Berita

Partai Demokrat/Net

Politik

Moeldoko-AHY Tampak Asyik, Kudeta Demokrat Dipersepsikan Gimik Politik

SELASA, 27 FEBRUARI 2024 | 09:30 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Eksperimen politik yang dilancarkan Kepala Staf Kepresiden (KSP) Moeldoko untuk mengkudeta Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dari posisi Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat akhirnya dipersepsikan sebagai gimik politik. Hal itu dapat terbukti ketika melihat peristiwa politik belakangan ini.

Menurut pengamat politik dari Motion Cipta Matrix, Wildan Hakim, kudeta Moeldoko atas kepemimpinan AHY di Partai Demokrat merupakan masalah serius di ranah hukum. Mengingat, dalam kudeta tersebut Moeldoko melakukan langkah serius dari sisi hukum. Seandainya kudeta itu berhasil, besar kemungkinan kartu politik AHY mati dan sosoknya tidak akan masuk ke dalam kabinet seperti sekarang.

"Upaya merebut jabatan Ketua Umum Partai Demokrat dari tangan AHY itu merupakan tindakan serius. Moeldoko butuh energi dan nyali yang besar untuk bisa melaksanakannya. Namun perlu diperiksa ulang, seberapa besar peluang Moeldoko untuk bisa merebut Partai Demokrat," kata Wildan kepada Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (27/2).


Wildan menilai, langkah Moeldoko untuk menjadi Ketum Partai Demokrat merupakan eksperimen politik. Secara teknis, peluang Moeldoko untuk jadi Ketum Demokrat terbilang kecil. Mengingat, Demokrat dikendalikan langsung Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebelum tampuk ketum diserahkan langsung kepada AHY.

"Dengan kondisi seperti itu, aksi Moeldoko beberapa waktu lalu itu sebatas drama yang kemudian jadi bahan berita. Efeknya bagus bagi Partai Demokrat," kata Wildan.

Menurut Wildan, nama Demokrat menjadi bahan pemberitaan hingga isu nasional. Langkah berani Moeldoko sebagai Kepala KSP juga tidak ditegur Presiden Jokowi. Padahal, Moeldoko itu merupakan bagian dari para pembantu Jokowi.

"Kontroversi atau polemik yang muncul seolah memberi panggung bagi AHY untuk unjuk aksi membangun solidaritas partai," kata Wildan.

Kini, kata dosen ilmu komunikasi Universitas Al Azhar Indonesia ini, dengan bergabungnya Demokrat ke koalisi pendukung Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, membuat situasinya berubah total.

"Terlebih ketika Jokowi memasukkan AHY ke dalam kabinetnya di bulan-bulan terakhir. Eksperimen politik yang dilancarkan Moeldoko akhirnya dipersepsikan sebagai gimik politik. Terbukti, pada saat Moeldoko dan AHY bersua mereka terlihat asyik," tutur Wildan.

Apalagi, kata Wildan, selama masa-masa kudeta Demokrat dulu, Moeldoko dan AHY tidak pernah bertemu muka secara langsung. Keduanya hanya saling adu pantun yang kemudian menjadi komoditas berita.

"Aroma kontroversi antara kedua nama ini memang ada. Tapi tetap dirancang agar tidak emosional. Mungkin begitulah tradisi politikus Indonesia, harus ada drama-dramanya," pungkas Wildan.


Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Keempat Kalinya Indonesia Jadi Tuan Rumah PENSA 2026

Minggu, 25 Oktober 2026 | 00:25

OMC Bantu Sejukkan Jakarta

Minggu, 25 Oktober 2026 | 00:02

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

TVRI dan PIM Jajaki Kolaborasi Angkat Kiprah Perempuan Indonesia

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:23

KNMP Kota Sorong Buka Peluang Pasar bagi Nelayan Lokal

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:00

Modal Asing Kabur Imbas Sentimen MSCI, BI Jamin Likuiditas Rupiah Memadai

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:44

Kapal Asal Malaysia Bawa 1,16 Ton Ketamin, Dasco Tegaskan Jaga Generasi Muda

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:16

BSI Himpun Dana Tabungan Haji Rp18 Triliun, Nasabah Gen Z Naik 30 Persen

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:15

Wilayah Berdekatan, Mengapa Jakarta Lebih Panas Saat Bogor Masih Diguyur Hujan?

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:03

KemenHAM Tampilkan Peta Pemenuhan Hak Dasar Hingga Tingkat Desa Berbasis Digital

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 18:35

Selengkapnya