Mahfud MD/RMOL

Politik

Tolak Dinasti Politik, Mahfud: Itu Menyakitkan Hati Orang

KAMIS, 16 MEI 2024 | 16:22 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Mantan Calon Wakil Presiden (Cawapres) nomor urut 3 Mahfud MD menolak sikap nepotisme yang dibentuk dalam konsep dinasti politik, karena akibatnya merugikan orang lain.

Hal tersebut dia sampaikan saat diwawancarai jurnalis senior Budiman Tanuredjo dalam podcast Back to BDM di Youtube, tayang Kamis (16/5).

Dalam kesempatan itu, mulanya Budiman mengulik keinginan Mahfud mengenai karir putra-putrinya, dan kemudian dijelaskan bahwa anak pertama dan keduanya memilih jalur kedokteran. Sementara anak ketiga mengikuti jejaknya sebagai dosen hukum di perguruan tinggi negeri.


"Enggak ada yang diarahkan jadi politisi," tanya Budiman secara spontan kepada Mahfud.

Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) itu mengaku tidak melarang anaknya terjun dalam dunia politik, tetapi memberikan pengecualian.

"Enggak (diarahkan menjadi politisi). Saya sarankan, 'hei kamu (anak-anak ku) boleh ngurus negara ini, boleh berpolitik tapi jangan ke partai politik," kata Mahfud menjawab.

Budiman lantas tertarik dengan jawaban itu, hingga akhirnya meminta alasan kepada Mahfud mengapa melarang anaknya bergabung dengan parpol.

"Kenapa," tanya Budiman singkat.

"Enggak akan kuat dia dengan godaan, tarikan kanan-kiri, atas-bawah," sambung Mahfud menjawab.

Tak sampai di situ, Mahfud menceritakan pengalamannya ketika di zaman Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid atau kerap disapa Gus Dur. Di mana, dirinya saat itu juga dilarang masuk Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

"Sama ketika saya mau masuk partai politik oleh Gus Dur untuk mencalonkan DPR, sama Gus Dur enggak boleh, (dengan bilang) 'Pak Mahfud anda enggak boleh anggota DPR'," ujar Mahfud menceritakan percakapannya dengan Gus Dur pada zaman itu.

"Loh Gus, saya masuk PKB kan karena ingin masuk DPR. Terus saya mau ke mana? (Lalu Gus Dur menjawab) 'Pak Mahfud jadi hakim aja nanti'," sambungnya.

Singkat cerita, Mahfud menyampaikan satu alasan Gus Dur melarang dirinya masuk ke parlemen, padahal dia melihat beberapa orang yang masuk PKB tidak dilarang oleh Gus Dur menjadi anggota DPR.

"Lalu saya sebutlah nama-nama yang dari PKB masuk ke politik lah, si A, si B. (Lalu Mahfud bertanya) Gus kok si itu boleh? (Kemudian Gus Dur menjawab)'ya boleh, karena dia itu pembohong, itu memang cocok jadi politisi. Dia memang pembohong," ungkap Mahfud tertawa terbahak-bahak bersama Budiman.

Setelah itu, Budiman melontarkan pertanyaan terkait dinasti politik, dan mencari tahu apakah sosok seperti Mahfud ada keinginan untuk membuat dinasti politiknya sendiri.

"Banyak elite bangun dinasti politik. Kenapa Pak Mahfud enggak bangun?" tanyanya.

Tanpa jeda, Mahfud pun menyatakan menolak praktik tersebut,  seraya meluruskan makna dinasti politik yang dalam diskursus politik jelang pemilihan umum (Pemilu) Serentak 2024 kemarin menghangat.

"Enggak kalau saya (bikin dinasti politik). Itu istilah nepotisme ya (sebenarnya). Kalau dinasti itu kan sebuah sistem yang melembaga dan ada aturannya malah," tegasnya sembari menjelaskan,

"Kalau nepotisme itu suatu sikap yang spontan saja, kasuistik atau berlanjut tapi tidak tersistem. Saya tidak suka nepotisme," tambahnya menegaskan.

Kemudian, Mahfud melanjutkan komentarnya mengenai dinasti politik itu, sembari memberikan contoh kasus dari permisalan dirinya jika dihadapkan dengan orang yang mempraktikan nepotisme.

"Karena saya membayangkan ketika saya butuh pekerjaan, duduk, saya sakit hati kalau pekerjaan saya itu diambil oleh orang lain yang lebih jelek dari saya. Jadi kalau saya bersikap nepotisme, mendahulukan anak, keluarga itu saya enggak mau, itu menyakitkan orang," tuturnya.

Oleh karena membuat orang tersakiti dari perbuatan nepotisme tersebut, Mahfud menyatakan menolak ikut membentuk kerajaan politik.

"Enggak tega kalau lihat orang, orang tuanya kerja keras menyiapkan ini itu, besok mau ada tes di sini, besok ada tes di sini, orang tuanya jual macam-macam, datang ke Surabaya pas tes enggak tahunya dia yang pinter enggak lulus ini malah orang lain yang lulus, lewat ordal," demikian Mahfud.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Selain Anak Buah Nusron, KPK Benarkan Tangkap Fahd A Rafiq

Selasa, 15 September 2026 | 00:25

Laut Bukan Tempat untuk Mati

Selasa, 15 September 2026 | 00:01

APKARINDO Perjuangkan Ksejahteraan Petani hingga Kejayaan Karet Rakyat

Senin, 14 September 2026 | 23:42

Anak Buah Nusron Kena OTT KPK Terkait Pengurusan HGB Summarecon

Senin, 14 September 2026 | 23:22

DPR Soroti Usia Kapal dan Kepatuhan Aturan Impor dalam Tragedi Virgo Transport 8

Senin, 14 September 2026 | 23:02

Pemerintah Bahu Membahu Cegah Karhutla Masuk Zona Inti IKN

Senin, 14 September 2026 | 23:01

Pemilik Laundry Sukses Kembangkan Usaha dari Mekaar jadi BRILink Agen

Senin, 14 September 2026 | 22:38

OTT KPK Makin Mengerucut, Fahd A Rafiq hingga Bos Summarecon Dikabarkan Terjaring

Senin, 14 September 2026 | 22:37

Ketua KPK Benarkan OTT Pejabat ATR/BPN, Daftar Nama Belum Diungkap

Senin, 14 September 2026 | 21:59

Janggal, Purbaya Dipecat Setelah Mencopot Ratusan Pejabat Kemenkeu

Senin, 14 September 2026 | 21:57

Selengkapnya