Berita

Presiden Kim Jong Un bersama kelompok ilmuwan nuklir Korea Utara dalam sebuah kesempatan./KCNA

Dunia

10 Ribu Ahli Nuklir Korea Utara Hidup Menderita Jadi Budak Bom

SENIN, 13 MEI 2024 | 13:18 WIB | LAPORAN: JONRIS PURBA

Ilmuwan nuklir Korea Utara tidak mempunyai kekuasaan atas kehidupan mereka yang telah ditentukan oleh pemerintah dari usia kanak-kanak, saata menempuh pendididkan, maupun setelah terlibat dalam riset nuklir.

Di tengah masyarakat di mana kegagalan dipandang sebagai ketidaksetiaan pada pemimpin dan negara, kehidupan sekitar 10 ribu ahli nuklir Korea Utara begitu memprihatinkan.

Demikian disampaikan pakar Semenanjung Korea, Robert Collins yang pernah bertugas selama 31 tahun di Komando Pasukan Gabungan AS dan Korea Selatan.


Collins yang pernah menjadi kepala strategi di Pasukan Gabungan itu baru-baru ini menerbitkan sebuah laporan mengenai kehidupan ahli nuklir Korea. Laporan yang dikutip Chosunilbo itu berjudul “Budak Bom”.

Menurut Collins, ia menuliskan laporannya berdasarkan kesaksian para pembelot Korea Utara yang dia wawancarai dan berbagai materi rahasia.

“Orang luar berasumsi ilmuwan nuklir diperlakukan dengan baik karena energi nuklir memang demikian penting bagi kelangsungan hidup Kim Jong Un dan Korea Utara. Namun kenyataannya tidak demikian,” tulis Collins.

“Pemimpin tertinggi menuntut pembangunan senjata canggih yang mampu mencapai daratan AS, para ilmuwan nuklir menghadapi bahaya masa depan tanpa jalan keluar selain sukses,” sambungnya dalam laporan setebal 200 halaman.

Korea Utara memiliki sistem yang mengizinkan unit administratif, baik pedesaan maupun perkotaan,  memilih dan merekrut anak-anak yang unggul dalam matematika dan sains.

“Siswa-siswa terbaik dari masing-masing daerah dikumpulkan dan dilatih dalam bidang matematika, sains, fisika, dan mata pelajaran lainnya,” tulis Collins lagi.

“Jika mereka menonjol, keseluruhannya keluarga terkadang terpaksa pindah agar siswanya dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. sekolah menengah di ibu kota,” kata dia.

Siswa terpilih dibawa ke sekolah menengah paling bergengsi di Shinwon-dong, Pyongyang. Di sekolah ini dulu mantan pemimpin Korea Utara, KIm Jong Il, pernah menuntut ilmu. Semua siswa secara teratur berpartisipasi dalam kompetisi internasional seperti Olimpiade Matematika, menurut laporan itu.

Siswa yang dipilih untuk bekerja pada program nuklir Korea Utara biasanya menghadiri salah satu program tersebut di lima universitas, termasuk Universitas Kim Il Sung, Universitas Teknologi Kimchaek, dan Sekolah Tinggi Teknologi Kaggye.

Laporan tersebut menyatakan, setelah seorang ilmuwan nuklir mencapai kesuksesan akademis yang signifikan dalam bidang penelitian tertentu, nasib profesional mereka sudah ditentukan.

Mereka harus menjalani kehidupan yang membuat mereka tidak memiliki pilihan kecuali berdedikasi pada rezim Kim. Satu-satunya variabel dalam hidup mereka adalah fasilitas nuklir tempat mereka bekerja dan kualitas perumahan terkait.

Pernikahan bagi para ilmuwan ini juga ditentukan dan mereka tidak memiliki kebebasan memilih pasangan. Siapa pun yang mengungkapkan ketidakpuasan terhadap pengaturan seperti ini akan menjalani hukuman dan dicabut berbagai fasilitasnya.

Meskipun ada sanksi internasional terhadap Korea Utara, ilmuwan nuklir Korea Utara diberi kesempatan belajar di luar negeri, terutama di Institut Gabungan untuk Penelitian Nuklir (JINR) di Rusia dan Institut Harbin Teknologi di Tiongkok. Sebelum pandemi Covid-19, lebih dari 1.000 pelajar Korea Utara terdaftar setiap tahun di Institut Teknologi Harbin.

Kualitas hidup ilmuwan nuklir Korea Utara sangat dipengaruhi oleh lokasi mereka ditugaskan untuk bekerja.

“Ada lebih dari 100 fasilitas nuklir di Korea Utara . Sebanyak 40 di antaranya merupakan fasilitas utama yang harus diatasi dalam denuklirisasi di masa depan proses,” tulis Collins lagi.

Di antara fasilitas itu terdapat 15 pusat penelitian dan pengawasan nuklir, delapan tambang uranium, dan lima pembangkit listrik tenaga nuklir serta kilang.

Situs uji coba nuklir Punggye-ri di Provinsi Hamgyong Utara disebut sebagai tempat kerja yang paling tidak diinginkan para ilmuwan. Dari tahun 2006 sampai 2017 Korea Utara telah melakukan enam uji coba nuklir di tempat itu.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Tak Sekadar Acara Formal. Mubes BMK 1957 Hadirkan City Tour di Semarang

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:23

BPS Catat Inflasi 2,88 Persen pada Juli 2026, Ini Biang Keroknya

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:22

Fahira Idris Desak Pemprov DKI Perkuat Antisipasi Puncak Kemarau

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:09

Usulan RUU LGSP MUI Jadi Ujian Keseriusan DPR dan Pemerintah

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:06

Provokasi Bangkrut dari ‘De Volkskrant’

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:02

Dewas Soroti Ratusan Pemberitahuan Pro Justitia KPK Terlambat Disampaikan

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:58

Ponpes Tambakberas Libatkan Santri Jadi Relawan Muktamar NU

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:49

Prabowo Akan Terima Kunjungan PM Thailand di Istana Merdeka Sore Ini

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:46

Indonesia Catat Deflasi 0,14 Persen di Juli 2026, Dipicu Harga Pangan

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:45

Tiga Masalah Utama Pemicu Turunnya Kepuasan terhadap Prabowo

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:21

Selengkapnya