Berita

Tentara Hamas/Net

Global

Hamas Setujui Proposal Gencatan Senjata, Tapi Israel Tetap Ingin Serang Rafah

SELASA, 07 MEI 2024 | 12:19 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Saat Hamas setuju melakukan gencatan senjata sesuai dengan proposal yang ditengahi Mesir dan Qatar, Israel justru mengaku akan tetap melanjutkan rencananya menginvasi Rafah.

Pada Senin (6/5), Hamas mengatakan pihaknya telah menerima proposal gencatan senjata untuk mengakhiri perang dengan Israel di Jalur Gaza.

"Setelah Hamas menyetujui usulan para mediator (Mesir dan Qatar) untuk melakukan gencatan senjata, kini keputusan berada di tangan Israel, apakah mereka akan menyetujui proposal gencatan senjata atau menghalanginya," kata seorang pejabat senior Hamas, seperti dimuat AFP.


Keputusan ini disambut sorak-sorai masyarakat Palestina dengan turun ke jalan sambil meneriakkan "Allahu Akbar".

Jika Israel dan Hamas dapat menyetujui persyaratan tersebut, hal ini dapat menyebabkan pembebasan hingga 33 sandera yang ditahan di Gaza dan terhentinya pertempuran di wilayah tersebut selama lebih dari satu bulan.

Gencatan senjata juga diyakini dapat menunda kemungkinan invasi darat Israel ke kota Rafah di Gaza selatan, tempat lebih dari satu juta warga Palestina berlindung.

Kantor perdana menteri Israel mengatakan bahwa kabinet perang belum memberikan keputusan terhadap proposal gencatan senjata karena kesepakatannya dinilai masih jauh dari yang diharapkan.

Tetapi Israel berencana mengirim delegasi ke Kairo pada Selasa (7/5) untuk melanjutkan perundingan.

"Delegasi Israel akan pergi ke Kairo dengan keinginan dan kemauan untuk menutup kesenjangan itu. Bagaimanapun, kami tidak akan membiarkan Hamas mengulur waktu,” tegas pejabat di kantor PM Israel.

Lebih lanjut pejabat itu mengatakan, setelah rapat dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, kabinet perang dan tim perundingan Israel setuju untuk melanjutkan invasi darat ke Rafah.

"Dengan suara bulat memutuskan Israel akan melanjutkan operasi militernya di Rafah untuk memberikan tekanan militer terhadap Hamas di Israel," tambahnya.

Proposal gencatan senjata yang ditengahi Qatar dan Mesir terdiri dari tiga fase.

Pada fase pertama, jeda perang dimulai dan Israel harus menarik pasukan ke wilayah timur, menjauh dari wilayah Gaza padat penduduk, dan pindah ke titik perbatasan Israel dengan Gaza.

Pesawat dan drone Israel juga akan berhenti terbang di langit Gaza selama 10 jam setiap hari, dan selama 12 jam di waktu pertukaran sandera.

Hamas secara bertahap akan membebaskan 33 orang sandera Israel, baik itu yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.

Sandera yang akan dibebaskan lebih dulu adalah perempuan, siapa pun yang berusia di atas 50 tahun, mereka yang sakit, atau bukan tentara yang berusia di bawah 19 tahun.

Untuk setiap satu sandera Israel yang dibebaskan hidup-hidup oleh Hamas, maka Israel harus membebaskan 30 warga Palestina yang ditahan di penjara. Sementara untuk setiap wanita yang dibebaskan Hamas, Israel akan membebaskan 50 warga Palestina.

Penarikan pasukan Israel juga nantinya akan memungkinkan warga Palestina yang kehilangan tempat tinggal untuk kembali ke rumah mereka di Gaza. Proses ini akan dilakukan secara bertahap.

Secara terpisah, kesepakatan juga menetapkan bahwa pekerja rekonstruksi di Gaza harus dimulai pada fase ini. Begitu pula aliran bantuan, dan bahwa UNRWA serta organisasi bantuan lainnya diizinkan bekerja untuk membantu warga sipil.

Di fase kedua, operasi militer akan dihentikan secara permanen dan penarikan penuh Israel dari Gaza.

Pada fase ini, seluruh sandera laki-laki Israel yang ditahan Hamas akan dibebaskan, termasuk tentara yang ditawan di Gaza. Fase ini akan berlangsung selama 42 hari.

Di fase terakhir, sisa tahanan di kedua belah pihak dibebaskan. Sementara dari sisi pembangunan, rekonstruksi Gaza akan dimulai untuk jangka waktu tiga hingga lima tahun.

Selain itu di tahap ini, blokade Israel terhadap wilayah Gaza harus dicabut secara penuh.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

UPDATE

Jaga Produktivitas dan Kelestarian, Agrinas Palma-BNPB Sinergi Tangkal Karhutla

Selasa, 03 November 2026 | 14:10

Kerja Sama Korea-Indonesia Perkuat Transformasi Digital Koperasi

Selasa, 03 November 2026 | 14:06

Gibran Selalu Dibela Mati-matian oleh Barisan Pendukungnya

Selasa, 03 November 2026 | 14:01

KPK Lepas Dua Pejabat Asal Kejagung, Mungki Hadipratikto Bakal Bertugas di BGN

Selasa, 03 November 2026 | 14:00

Babak Baru Piala Asia 2027, Alasan dan Jadwal Terbaru Penundaan Turnamen

Selasa, 03 November 2026 | 13:56

Kemlu Benarkan Dua WNI Tewas Saat Memancing di Jepang

Selasa, 03 November 2026 | 13:49

Fraksi Gerindra Belum Bersikap soal Putusan MA terkait Gibran

Selasa, 03 November 2026 | 13:45

Ketua KPK Pastikan Dalam Waktu Dekat Panggil Nusron Wahid

Selasa, 03 November 2026 | 13:35

PKS Minta Pemerintah Bebaskan PPN Produk Pembalut

Selasa, 03 November 2026 | 13:29

Soal Boikot Raffi Ahmad, Sosiolog Ingatkan Tanda Kehancuran Negara Bersumber dari Internal

Selasa, 03 November 2026 | 13:11

Selengkapnya