Berita

Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, Ganjar Pranowo-Mahfud MD/Ist

Publika

84 Persen Pemilih Ingin Pilpres Satu Putaran Saja

KAMIS, 01 FEBRUARI 2024 | 09:19 WIB | OLEH: DENNY JA

AKANKAH Pilpres 2024 ini berakhir satu putaran saja? Pertanyaan tersebut lahir ketika kita membaca berita di ujung bulan Januari 2024. Judulnya: Presiden Jokowi turun gunung, pilpres satu putaran tak terbendung.

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita mulai dengan data. Ini hasil survei LSI Denny JA, yang baru saja selesai di ujung bulan Januari 2024.

Ingin kita ketahui apakah sentimen publik lebih ingin pilpres  selesai satu putaran saja atau lebih ingin pilpres berlangsung dua putaran?


Datanya tak diduga. Ternyata banyak sekali sekitar 84% publik luas lebih memilih Pilpres ini selesai satu putaran saja.

Banyak alasannya yang dinyatakan. Tapi yang paling kuat,  sebanyak 63,9% menurut mereka alasannya adalah untuk menghemat anggaran.

Apalagi kita ketahui anggaran untuk penyelenggaraan putaran kedua ini sekitar Rp17 triliun.  Belum terhitung biaya untuk Bawaslu dan keamanan. Jika memang biaya itu bisa dihemat, mengapa tidak?

Yang menarik, yang inginkan satu putaran ini merata di berbagai segmen pendidikan, dari mereka yang hanya tamat SD, tamat SMP,  tamat SMA, mahasiswa dan lain sebagainya. Mayoritas mereka inginkan satu putaran saja.

Tapi memang di kalangan terpelajar, di kalangan mahasiswa, S1, S2, S3, yang ingin satu putaran saja mengecil di angka 75,9%. Kalangan dari pendidikan yang lebih rendah, persentase yang ingin satu putaran saja jauh lebih besar.

Semua  pemilih partai, baik  yang memilih PDIP, Golkar, Gerindra dan semua partai lainnya, di atas 80% pemilih aneka partai itu ingin pilpres selesai satu putaran saja.

Jauh lebih seksi lagi, di semua pemilih calon presiden dan calon wakil presiden, di atas 80% ingin pemilu selesai satu putaran pula.

Yang memilih Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar, di atas 80% ingin satu putaran selesai. Yang memilih Ganjar Pranowo dan Mahfud MD, juga yang memilih Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka,  semuanya di atas 80% sama-sama ingin pilpres ini selesai satu putaran saja.

Memang pilpres satu putaran saja bukan hal yang mustahil.  Di tahun 2009, sama kasusnya,  bertarung juga tiga pasang calon presiden. Saat itu memang pilpres beakhir satu putaran saja.

Saya sangat ingat drama Pilpres 2009. Jejak digitalnya bisa dilacak. Saat itu saya sendiri di tahun 2009 memimpin gerakan Satu Putaran Saja.

Saya  buatkan iklan di TV, di koran, di radio. Saya selenggarakan aneka diskusi yang memancing perhatian publik luas.

Saya katakan, berdasarkan data survei LSI Denny JA, Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY-Boediono akan menang satu putaran saja.

Alhamdulilah saat itu, saya dikecam kanan dan kiri. Saya dihujat dan  disikat dari atas dan bawah. Dalam talk show televisi bahkan saya disebut pelacur intelektual, yang mengubah dan menyulap angka survei sesukanya sendiri.

Dengan  tiga pasang capres-cawapres yang kuat, menurut mereka mustahil bisa terjadi pasangan capres-cawapres bisa menang di atas 50 persen.

Ternyata memang KPU menunjukkan Pilpres 2009 berakhir satu putaran saja. Saya pun mendapatkan penghargaan dari PWI Jaya sebagai The Newsmaker of Election 2009.

Isu satu putaran saja yang saya ciptakan dan dengungkan saat itu menyedot begitu banyak perhatian. Bahkan juga, isu “satu putaran saja” itu disinggung dalam debat capres dan cawapres. Isu itu menenggelamkan aneka isu besar lainnya.

Bagaimana dengan Pilpres 2024?  Jika Pilpres 2024 kali ini memang bisa selesai secara legal satu putaran saja, mengapa tidak? Mengapa pula kita perlu berlama-lama dengan dua putaran?

*Penulis adalah pendiri LSI Denny JA

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Rakyat Ingin Hukum yang Keras terhadap Pelaku Korupsi

Jumat, 28 Agustus 2026 | 02:19

Sumber APBN Berpeluang dari Harta Rampasan Koruptor

Jumat, 28 Agustus 2026 | 01:57

Gaduh Desil DTSEN, Bonnie Triyana: Buka Mekanisme Sanggah

Jumat, 28 Agustus 2026 | 01:21

Aset Daerah Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi dan Pembangunan

Jumat, 28 Agustus 2026 | 01:03

Ribuan Pengunjung Padati Hari Pertama Danantara Housing Expo

Jumat, 28 Agustus 2026 | 00:52

Leonardi Divonis 2,5 Tahun Penjara Meski Tak Terbukti Terima Uang

Jumat, 28 Agustus 2026 | 00:22

Kecurigaan Netizen Benar, Habis Karhutla, Muncullah Sawit

Jumat, 28 Agustus 2026 | 00:01

Pelindo-BNN Edukasi Pelajar di Empat Kota soal Bahaya Narkoba

Kamis, 27 Agustus 2026 | 23:31

Pos Polisi di Kolong Flyover Slipi Dibakar Massa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 23:10

UU Perampasan Aset Beri Kepastian Hukum Berantas Korupsi

Kamis, 27 Agustus 2026 | 23:00

Selengkapnya