Berita

Pemilu 2024/RMOL

Publika

Sistem Pendinginan untuk Membangun Pemilu Damai

KAMIS, 08 FEBRUARI 2024 | 08:55 WIB | OLEH: DR. IR. SUGIYONO, MSI

SISTEM pendinginan Polri adalah upaya menjaga dan mencegah potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat dengan melibatkan seluruh komponen bangsa, sehingga keamanan dan ketertiban masyarakat menjadi terjaga dan terkendali. Sistem pendinginan tersebut merupakan bagian dari operasi mantap brata Polri tahun 2023-2024.

Operasi mantap brata bertujuan untuk mengamankan rangkaian pemilu dan pilkada serentak di seluruh Indonesia tahun 2024, yang dimulai sejak 17 Oktober 2023. Persoalannya kemudian antara lain adalah Prof Mahfud MD menyampaikan adanya isu tentang operasi senyap.

Operasi yang ditafsirkan menggunakan konotasi secara negatif, antara lain mengkonstruksikan tidak netral, yang berguna untuk menyukseskan rumor cita-cita satu putaran. Terkesan dikonstruksikan untuk memenangkan paslon tertentu, yang paling dekat dengan pemerintah.


Kasak-kusuk tentang operasi senyap tadi berkembang secara tidak proporsional dan bersifat liar. Beberapa insiden selama masa kampanye dihubung-hubungkan secara full horor, walaupun kenyataannya mesti diverifikasi terlebih dahulu.

Misalnya, beredarnya baliho PSI di mana-mana, sedangkan PSI belum pernah lolos masuk ke Senayan. Terjadi penertiban berbagai spanduk dan baliho di beberapa tempat, yang dihubung-hubungkan dengan hari dan acara kunjungan kerja dinas Presiden ke daerah-daerah.

Terjadi pengamanan seorang kader atau simpatisan PDIP yang menggunakan spanduk untuk penyampaian aspirasi, yang bersifat provokatif. Terjadi imbauan kepada seniman Butet Kartaredjasa untuk tidak berbicara politik menjelang acara pentas seni.

Puncak kasak-kusuk tentang operasi senyap adalah ketika seorang Rektor meyakini diminta oleh seorang petugas untuk membuatkan video. Video yang ditafsirkan untuk memberikan apresiasi bernada positif terhadap kinerja pemerintah.

Apresiasi di tengah keseruan gegap gempita gelombang petisi berantai, yang dimulai dari sebagian guru besar dari Bulaksumur. Berlanjut ke Universitas Indonesia, dan seterusnya ke semakin banyak civitas akademika kampus.

Diksi operasi senyap, kemudian dikait-kaitkan dengan sistem pendinginan Polri. Selanjutnya Kompolnas melakukan pendalaman terhadap kinerja operasi mantap brata.

Diksi-diksi dan narasi-narasi bernama minor, terkesan dengan disampaikan menggunakan gaya melodi musik heavy metal rock tersebut untuk mengkritisi keberatan atas sinyalemen aspirasi ketidaknetralan pemerintah. Ketidaknetralan, sekalipun pemerintah secara tegas mengumandangkan netralitas dalam Pemilu 2024.

Selanjutnya ditambahkan oleh diksi kecurangan pemilu, maupun kata-kata menalar mustahil tercapai kemenangan satu putaran tanpa kecurangan pemilu. Diksi-diksi tidak netral, operasi senyap, kecurangan, mustahil satu putaran, dan seterusnya itu berdampak meningkatkan eskalasi demonstrasi mahasiswa.

Sekalipun informasi demonstrasi mahasiswa untuk memakzulkan pemerintah terkesan tidak disiarkan oleh stasiun berita arus utama dan arus pinggiran secara tepat waktu dan meluas, namun peristiwa demonstrasi tersebut telah meningkatkan suhu ketidakkondusifitas politik pada masa menuju pengujung periode akhir kampanye Pilpres dan Pileg, yang segera memasuki minggu tenang.

Jika sebelumnya Petisi 100 gagal mengonstruksikan pemakzulan, namun petisi sebagian guru besar dari Bulaksumur dan para kolega telah meluas. Bagaikan bunyi gendang bertalu-talu dari civitas akademika, maka mahasiswa yang energik tergerak melakukan longmarch dari kampus Trisakti ke kawasan Harmoni.

Aksi “goreng-menggoreng” berselimutkan pemenangan paslon tersebut di atas, telah dikhawatirkan mengganggu kondusifitas keamanan, yang memerlukan sistem pendinginan operasi mantap brata.

Namun, operasi sistem pendinginan terkesan digoreng-goreng untuk kepentingan pemenangan tersembunyi paslon. Paslon yang tidak kunjung masuk ranking pertama hasil survei, bahkan prediksi suara terpuruk.

Untuk kepentingan membangun pemilu damai, kiranya operasi mantap brata perlu bertindak lebih tegas. Tegas sebagaimana ketika pemerintah menghadapi tantangan persoalan eskalasi ketidakpastian atas manuver-manuver tidak produktif dari oknum Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Front Pembela Islam (FPI).

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Pengajar Universitas Mercu Buana

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

UPDATE

Investasi Jakarta Tertinggi Nasional, Tumbuh 22,1 Persen

Rabu, 04 November 2026 | 00:34

Pemerintah Optimis Polri Bakal Bongkar Aktor Intelektual Penyadapan Presiden

Rabu, 04 November 2026 | 00:20

Geledah Pukul 03.20

Rabu, 04 November 2026 | 00:04

Peduli Karhutla, PKSS Salurkan Ribuan Masker dan Susu Steril

Selasa, 03 November 2026 | 23:43

Listyo Sigit Cs Salah Pilih Lawan, Akhirnya Masuk Penjara

Selasa, 03 November 2026 | 23:22

WNA China Praperadilkan BNN di PN Jaktim terkait Narkoba

Selasa, 03 November 2026 | 23:00

Ditanya soal Gibran Ikut Disadap, Yusril: Wallahu A'lam bish-Shawab

Selasa, 03 November 2026 | 22:45

TEI 2026 jadi Pintu Ekspor Produk Sawit dan Pangan Indonesia

Selasa, 03 November 2026 | 22:32

Ini Kronologi Penyadapan Prabowo oleh Listyo Sigit Dkk

Selasa, 03 November 2026 | 22:29

Prabowo Bekali 400 Calon Pemimpin BUMN dengan Nilai Integritas dan Nasionalisme

Selasa, 03 November 2026 | 22:13

Selengkapnya