Berita

Ilustrasi Foto/Net

Publika

Omon-omon SENA

Oleh: Agnes Marcellina*
RABU, 13 MARET 2024 | 05:35 WIB

SENA (Seafood Expo North America) adalah pameran seafood terbesar di Amerika Serikat yang dihadiri oleh ribuan orang, tahun 2023 mencapai angka 18.900 orang dari seluruh dunia yang bergerak di bidang perikanan termasuk saya yang juga hadir dan berpameran dalam perhelatan besar tersebut di bulan Maret 2024 mulai tanggal 10-12.

Flashback ke belakang 19 tahun lalu, saat itu saya menjabat sebagai Sekjen APCI (Asosiasi Pengusaha Coldstorage Indonesia) adalah yang pertama kali menginisiasi adanya Pavilion Indonesia dan mewakili perusahaan-perusahaan perikanan Indonesia untuk berpartisipasi dalam pameran tersebut yang waktu itu namanya adalah BSS (Boston Seafood Show) tapi kemudian berubah nama beberapa tahun lalu menjadi SENA.

Setelah tahun pertama 2015, tahun berikutnya Pavilion Indonesia hadir dengan beberapa perusahaan dan tahun tahun selanjutnya penyelenggara Pavilion Indonesia diambil alih oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia. Sejak saat itu sampai sekarang Pavilion Indonesia secara konsisten hadir bersama dengan negara negara Asia lainnya sebagai negara pengekspor hasil perikanan.


Selama 20 tahun saya hampir selalu hadir di pameran tersebut setiap tahunnya kecuali saat pandemi Covid-19.

Tentu kita harus berbangga bahwa pemerintah mendukung pengusaha perikanan dengan mengkoordinasi acara tersebut tetapi dukungan tersebut tidak cukup dilakukan di hilir saja tetapi harus mulai dari hulu. Supporting system harus mulai dari hulu ke hilir.

Tidak cukup pemerintah hanya memimpikan, menginginkan dan menyampaikan angka angka dalam volume maupun hitungan devisa yang sangat fantastis dan kenaikan berkali kali lipat yang akan dilakukan dalam waktu 5 tahun kalau tanpa adanya upaya konsolidasi dengan seluruh pemangku kepentingan. Jika seperti itu maka namanya cuma omong kosong alias omon-omon.

Langkah strategis, terarah, terukur dan fokus dengan semua pihak harus dilakukan dan yang lebih penting lagi adalah pemerintah sebagai pemangku kebijakan janganlah membuat peraturan peraturan yang aneh aneh yang  justru membuat perikanan kita malah mundur ke belakang dan bukan maju ke depan.

Indonesia sebagai negara maritim terbesar dengan laut terpanjang di dunia dan lain lain sering sekali kita dengar dari para pejabat yang berpidato, so what? Hasilnya apa? Apakah berkat alam tersebut sudah mensejahterakan nelayan? Memakmurkan Indonesia? Rasanya belum!

Pucuk pimpinan di Kementerian Kelautan dan Perikanan seyogyanya adalah harus orang yang mengerti, memahami dan orang yang tepat jika kita ingin benar benar memajukan bangsa ini di bidang kelautan dan perikanan. Bukan hanya sekedar orang yang ditunjuk dari partai politik tanpa latar belakang sama sekali.

Semoga Presiden yang akan dilantik Oktober 2024 nanti memilih the right man on the right place di semua pucuk pimpinan kementerian. Jika tidak maka ekonomi Indonesia hanya akan berjalan di tempat dan slogan mensejahterakan dan memakmurkan bangsa dan negara hanya menjadi indah dalam tulisan dan merdu dalam pidato.

Pada tahun 2019-2020 saya sempat berada dalam team penasehat MKP bersama dengan 13 orang lainnya. Ada perwakilan akademisi berbagai universitas khususnya Fakultas Perikanan, ada ahli komunikasi publik, ada ahli kemaritiman, ahli hukum dan saya sendiri mewakili dunia usaha. Tim tersebut sebenarnya sangat bagus dalam rangka memberikan khazanah dari berbagai perspektif untuk MKP (Menteri Kelautan dan Perikanan) tetapi sayangnya pada saat pergantian MKP yang baru, team tersebut ditiadakan dan MKP baru mungkin menganggap bahwa hal tersebut tidak diperlukan. Sayang sekali.

Perikanan Indonesia yang saat ini tidak sedang dalam keadaan baik baik saja dengan berbagai tantangan yang harus dihadapi tapi ayo semangat kita melakukan perubahan. Salam Indonesia Maju.

*Penulis adalah pelaku usaha perikanan Indonesia

Populer

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Rayakan HUT Perusahaan Lewat Santunan Anak Yatim

Kamis, 09 Juli 2026 | 01:59

Polisi Geledah Rumah terkait Kasus Dugaan Korupsi Kejagung, 74 Kg Emas Diamankan

Kamis, 09 Juli 2026 | 01:40

Ketahanan Energi Indonesia Masih Pincang Tanpa Ada Cadangan Strategis

Kamis, 09 Juli 2026 | 01:12

Polisi Geledah 12 Titik Kasus Korupsi, Rumah Mewah Jampidsus Tidak Termasuk

Kamis, 09 Juli 2026 | 00:50

Peradi Profesional Catat Rekor Kerja Sama dengan 112 Perguruan Tinggi

Kamis, 09 Juli 2026 | 00:45

IPW Dukung Polri Usut Dugaan Korupsi di Lingkungan Kejagung

Kamis, 09 Juli 2026 | 00:26

Yogyakarta dan Takdir Dirgantara

Kamis, 09 Juli 2026 | 00:01

Kritik terhadap Pemerintah Bagian dalam Kehidupan Demokrasi

Rabu, 08 Juli 2026 | 23:41

Pertamina Berdayakan Difabel Kampung Rajut Inspirasi Green Warrior Bandung

Rabu, 08 Juli 2026 | 23:18

Polisi Sita Uang Miliaran Rupiah Usai Geledah Kafe dan Money Changer di Cipete

Rabu, 08 Juli 2026 | 23:14

Selengkapnya