Berita

Ilustrasi Foto/Net

Publika

Negara, Pemilu dan Kapitalisme

Oleh: Suroto*
JUMAT, 23 FEBRUARI 2024 | 06:21 WIB

MEMINJAM alat analisis yang digunakan kaum Marxist–negara adalah pelayan bagi kepentingan kelompok yang dominan.

Negara yang dikuasai secara  dominan oleh segelintir elite kaya kapitalis, maka negara itu dibuat agar menguntungkan kepentingan mereka.

Di negara yang mempraktikkan sistem kapitalis, perangkat-perangkat negara, aparatus, seluruh produk perundang-undangan, kebijakan, program,  lembaga-lembaga, bahkan struktur sosial kemasyarakatannya  disusun agar memberikan dukungan bagi kepentingan, atau setidaknya jangan sampai mengancam keberlangsungan istana bisnis mereka.


Indonesia, yang dalam praktik politik, sosial dan ekonominya  menerapkan sistem kapitalisme (baca: kapitalisme pinggiran) maka segala peraturannya juga mesti mengikuti selera para elite kaya kapitalis. Semua dibuat agar dapat menjamin sistem perusahaan persero kapitalis yang menempatkan kekuasaan modal finansial sebagai alat penentu nasib orang banyak tetap supreme, menjadi yang utama.

Cara kerja negara dan pola hubungan yang dibangun sepenuhnya harus menguntungkan kepentingan mereka. Agar mereka tetap dapat terus mengeksploitasi terhadap tenaga manusia dan alam untuk mengejar keuntungan serta menumpuk kekayaan demi penuhi hasrat keserakahan mereka.

Peraturan sistem Pemilu dan politik pada umumnya harus mengikuti selera para kapitalis tersebut. Pada intinya agar mereka dapat mengontrol kepentingan mereka melalui hasil dari Pemilu, yaitu melalui pemimpin pemimpin yang lemah, oportunis, nir ethik dapat disetir oleh kepentingan para kapitalis.

Awalnya, cara paling jitu adalah ciptakan sistem partai yang lemah dalam memperjuangkan kepentingan ideologi mereka. Kemudian menciptakan sistem Pemilu yang ultra liberal.

Sistem partai dibuat agar lemah dalam membangun demokrasi di organisasinya. Atas nama  kebebasan dan demokrasi, partai dibuat agar dapat dikuasai sepenuhnya oleh kepentingan para dinasti feodal dan pemilik kapital besar.

Aturan partai dibuat selonggar-longgarnya untuk memungkinkan bagi mereka yang hanya haus kekuasaan berkuasa di dalamnya, selama-lamanya. Platform partai dibuat agar jadi semacam alat pidato demagogi yang penuh bualan semata.

Kader-kader andal yang memungkinkan mereka untuk berjuang penuh dedikasi, demi kepentingan ideologi disingkirkan. Partai-partai itu untuk menutup kepentingan elektoralnya hanya mensyaratkan dua hal penting. Calon-calon anggota legislatif dan eksekutifnya dipilih dalam dua basis kelompok saja, mereka yang punya modal finansial dan popularitas semata.

Mereka yang datang di partai membawa modal finansial dan manusia manusia yang hanya dihidupkan oleh popularitas jadi prioritas utama partai. Aspirasi rakyat konstituen yang berada di tangan anggota militan partai yang bekerja untuk kepentingan memperjuangkan kepentingan rakyat diabaikan. Mereka yang tak berjerih payah di partai boleh datang setiap saat untuk memborong kursi partai untuk duduk di jabatan publik semacam legislatif dan eksekutif.

Sebuah Undang-undang Pemilu di negara kapitalis itu disusun agar tidak merusak kepentingan para kepentingan kapitalis. Makannya dibuatlah sistem Pemilu terbuka dan liberal agar anggota partai gasak gasakan memperebutkan suara dan bukan untuk perjuangkan kepentingan dan platform partai mereka.

Pemilu dibuat agar kepesertaan rakyat menjadi semacam formalistis semata. Agar demokrasi seakan akan hadir dan nyata. Namun  calon-calon anggota legislatif dan eksekutifnya ditentukan secara tertutup oleh elite kaya dan elite politik partai sebelum musim pemilu dibuka.

Kenyataan ini dapat kita lihat hasilnya di lapangan. Mereka yang hanya andalkan kekuatan keuangan dan kekuatan popularitas semata yang diunggulkan partai. Hasil Pemilu adalah hasil saringan dari keluarga elite feodal. Partai politik yang memimpin, yang menguasai kursi parlemen dan jabatan eksekutif adalah hanya kepanjangan tangan dari kepentingan elite kaya.

Hasil akhirnya, negara hanya alat bagi kepentingan elite kaya. Pejabat publik sesungguhnya hanya berisi para begundal kapitalis yang menutup  muka mereka dengan topeng janji-janji dan slogan harapan tentang kemakmuran dan keadilan bagi rakyat semesta. Mereka berubah jadi antek kepentingan kapitalis nasional dan global semua.

Para kapitalis itu terus tetap melanggengkan monopoli bisnis dengan kekuatan kapitalnya. Suara rakyat lagi-lagi hanya jadi nyanyian koor mereka yang tidur mendekur di Senayan dan istana yang suka berpesta pora ketika rakyatnya hidup menderita.

*Penulis adalah Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES)

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Beruang di Istana

Kamis, 30 April 2026 | 12:14

Rincian 13 Proyek Hilirisasi Bernilai Rp116 Triliun yang Baru Diresmikan Prabowo

Kamis, 30 April 2026 | 11:56

KPK Periksa Pejabat Pemkot Madiun dalam Kasus Dugaan Pemerasan Wali Kota Maidi

Kamis, 30 April 2026 | 11:43

Menteri PPPA Disorot Usai Minta Maaf, Dinilai Perlu Tingkatkan Sensitivitas dan Komunikasi Publik

Kamis, 30 April 2026 | 11:27

Arab Saudi Beri Asuransi Khusus Risiko Panas Saat Puncak Haji

Kamis, 30 April 2026 | 11:06

Bangkit dari Kubur! Friendster Sang Pelopor Medsos Resmi Kembali di 2026

Kamis, 30 April 2026 | 11:05

Hasil Komunikasi Dasco dengan Presiden Prabowo, Pemerintah Siapkan Rp 4 Triliun Perbaiki Perlintasan Kereta Api

Kamis, 30 April 2026 | 11:02

Harga Emas Antam Ambruk ke Rp2,7 Juta per Gram di Akhir Bulan

Kamis, 30 April 2026 | 10:50

Suami Bupati Pekalongan Dicecar KPK soal Aliran Uang Perusahaan Keluarga

Kamis, 30 April 2026 | 10:45

Prabowo Dijadwalkan Hadiri Puncak Hari Buruh di Monas Besok

Kamis, 30 April 2026 | 10:28

Selengkapnya