Berita

Bisnis

Avendus Capital: Hidrogen Hijau India Tarik Investasi 125 Miliar Dolar AS

SELASA, 09 APRIL 2024 | 02:09 WIB | LAPORAN: JONRIS PURBA

Bahan bakar ramah lingkungan, Hidrogen Hijau (GH2) dan amonia hijau, yang dianggap sebagai sumber energi masa depan secara global, berpotensi menarik investasi sebesar 125 miliar dolar AS di India pada tahun 2030.

Demikian antara lain isi laporan Avendus Capital bertema "Hidrogen Ramah Lingkungan, Garis Depan dalam Transisi Energi" yang baru-baru ini dirilis. Penelitian ini menyoroti bahwa lonjakan penggunaan bahan bakar ramah lingkungan akan didorong oleh peningkatan fokus pada keberlanjutan, kelayakan ekonomi, dan inisiatif pemerintah yang mendorong pemanfaatan bahan bakar ramah lingkungan melalui peraturan yang ketat, lapor kantor berita ANI.

GH2 yang dihasilkan melalui elektrolisis air menggunakan energi yang bersumber dari energi terbarukan, menonjol karena tidak adanya emisi gas rumah kaca.


Di seluruh dunia, terdapat penelitian yang bertujuan memanfaatkan hidrogen hijau sebagai bahan bakar untuk membantu negara-negara mencapai tujuan emisi nol bersih mereka.

Menurut laporan Avendus Capital, hidrogen hijau semakin kompetitif dibandingkan metode produksi yang ada.

Meskipun terjadi penurunan biaya produksi sebesar lebih dari 40 persen selama delapan tahun terakhir, kelayakan komersialnya masih terbatas karena biaya yang relatif tinggi.

India memiliki permintaan hidrogen tahunan sebesar hampir 6MMTPA, menempatkan dirinya sebagai konsumen hidrogen global terbesar ketiga.

Selain itu, negara ini menonjol sebagai salah satu produsen listrik terbarukan yang paling hemat biaya secara global, memiliki sumber air yang melimpah, dan menjadi pusat manufaktur global yang terkemuka.

Faktor-faktor ini merupakan elemen penting yang memungkinkan produksi hidrogen ramah lingkungan dengan harga bersaing.

Dalam upaya untuk mendorong industri hidrogen ramah lingkungan, pemerintah India telah memperkenalkan insentif untuk produksi elektroliser dan hidrogen ramah lingkungan melalui inisiatif seperti skema Production Linked Incentive (PLI), dengan investasi melebihi 2,4 miliar dolar AS.

Berbagai insentif lain telah diumumkan di bawah Misi Hidrogen Nasional, sementara pemerintah negara bagian menawarkan dukungan tambahan untuk mendukung ekosistem hidrogen hijau.

Tender baru-baru ini di bawah program seperti Solar Energy Corporation of India (SECI) menyaksikan keterlibatan banyak perusahaan terkemuka India di seluruh rantai nilai hidrogen ramah lingkungan.

Beberapa produsen elektroliser global, termasuk John Cockerill, Stiesdal, dan Ohmium, telah memulai rencana hidrogen ramah lingkungan mereka di India melalui usaha patungan dan kemitraan strategis.

Negara-negara Eropa dan Jepang, yang kekurangan sumber daya untuk produksi hidrogen ramah lingkungan dengan biaya yang kompetitif, sedang merancang rencana impor dan membangun infrastruktur yang berfokus pada impor di dekat pelabuhan.

India, dengan biaya produksi yang relatif lebih rendah, kedekatan geografis dengan negara-negara pengimpor, dan infrastruktur ekspor yang mapan, semakin dipandang sebagai pusat hidrogen ramah lingkungan yang signifikan.

Pemerintah India telah mengalokasikan tiga pusat hidrogen/amonia ramah lingkungan di dekat pelabuhan Kandla, Paradip, dan Tuticorin.

Banyak pemain di sektor hidrogen ramah lingkungan menjalin kemitraan strategis dengan fasilitas amonia yang ada di dekat pelabuhan untuk memenuhi permintaan ekspor dan juga mengembangkan pengaturan offtake yang berorientasi ekspor.

Populer

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Rakyat Lampung Syukuran HGU Sugar Group Companies Diduga Korupsi Rp14,5 Triliun Dicabut

Kamis, 22 Januari 2026 | 18:16

Kasi Intel-Pidsus Kejari Ponorogo Terseret Kasus Korupsi Bupati Sugiri

Rabu, 21 Januari 2026 | 14:15

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Eggi Sudjana Kerjain Balik Jokowi

Selasa, 20 Januari 2026 | 15:27

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

Mantan Relawan: Jokowi Takut Ijazahnya Terungkap di Pengadilan

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:06

UPDATE

Mahkota Peradaban adalah Kemanusiaan

Senin, 26 Januari 2026 | 17:59

Thomas Djiwandono Ulas Arah Kebijakan Ekonomi di Hadapan DPR

Senin, 26 Januari 2026 | 17:49

Pemkab Bekasi Larang Developer Bangun Rumah Baru

Senin, 26 Januari 2026 | 17:46

Pengamat: SP3 Eggi Sudjana Perlu Dikaji Ulang

Senin, 26 Januari 2026 | 17:31

Adies Kadir Diusulkan jadi Calon Hakim MK Gantikan Arief Hidayat

Senin, 26 Januari 2026 | 17:26

Oknum TNI AL Pengeroyok Buruh di Talaud Bakal Ditindak Tegas

Senin, 26 Januari 2026 | 17:13

KLH Tunggu Langkah Kementerian Lain soal Pencabutan Izin 28 Perusahaan

Senin, 26 Januari 2026 | 16:58

Noel Ebenezer Ingatkan Purbaya: Ada Pesta Bandit Terganggu

Senin, 26 Januari 2026 | 16:53

Longsor Watukumpul

Senin, 26 Januari 2026 | 16:51

Habiburokhman: Rekomendasi DPR kepada Polri Bersifat Mengikat

Senin, 26 Januari 2026 | 16:42

Selengkapnya