Berita

Demo mahasiswa di Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu (28/2)/Net

Publika

Permintaan Menurunkan Harga Bahan Pokok

KAMIS, 29 FEBRUARI 2024 | 09:14 WIB | OLEH: DR. IR. SUGIYONO, MSI

MAHASISWA dari Rawamangun bersama sebagian kecil rakyat melakukan kegiatan demonstrasi turun ke jalan-jalan di sekitarnya. Ada dua aspirasi tuntutan besar yang mereka teriak-teriakan. Pertama adalah turunkan harga-harga bahan pokok. Kedua adalah turunkan Joko Widodo.
 
Sebelum demonstrasi tadi, beberapa hari sebelumnya dan sekalipun DPR RI masih sedang reses, terjadi demonstrasi dari kelompok kepentingan emak-emak. Mereka juga meneriakkan aspirasi untuk menurunkan harga-harga bahan pokok.

Kedua aspirasi demonstrasi tadi sungguh berbeda dengan aspirasi kelompok elite kepentingan. Mereka ini adalah elite orang-orang dari kalangan kelompok kepentingan pendukung paslon yang kalah dalam pilpres hasil hitung cepat dan perhitungan perkembangan real count KPU posisi terbaru.


Aspirasi elite ini adalah menolak distribusi bansos, terutama untuk periode sebelum pemilu 14 Februari 2024. Elite berkepentingan menolak kepala negara dan kepala pemerintahan yang sedang menjalankan amanat UU APBN untuk memberikan bansos kepada penduduk miskin.

Bansos ketika terjadi laju inflasi tinggi pada kenaikan harga makanan pokok beras dan bahan pokok lainnya. Bansos yang dipolitisasi.

Sungguh tidak mengherankan jika kelompok kepentingan elite dari paslon pilpres kemudian kalah telak. Hal itu ketika aspirasi elite sangat berbeda kepentingan dengan aspirasi penduduk miskin.

Penduduk yang senantiasa menggantungkan diri kepada bala bantuan dari kepala negara dan kepala pemerintahan. Bansos untuk mendapatkan makanan pokok beras dan sebagian bantuan langsung tunai (BLT) guna membeli bahan pokok lainnya, yang harganya sedang naik tinggi.

Juga bertentangan dengan aspirasi kedua kelompok kepentingan demonstran di atas, yang meminta harga bahan pokok turun. Demikian pula untuk masyarakat yang membutuhkan operasi pasar beras murah dan sembako lainnya.

Sementara itu aspirasi untuk menurunkan Joko Widodo adalah sama dengan aspirasi dari kelompok kepentingan Petisi 100. Memang 1-2 orang dari Petisi 100 beraktivitas sama lingkungan dengan mahasiswa Rawamangun. Akibatnya adalah aspirasi untuk menurunkan presiden itu sama sebangun dengan sebagian dari tuntutan mahasiswa demonstran di atas.

Kembali ke urusan kenaikan laju inflasi. Sesungguhnya laju inflasi di Indonesia sebesar 2,6 persen per tahun 2023 (Bank Indonesia, 2024).

Inflasi di Indonesia sebenarnya tergolong rendah jika dibandingkan laju inflasi di Turki yang sebesar 62,7 persen, Rusia sebesar 7,2 persen, Afrika Selatan sebesar India sebesar 5,4 persen, Inggris dan Prancis sebesar 4,2 persen, dan Australia sebesar 4,1 persen, bahkan jika dibandingkan terhadap Amerika Serikat yang sebesar 3,2 persen per tahun 2023.

Akan tetapi, persoalan laju inflasi yang membuat mahasiswa dan sebagian rakyat melakukan demonstrasi adalah kenaikan laju inflasi yang sebesar 5,84 persen year on year posisi Januari 2024 untuk kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau (BPS, 2024).

Komoditas pada kelompok pengeluaran tersebut adalah beras, bawang putih, tomat, cabai merah, daging ayam ras, gula pasir, rokok, kopi bubuk, air kemasan. Di luar kelompok pengeluaran yang juga mempunyai andil besar inflasi adalah sewa rumah, kontrak rumah, uang kuliah, nasi dengan lauk, dan ayam goreng.

Kelompok pengeluaran tadi berkaitan sangat erat dengan kepentingan mahasiswa yang melakukan  demonstrasi, karena mahasiswa tidak tahan oleh kenaikan laju inflasi komoditas pokok.

Demikian pula dengan demonstran dari kalangan emak-emak, yang setiap hari sibuk mengurangi asupan gizi rumah tangga dari kalangan kelompok kepentingan penduduk kelas menengah ke bawah lapisan bawah.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Pengajar Universitas Mercu Buana

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

UPDATE

Elite NU Harus Setop Jadikan Warga Nahdliyin Objek Politik Praktis

Rabu, 02 September 2026 | 01:48

Gus Alex Pernah Setor Pansus Haji DPR Lewat Teman Nusron Wahid, Segini Besarnya

Rabu, 02 September 2026 | 01:21

Raja Juli: Presiden Prabowo Pemimpin Tegas dalam Atasi Karhutla

Rabu, 02 September 2026 | 01:02

Setoran ke Ditjen Imigrasi Didalami KPK Lewat Pemeriksaan Staf KJRI Kuching

Rabu, 02 September 2026 | 00:47

Skema BLU Berisiko Tambah Beban Birokrasi Tata Kelola Sektor Energi

Rabu, 02 September 2026 | 00:23

Harga Pertamax Green 95 Disesuaikan dan Mulai Berlaku 2 September 2026

Rabu, 02 September 2026 | 00:01

Menko Polkam Ajak Seluruh Sektor Serius Tangkal DFK di Medsos

Selasa, 01 September 2026 | 23:40

BP Batam Pilih Tak Bergantung dengan APBN

Selasa, 01 September 2026 | 23:18

Lobi Fuad Hasan Masyhur Berujung Persetujuan Jokowi soal Tambahan Kuota Haji 2022

Selasa, 01 September 2026 | 23:15

Dua Tahun Kabinet Merah Putih, Sandiaga Uno Dinilai Layak Masuk Kabinet

Selasa, 01 September 2026 | 22:29

Selengkapnya