Berita

Anggota DPR RI, Nurul Arifin, saat memberikan pemaparannya dalam diskusi daring "Literasi Digital untuk Masyarakat: Hati-hati Rekam Jejak Digital"/Repro

Nusantara

Hati-hati, Rekam Jejak Digital jadi Patokan SDM dalam Merekrut Karyawan

MINGGU, 28 APRIL 2024 | 23:51 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Jejak digital bagaikan dua sisi mata uang. Dapat membantu untuk memperkuat potensi, tapi bisa juga merugikan diri sendiri kalau tidak berhati-hati dalam menggunakannya.

"Jejak digital dapat mengungkap begitu banyak hal tentang diri kita. Karena berasal dari aktivitas daring, jejak digital dapat dilacak, dianalisis, dan digunakan untuk membangun gambaran profil yang sesuai lokasi, kelompok sosial, perilaku, dan minat kita," ucap Anggota Komisi I DPR RI, Nurul Arifin, dalam diskusi daring "Literasi Digital untuk Masyarakat: Hati-hati Rekam Jejak Digital" yang dikutip redaksi, Minggu (28/4).

Nurul mengingatkan, jejak digital kemungkinan besar akan tersimpan secara permanen di internet, baik unggahan positif maupun yang negatif. Itu semua akan jadi semua acuan ketika SDM mencari karyawan atau saat masyarakat sedang mencari pekerjaaan.


Karena itulah, lanjut mantan pengajar Ilmu Politik di Universitas Nasional ini, jejak digital berperan penting dalam dunia kerja karena sering dijadikan sebagai tolok ukur SDM Perusahaan dalam menyeleksi kandidat. Indikator yang dilihat antara lain, kalimat yang sering diunggah, foto-foto, interaksi yang dilakukan, serta lingkaran pertemanan calon karyawan.

Berdasarkan riset YouGov yang dikeluarkan World Economic Forum, 1 dari 5 penyedia pekerjaan akan menolak pelamar karena perilaku mereka di media sosial.

Untuk itu, Nurul Arifin pun memberikan tips untuk melindungi rekam jejak digital. Pertama, pintar dalam menggunakan internet.

"Selalu pikirkan ulang apa yang akan diunggah di medsos agar tidak menjadi masalah di kemudian hari. jangan mengunggah informasi sensitif seperti nomor KTP, PIN, kata sandi, alamat rumah, nomor telepon, tanda tangan, dan sebagainya," tuturnya.

Kedua, pengguna harus kuat dalam hal keamanan. Pastikan membuat password yang sulit ditebak dan tidak membagikannya ke orang lain. Pengguna juga disarankan mengaktifkan verifikasi dua langkah untuk menjaga keamanan akun digital mereka.

"Ketiga, periksa ketersediaan informasi pribadi di internet. Masukkan namamu di kolom pencarian dan lihat apakah ada identitasmu di dalamnya. Seperti identitas media sosial FB, Twitter, Instagram, Linkedin, YouTube, dsb. Untuk menghapus namamu dari mesin pencarian harus meminta izin kepada pengelola data," imbuhnya.

Nurul juga mengingatkan masyarakat soal UU Pelindungan Data Pribadi yang sudah selesai dibahas oleh DPR RI bersama Pemerintah.

"Salah satu sasaran UU PDP adalah untuk 'terlindunginya dan terjaminnya hak dasar warga negara melalui regulasi pelindungan data pribadi. Sehingga seluruh warga negara Indonesia dapat semakin aman dalam berinternet, tanpa harus takut data pribadi yang mereka bagikan kepada pengendali data disalahgunakan," papar politikus Partai Golkar yang baru saja terpilih kembali untuk duduk di DPR RI tersebut.

"Termasuk rekam jejak digital, karena akan diatur kewajiban pengendali data untuk menghapus data yang sudah tidak terpakai," sambungnya.

Setelah mengenal rekam jejak digital, diharapkan kita dalam semakin bijak dalam membagi dan mengunggah data ataupun konten saat berinternet. Meskipun memiliki banyak peluang untuk memperkuat potensi diri, jangan sampai rekam jejak digital menjadi bumerang untuk masa depan kita.

