Berita

Presiden China, Xi Jinping berjabat tangan dengan mantan presiden Taiwan Ma Ying-jeou di Aula Besar Rakyat di Beijing pada Rabu, 10 April 2024/Net

Dunia

Xi Jinping Ngotot Penyatuan China-Taiwan Tidak Bisa Dicegah

KAMIS, 11 APRIL 2024 | 12:34 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Sebuah pertemuan digelar antara Presiden China Xi Jinping dengan mantan Presiden Taiwan Ma Ying-jeou di Aula Besar Rakyat Beijing, pada Rabu (10/4).

Dalam kesempatan itu, Xi menegaskan gagasannya tentang penyatuan China dengan Taiwan yang menurutnya tidak akan terelakkan, walaupun ada campr tangan pihak luar.

“Campur tangan eksternal tidak dapat menghentikan tren historis reuni negara dan keluarga,” ujar Xi kepada Ma, seperti dimuat Asia One.


Intervensi luar yang dimaksud Xi adalah dukungan negara-negara Barat seperti Amerika Serikat kepada Taiwan, khususnya penjualan senjata yang membuat Beijing marah.

"Tidak ada dendam yang tidak dapat diselesaikan, tidak ada masalah yang tidak dapat dibicarakan, dan tidak ada kekuatan yang dapat memisahkan kita,"tegasnya.

Tidak ada pemimpin Taiwan yang pernah datang ke China sejak kalah dari komunis Mao Zedong pada tahun  1949.

Tetapi Ma yang menjabat tahun 2008-2016, tahun lalu menjadi mantan pemimpin Taiwan pertama yang mengunjungi China.

Pertemuan terbaru dengan Xi merupakan perjalanan kedua yang dilakukan Ma di Beijing, di tengah ketegangan yang memanas di selat tersebut.

Dalam kesempatan itu, Ma mengatakan kepada Xi bahwa ketegangan telah menimbulkan kegelisahan bagi banyak warga Taiwan.

“Jika terjadi perang antara kedua belah pihak, hal ini tidak akan tertahankan bagi masyarakat China," ujar Ma mengacu pada orang-orang yang beretnis Tionghoa dan bukan kebangsaan mereka.

Menanggapi pertemuan tersebut, Dewan Urusan Daratan Taiwan cukup prihatin karena Ma tidak tegas menyampaikan desakan rakyat Taiwan untuk mempertahankan kedaulatan dan sistem demokrasi mereka pada China.

"Beijing harus berhenti mengintimidasi Taiwan dan menyelesaikan perbedaannya dengan Taipei melalui dialog yang penuh hormat dan rasional," tegas Dewan tersebut dalam sebuah pernyataan.

Ma masih menjadi anggota senior partai oposisi utama Taiwan, Kuomintang (KMT), yang pada bulan Januari kalah dalam pemilihan presiden untuk ketiga kalinya berturut-turut, namun tidak memiliki jabatan resmi di partai tersebut.

KMT menganjurkan hubungan dekat dengan China dan dialog damai, namun menyangkal keras bahwa mereka pro-Beijing.

Populer

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

Inilah Bupati Sitaro Chyntia Ingrid Kalangit yang Diborgol Kejati

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:09

Tetangga Sudah Mendahului, Indonesia Masih Berpidato

Jumat, 15 Mei 2026 | 05:30

UPDATE

Virus Hanta, Politik Ketakutan, dan Bayang-Bayang Bisnis Kesehatan Global

Selasa, 19 Mei 2026 | 06:22

Bocah di Tapteng Diduga Dipukuli Ayahnya Gegara Telat Pulang

Selasa, 19 Mei 2026 | 06:00

Jokowi dan Relawan Bersiap Blusukan

Selasa, 19 Mei 2026 | 05:42

DPRD DKI Geber Ranperda RPPLH dan Pembangunan Keluarga

Selasa, 19 Mei 2026 | 05:19

MUI: Penangkapan Aktivis Sumud Flotilla Bentuk Ketakutan Israel

Selasa, 19 Mei 2026 | 05:04

Evaluasi Otsus Papua!

Selasa, 19 Mei 2026 | 04:47

Arinal Djunaidi Ajukan Praperadilan ke PN Tanjungkarang

Selasa, 19 Mei 2026 | 04:11

Beruang Liar Serang Petani Sawit di Musi Rawas

Selasa, 19 Mei 2026 | 04:08

Pramono Klaim Arena Ring Tinju Bikin Tawuran Turun Drastis

Selasa, 19 Mei 2026 | 03:26

Tiket Kereta Daop 2 Bandung Laris Manis Selama Libur Panjang

Selasa, 19 Mei 2026 | 03:15

Selengkapnya