Berita

Ratusan mahasiswa ITB saat aksi di depan Gedung Rektorat/Ist

Publika

Kampus Negeri dalam Jerat Pinjol dan Peran Negara

KAMIS, 08 FEBRUARI 2024 | 18:26 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

MIRIS! Kampus perguruan tinggi negeri menyarankan untuk menyelesaikan kewajiban pembayaran biaya perkuliahan dengan menggunakan pinjaman online. Sekilas, usulan yang diajukan sebagai sebuah penyelesaian masalah terlihat benar, meski secara substansi ada lubang besar yang fundamental dari sistem pendidikan kita.

Ketika institusi pendidikan pemerintah, mencari alternatif cara dalam mereduksi potensi gagal bayar mahasiswa dengan menggunakan skema pinjaman lembaga keuangan, tentu ada persoalan yang bisa terbaca di sana.

Jika hal itu terjadi, maka kita luput membicarakan hal pokok dari kebisingan politik kontemporer. Peran negara dipertanyakan, tanggung jawab mencerdaskan anak bangsa adalah amanah yang diemban.


Dalam kerangka finansial, pinjaman peer to peer sebagai bentuk modern lembaga pembiayaan yang terkategori sebagai startup fintech merupakan sebuah terobosan legal dari kebutuhan pembiayaan publik. Tetapi ketika dipadukan dengan kebutuhan biaya pendidikan, maka hal tersebut terlihat memprihatinkan.

Tingkat angka partisipasi kasar pendidikan tinggi kita sekitar 30 persen, tidak banyak berubah dari waktu ke waktu. Bahkan lebih jauh lagi, petinggi negeri menyampaikan kekagetan bila lulusan S2 dan hanya 0,45 persen, jauh tertinggal dari berbagai negara tetangga di sekitarnya.

Kita mafhum bila para penguasa kerap kali kaget terhadap suatu fakta, namun perlu aksi dan komitmen tindakan yang lebih dari sekadar kekagetan.

Pola solusi pembiayaan kuliah dengan mengedepankan fasilitas pinjaman online, semakin menegaskan format komersial pendidikan tinggi di tanah air. Gejala komodifikasi dari perguruan tinggi yang seharusnya menjadi wilayah kelolaan kampus swasta, ternyata merasuk ke kampus negeri, tentu mengecewakan.

Konstruksi dasar dari permasalahan yang terjadi di perguruan tinggi bisa didekati dengan ilustrasi kurva normal, sebuah grafik yang menggambarkan sebaran populasi dalam bentuk bukit dan gunung.

Hal tersebut menjelaskan bahwa sekitar 25 persen di antara publik terbagi dalam dua bagian terujung, yakni mereka yang tergolong mahasiswa cerdas -mampu mengakses beasiswa dan kelompok tertinggal, sementara 75 persen bagian di antaranya merupakan kelompok umum mahasiswa dengan kapasitas kemampuan rerata.

Bila kemudian kita melihat proporsi penerimaan mahasiswa perguruan tinggi negeri saat ini, maka jumlah terbesarnya diperoleh melalui jalur tes mandiri, dengan biaya semester uang kuliah tunggal yang kompetitif berhadapan dengan kampus swasta, dengan keunggulan branding nama besar kampus negeri.

Daya tampung perguruan tinggi negeri juga semakin bertambah, bahkan dapat membuka cabang daerah untuk memperluas ruang kampus, sekaligus menambah secara signifikan jumlah mahasiswa.

Komitmen dari tanggung jawab negara untuk menyediakan anggaran sebesar 20 persen bagi sektor pendidikan seakan tidak terlihat ketika fenomena kasus pinjol di kampus negeri mengemuka. Lantas bagaimana opsi bentuk yang dapat ditawarkan dari mekanisme pembiayaan kuliah yang solutif?

Pertama: mengembalikan peran negara dalam tanggung jawab mencerdaskan generasi masa depan, termasuk meningkatkan persentase jumlah peserta didik di perguruan tinggi.

Komitmen dari penyelenggara negara mencerminkan kepedulian untuk memperhatikan sumberdaya manusia sebagai hal utama, dibandingkan pembangunan infrastruktur fisik yang selalu diumumkan sebagai keberhasilan.

Kedua: menempatkan peran perguruan tinggi negeri untuk berkonsentrasi pada upaya peningkatan kualitas, berfokus pada upaya mendidik mahasiswa dengan target kelas dunia yang kompetitif. Dengan demikian, maka kampus negeri mengelola dengan ranah spesifik yang bersifat keunggulan terbaru.

Ketiga: memberdayakan dukungan kampus swasta untuk dapat berkontribusi dalam membangun anak bangsa. Selama ini kampus swasta berjalan tanpa subsidi, bahkan dengan budget kuliah yang sangat efisien, kerap tertinggalkan dari kebijakan pengambil keputusan.

Padahal keberadaan perguruan tinggi swasta mencerminkan bahwa ada kepedulian untuk memberi bantuan pada pemerintah yang belum mampu memenuhi kebutuhan pendidikan tinggi seluruh anak negeri.

Dengan bauran penyelesaian tersebut di atas, kita tidak berharap ada pinjol yang masuk ke ranah pendidikan tinggi. Beban belajar di bangku kuliah sudah sedemikian berat, jangan ditambah lagi dengan beban bunga yang mesti dibayar.

Sesungguhnya, kita tengah berhutang pada generasi masa depan bangsa ini bila gagal dalam mencerdaskan kehidupan bangsa ini, karena itu adalah amanat konstitusi.

Penulis adalah Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Lampaui Ekspektasi, Ekonomi Malaysia Tumbuh 4,9 Persen di 2025

Sabtu, 17 Januari 2026 | 14:16

Kuota Pembelian Beras SPHP Naik Jadi 25 Kg Per Orang Mulai Februari 2026

Sabtu, 17 Januari 2026 | 14:02

Analis: Sentimen AI dan Geopolitik Jadi Penggerak Pasar Saham

Sabtu, 17 Januari 2026 | 13:46

Hasto Bersyukur Dapat Amnesti, Ucapkan Terima Kasih ke Megawati-Prabowo

Sabtu, 17 Januari 2026 | 13:26

Bripda Rio, Brimob Polda Aceh yang Disersi Pilih Gabung Tentara Rusia

Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:42

Sekolah Rakyat Jalan Menuju Pengentasan Kemiskinan

Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:16

Legislator Golkar: Isra Miraj Harus Jadi Momentum Refleksi Moral Politisi

Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:14

Skandal DSI Terbongkar, Ribuan Lender Tergiur Imbal Hasil Tinggi dan Label Syariah

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:46

Harga Minyak Menguat Jelang Libur Akhir Pekan AS

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:35

Guru Dikeroyok, Komisi X DPR: Ada Krisis Adab dalam Dunia Pendidikan

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:24

Selengkapnya