"Pastikan segala sesuatu yang dipublikasikan memiliki manfaat yang positif, agar terhindar dari hal-hal yang tidak kita inginkan. Gunakan medsos secara bijak. Pikirkan sebelum tayang, jangan berpikir setelah tayang. Ini penting sekali. Semua hal yang kita tayangkan bisa berpengaruh terhadap kehidupan kita kelak," imbaunya.

Sementara itu, praktisi literasi digital, R Wijaya Kusuma Wardhana menambahkan, jejak digital itu tak lepas dari disrupsi teknologi digital. Di mana platform media informasi dan komunikasi semakin beraneka ragam sebagai dampak pemakaian teknologi digital.

Di mana telah terjadi pergeseran pola pikir, pola sikap, dan pola tindak masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

"Sehingga perlu edukasi kepada masyarakat dalam menata kelola informasi yang diperoleh," kata Staf Ahli Kominfo ini.

Hal senada disampaikan Head of Center of Excellence Policy and Technology Ethic Telkom University, Dr Helni Mutiarsih Jumhur. Bahwa rekam jejak digital ini harus menjadi hal yang mendapat perhatian khusus masyarakat. Terlebih dalam sejumlah kasus yang dia temukan, masalah rekam jejak digital ini terjadi akibat kesengajaan maupun ketidaksengajaan.

"Untuk itu, self awareness menjadi kunci agar kita terhindar dari masalah terkait rekam jejak digital," tegasnya.

Helni kemudian mencontohkan salah satu mahasiswanya yang memiliki nilai tinggi, lulus cumlaude, dan sudah lolos tes kerja di sebuah perusahaan ternama. Tapi dia akhirnya gagal gara-gara terlalu sering komentar di media sosial. Sehingga perusahaan tersebut menilai dia sebagai provokator.

"Yang paling penting adalah dalam rekam jejak digital, kita harus punya standar diri, screening dari diri kita sendiri. Sebagus apapun regulasinya, sebagus apapun teknologinya, tapi kalau perilaku kita tidak baik akhirnya akan merugikan," tandasnya.

Gunakan waktu untuk literasi digital lebih banyak, bukan hanya sekadar bermain di media sosial.

Populer

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

Jokowi Lebih Jago dari Shah Ruh Khan soal Main Drama

Senin, 23 Februari 2026 | 03:31

Kecelakaan Moge di Kulon Progo, Istri Bos Rokok HS Meninggal

Senin, 02 Maret 2026 | 18:54

PKB Kutuk Pembunuhan Ali Khamenei dan Desak PBB Jatuhkan Sanksi ke Israel-AS

Minggu, 01 Maret 2026 | 18:07

UPDATE

Pelajar Islam Indonesia Kutuk Trump dan Netanyahu

Rabu, 04 Maret 2026 | 10:08

Prabowo Tunjukkan Soliditas Elite Lewat Pertemuan dengan Mantan Presiden

Rabu, 04 Maret 2026 | 10:08

Bupati Pekalongan Dikabarkan Telah Jadi Tersangka Dugaan Benturan Kepentingan PBJ

Rabu, 04 Maret 2026 | 09:45

Masihkah Indonesia Konsisten dengan Politik Luar Negeri Bebas Aktif?

Rabu, 04 Maret 2026 | 09:43

KPK Buka Peluang Periksa BPN Depok soal Suap Lahan PT KD

Rabu, 04 Maret 2026 | 09:38

Irak Ikut Pangkas Produksi, Harga Minyak Makin Naik

Rabu, 04 Maret 2026 | 09:21

Pertemuan Elite jadi Cara Prabowo Redam Polarisasi Politik

Rabu, 04 Maret 2026 | 09:15

Bursa Asia Anjlok, Kospi Jatuh Paling Dalam

Rabu, 04 Maret 2026 | 08:51

Harga Emas Dunia Terkoreksi Gara-gara Dolar AS

Rabu, 04 Maret 2026 | 08:41

Menaker Tetapkan Tenggat BHR Ojol 2026: Paling Lambat H-7 Lebaran

Rabu, 04 Maret 2026 | 08:26

Selengkapnya