Berita

Dewan Guru Besar Universitas Indonesia/RMOL

Publika

Suara Kampus, Bangkitnya Generasi 2024?

OLEH: Dr NAZAR NASUTION*
JUMAT, 09 FEBRUARI 2024 | 13:46 WIB

GELOMBANG protes, petisi dan deklarasi yang disuarakan oleh para guru besar, akademisi maupun mahasiswa di Indonesia akhir-akhir ini merupakan suatu gerakan moral yang spontan, menyuarakan hati nurani rakyat. Diawali dengan kampus UGM, almamater Jokowi, dilanjutkan oleh kampus UI, Unpad, Unhas, Unand, UII, UMY, UIN Syarif Hidayatullah, dan seterusnya.

Benteng Terdepan Demokrasi

Gerakan ini mencerminkan kegelisahan dari kalangan kampus, yang merupakan benteng terdepan dari demokrasi, sehingga mereka terpanggil untuk melakukan koreksi terhadap berbagai penyimpangan dan penyelewengan terhadap konstitusi 1945, yang dipraktikan oleh Jokowi, pimpinan eksekutif, penguasa negara ini.


Ada beberapa masalah pokok yang disuarakan. Pertama, berbagai penyimpangan dan penyelewengan yang terjadi di depan mata rakyat Indonesia, yang merupakan tindakan tidak mengindahkan aturan konstitusional yang berlaku.

Kedua, ungkapan yang disuarakan merupakan sikap murni dari kalangan cendekiawan, yang mewakili kelompok yang bertanggung jawab dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, seperti diamanatkan oleh konstitusi.

Ketiga, sikap tersebut sekaligus mencerminkan suara dari akar rumput yang selama ini terkesan diam, namun memiliki kekuatan karena menyuarakan hati nurani rakyat.
       
Bangkitnya gerakan moral ini adalah juga sebagai dampak tidak berfungsinya lembaga legislatif, seperti DPR/MPR. Menurut konstitusi 1945, sang legislatif sejatinya harus mengimbangi peran eksekutif. Agar terwujud check and balances, yang mencerminkan sistem demokrasi yang sehat.

Berbagai produk penting untuk kepentingan rakyat dan negara dengan mudah disahkan oleh legislatif, seperti UU Omnibus Law, UU IKN, UU Cipta Karya, UU Minerba, dan lain-lain. Adalah tanggung jawab konstitusional bagi penguasa untuk melaksanakan butir-butir yang menjadi tuntutan dari para guru besar dan akademisi dari berbagai kampus di seluruh Indonesia tersebut.

Di sisi lain, gerakan kampus ini juga ditujukan kepada MK dan KPU, akibat kurang profesionalnya kedua lembaga penting tersebut dalam memutuskan kasus seorang warganegara bernama Gibran, putra sulung presiden. Sehingga dengan suatu perlakuan istimewa, telah meloloskannya sebagai cawapres untuk Pemilu 2024.

Keputusan secara tergesa-gesa ini serta merta telah merusak kehidupan berbangsa,  bernegara dan berpemerintahan yang selama ini berusaha untuk dipertahankan. Hingga ditengarai tindakan ini adalah upaya untuk membangun dinasti politik, yang menciderai Indonesia sebagai negara hukum dan demokrasi.

Kesinambungan Generasi 1966, 1998, dan 2024

Bangkitnya generasi 2024 ini mengingatkan kita kepada kebangkitan generasi 1966 dan generasi 1998. Kedua generasi sebelumnya tersebut juga digerakkan dan disuarakan oleh kampus-kampus.

Generasi 1966 melakukan koreksi terhadap rezim Sukarno. Generasi 1966 memperjuangkan Tritura (Turunkan Harga, Rombak Kabinet, Bubarkan PKI), sehingga berakhir dengan pergantian pemerintahan dari Soekarno ke Soeharto serta mencapai klimaksnya dengan dibubarkannya Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 11 Maret 1966.

Adapun Generasi 1998 melakukan koreksi terhadap rezim Soeharto, akibat krisis ekonomi, praktik KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme) serta upaya memaksakan presiden seumur hidup. Suharto, akhirnya lengser pada 21 Mei 1998.

Bagaimana dengan Generasi 2024? Berbeda dengan generasi 1966 dan generasi 1998, maka generasi 2024 ini dihadapkan dengan situasi yang unik. Di satu sisi, mereka menghadapi berbagai penyimpangan terhadap konstitusi 1945, yang dilakukan oleh penguasa berikut aparatnya.

Didukung penuh oleh kalangan pengusaha, kelompok yang banyak diuntungkan oleh kebijakan ekonomi oligarki yang jelas menyimpang dari prinsip-prinsip yang digariskan oleh Pasal 33 UUD 1945.

Di sisi lain, negara saat ini dalam situasi yang hangat dan genting, mengingat hanya seminggu lagi (14 Februari 2024) akan berlangsung pemilu, termasuk pilpres. Kelangsungan Indonesia sebagai negara hukum dan demokrasi dipertaruhkan.

Apakah penguasa akan melakukan koreksi dengan berbagai penyimpangan tersebut? Atau tetap memaksakan berlangsungnya pemilu, termasuk pilpres, yang melibatkan ketiga calon, yaitu paslon 1 (Anies-Muhaimin), paslon 2 (Prabowo-Gibran) serta  paslon 3 (Ganjar-Mahfud).

Apabila koreksi yang dituntut oleh kampus-kampus ini tidak diindahkan, dikhawatirkan hasil pilpres akan cacat dan tidak legitimate. Adalah merupakan harapan dari rakyat Indonesia agar pemilu ini berlangsung secara Luber (langsung, umum, bebas dan rahasia) serta Jurdil (jujur dan adil). Luber tampaknya mudah dilaksanakan, namun apakah akan berlangsung Jurdil (jujur dan adil)?

Wallahu'alam bissawab.
 
*Penulis merupakan Akademisi, Eksponen Angkatan 1966

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Keterlambatan Klarifikasi Eggi Sudjana Memicu Fitnah Publik

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10

DPRD DKI Sahkan Dua Ranperda

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05

Tak Ada Kompromi dengan Jokowi Sebelum Ijazah Palsu Terbongkar

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37

Pernyataan Oegroseno soal Ijazah Jokowi Bukan Keterangan Sembarangan

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22

Bongkar Tiang Monorel

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00

Gus Yaqut, dari Sinar Gemilang hingga Berlabel Tersangka

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44

IPC Terminal Peti Kemas Bukukan Kinerja 3,6 Juta TEUs

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34

Jokowi vs Anies: Operasi Pengalihan Isu, Politik Penghancuran Karakter, dan Kebuntuan Narasi Ijazah

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03

Eggi Sudjana dan Jokowi Saling Puji Hebat

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41

Ketidakpastian Hukum di Sektor Energi Jadi Ancaman Nyata bagi Keuangan Negara

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39

Selengkapnya