Berita

Ilustrasi/Net

Bisnis

Siemens Energy Klaim 2024 sebagai Tahun Aksi di Asia Tenggara

JUMAT, 26 JANUARI 2024 | 16:12 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Siemens Energy telah menargetkan berbagai proyek, mulai dari jaringan listrik lintas batas hingga pembangkit listrik tenaga angin, di Asia Tenggara, wilayah yang semakin beralih ke energi yang lebih ramah lingkungan.

Thorbjorn Fors, wakil presiden senior untuk Asia-Pasifik di Siemens, mengatakan bahwa 2024 sebagai tahun aksi di Asia Tenggara.

Menurut Fors, ada kesadaran yang meningkat di negara-negara besar di Asia Tenggara mengenai pengembangan energi terbarukan setelah perang Rusia-Ukraina, dan ini memicu kekhawatiran terhadap keamanan energi.


"Selain itu, kemajuan baru-baru ini dalam Kemitraan Transisi Energi yang Adil (JETP) menawarkan beberapa peluang yang sangat bagus,” kata Fors. JETP adalah program pendanaan iklim yang didukung oleh negara-negara Kelompok Tujuh (G7) yang menargetkan Indonesia dan Vietnam.

“Kami melihat semakin banyak negara yang beralih dari tahap perencanaan menjadi kenyataan dalam hal transisi energi mereka," kata Fors, yang berbasis di Singapura, dalam sebuah wawancara awal bulan ini saat melakukan perjalanan bisnis ke Jakarta.  

"Ini adalah tahun di mana kami akan melanjutkan topik-topik yang telah dibahas selama beberapa tahun terakhir. Jadi mulai dari perencanaan hingga tindakan," ujarnya.

Siemens Energy, pemimpin pasar global dalam energi ramah lingkungan, memisahkan diri dari grup teknologi Jerman Siemens pada 2020. Fors diangkat ke posisinya saat ini pada Januari tahun lalu, meninggalkan pekerjaan sebelumnya di Swedia sebagai wakil presiden eksekutif divisi aplikasi industri Siemens Energy.

Perusahaan ini bermitra dengan perusahaan utilitas Pacific Light yang berbasis di Singapura untuk menggunakan teknologi turbin mutakhir guna meningkatkan pembangkit listrik berbahan bakar gas dan menjadikannya salah satu fasilitas yang paling efisien di Asia.

Fors mengatakan peningkatan efisiensi pembangkit listrik berbahan bakar gas adalah salah satu fokus utama perusahaan di Asia Tenggara, di mana gas menjadi bahan bakar transisi utama dan mengingat momentum yang berkembang di kawasan ini untuk meningkatkan pembangkit listrik agar tidaka ada aset terbengkalai sekaligus mengurangi emisi karbonnya.

Di Indonesia, Siemens Energy membuka kantor lokal dan menandatangani perjanjian awal dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN) tahun lalu untuk membantu perusahaan mencapai bauran energi terbarukan sebesar 23 persen pada tahun 2025, naik dari sekitar 13 persen pada tahun 2023.

PLN merupakan aktor kunci dalam rencana JETP senilai 20 miliar dolar AS di Indonesia, sebagai bagian dari upaya untuk menghentikan operasional pembangkit listrik tenaga batu bara dan menggantikannya dengan energi terbarukan.

Fors juga menaruh harapan besar terhadap kemitraan dengan perusahaan-perusahaan swasta di Indonesia, terutama mereka yang membangun pabrik peleburan yang haus energi untuk memproses bahan mentah seperti nikel dan tembaga untuk digunakan dalam aplikasi teknologi ramah lingkungan seperti kendaraan listrik dan sel fotovoltaik.  

Ironisnya, sebagian besar pabrik peleburan tersebut saat ini menggunakan bahan bakar batu bara.

Fors mengatakan Siemens Energy membantu penambang tembaga dan emas Indonesia Amman Mineral Nusa Tenggara mengganti pembangkit listrik tenaga batu baranya dengan pembangkit listrik berbahan bakar gas.

“Banyak negara di dunia saat ini tidak akan menerima produk yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga batu bara,” kata Fors.

“Jadi menurut saya, Indonesia sangat berkepentingan untuk bergerak secepat mungkin, beralih dari batu bara ke, misalnya, gas alam atau energi terbarukan," ujarnya.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Rupiah Undervalued: Cerita yang Terus Diulang

Senin, 27 April 2026 | 03:42

Truk Pengangkut Tembakau Terguling di Ruas Tol Jangli-Gayamsari

Senin, 27 April 2026 | 03:21

Pemerintahan Jokowi Berhasil Lakukan Kemiskinan Struktural

Senin, 27 April 2026 | 02:58

Menyorot Peran Indonesia dalam Stabilitas Asia Tenggara

Senin, 27 April 2026 | 02:35

Pakar Sebut Korporasi Kapitalis Penyebab Terjadinya Kemiskinan

Senin, 27 April 2026 | 02:12

Pemerintahan Jokowi Beri Jalan Lahirnya Fasisme

Senin, 27 April 2026 | 01:51

Bonus Rp1 Miliar untuk Pemain Persib Ternyata Berasal dari Maruarar Sirait

Senin, 27 April 2026 | 01:30

Strategi Memutus Rantai “Feederism” di Selat Malaka

Senin, 27 April 2026 | 01:12

Tiket Pesawat Tak Perlu Naik meski Harga Avtur Melonjak

Senin, 27 April 2026 | 00:45

Pelaku Penembakan di WHCD Dipastikan Beraksi Sendirian

Senin, 27 April 2026 | 00:42

Selengkapnya