Berita

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati/Net

Publika

Isu Sri Mulyani Mundur dan Teori Merampok Rumah Tetangga Terbakar

OLEH: ANDRE VINCENT WENAS
SENIN, 22 JANUARI 2024 | 05:04 WIB

LOOK a burning house. Rampoklah rumah tetanggamu yang sedang kebakaran. Istilah ini pernah dipopulerkan oleh Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dalam salah satu ceramahnya tentang teori strategi militer.

Kalau dulu Prabowo ceramah soal teori, tapi sekarang strategi ini justru dipraktikan (dilakukan) oleh rival politiknya untuk membakar rumah besar koalisi Prabowo-Gibran.

Isu (gosip) politik yang ditiupkan ke arah Presiden Joko Widodo alias Jokowi yang dianggap sebagai king maker, master mind atau otak di belakang koalisi Prabowo-Gibran adalah untuk membuat situasi “rumah terbakar” itu seolah sedang terjadi.  


Paling gres adalah dengan meniupkan gosip tentang mundurnya menteri-menteri andalan Jokowi. Ada nama-nama seperti Menkeu Sri Mulyani dan Menteri PUPR Basuki Hadimulyono, yang setelah dikonfirmasi para wartawan mereka berdua cuma tertawa dan terus bekerja. Kerja… kerja… kerja…

Bagaimana mau membakar “rumah besar” koalisi Prabowo-Gibran yang dianggap kuat didukung oleh Jokowi? Lha, tingkat kesukaan rakyat atau approval rate-nya yang kabarnya bisa mencapai 80 persen.

Aplikasi teori militer “membakar rumah lalu rampok” yang sedang dilakukan lawan politik Prabowo-Gibran (jelasnya koalisi Jokowi) sudah salah kaprah sejak asumsi dasarnya.

Bagaimana mungkin membangkitkan suasana revolusi kalau rakyat sendiri suka dengan pemerintah? Ini seperti mimpi di siang bolong oleh para badrun (banteng-kadrun) yang sedang mengigau. Ngelindur. Bagaimana mungkin yang 20 persen frustrasi melawan yang 80 persen puas. Gampangnya begitu.

Teori fasis loot a burning house dicetuskan oleh Joseph Goebbels yang merupakan salah satu menteri propagandanya Adolf Hitler. Dulu Goebbels-lah yang meramu hidangan kebencian sedemikian rupa untuk kemudian disodorkan ke depan hidung para fanatik Partai Nazi. Lalu disebarluaskan para pemandu-soraknya demi menghasut publik luas.

Kita ingat mengenai doktrin yang diajarkan Goebbels, “Kebohongan yang dibombardir atau dikampanyekan terus menerus secara sistematis akan dipersepsi seolah sebagai suatu kebenaran.”

Isu kebangkitan PKI, gosip mahkamah keluarga, isu pelanggar HAM, gosip pelanggar konstitusi dan sebagainya adalah isu-isu yang sengaja dikemas untuk terus meneruskan digaungkan oleh koalisi pecundang supaya akhirnya dipercaya sebagai kebenaran mutlak. Diterima tanpa nalar kritis lagi. Publik jadi seperti dicokok hidungnya.

Di era media sosial yang langsung masuk ke genggaman setiap individu secara massif menjadi senjata ampuh untuk menghipnotis massa. Pertemuan tatap muka di lapangan terbuka diberi alternatif oleh media sosial. Komunikasi massa menemukan formatnya yang baru.

Koalisi pecundang mendapatkan media baru yang murah-meriah, berhubung dukungan logistik dari partai utamanya pun sudah menipis. Sehingga mereka mesti membuat dompet-donasi ke publik pendukungnya.

Tidak ada yang salah dengan donasi, hanya disayangkan jika penggunaanya semata untuk kampanye hitam ala Goebbels, bukan untuk pendidikan politik yang sehat dan mencerdaskan.

Ulah seperti ini menjadi sekedar persekongkolan busuk para pecundang. Koalisi seperti ini kerap menjadi salah tingkah, dan koalisinya pun jadi koalisi salah langkah.

Sayang sekali memang.

Penulis adalah Direktur Eksekutif, Lembaga Kajian Strategis Perspektif (LKSP) Jakarta



Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

UPDATE

Perpres Pelindungan Ojol Jangan Berhenti di Atas Kertas

Minggu, 11 Oktober 2026 | 06:29

Awasi Ketat Penggunaan Anggaran Operasi Modifikasi Cuaca

Minggu, 11 Oktober 2026 | 06:16

Sakelar Cahaya di Dalam Otak

Minggu, 11 Oktober 2026 | 06:04

Kartu Nikah Digital Bisa Diakses melalui Simkah, Ini Caranya!

Minggu, 11 Oktober 2026 | 05:44

Nusron Wahid Bikin KPK Tidak Berkutik

Minggu, 11 Oktober 2026 | 05:24

Dulu di Depok Banyak Maling dan Begal, Sekarang Aman

Minggu, 11 Oktober 2026 | 05:08

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Puluhan Korban Investasi Emas Polisikan Direksi PT DGJ

Minggu, 11 Oktober 2026 | 03:33

Tragedi Affan dan Bambang Jangan Terulang

Minggu, 11 Oktober 2026 | 03:14

Selengkapnya