Berita

Founder Lembaga Survei Kelompok Kajian dan Diskusi Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI), Hendri Satrio atau Hensat/Ist

Politik

Dinasti Jokowi Bisa Dikalahkan jika Anies-Ganjar Bersatu

SELASA, 09 JANUARI 2024 | 15:44 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Demokrasi di Tanah Air masih bisa berjalan sebagaimana mestinya bila praktik politik dinasti Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2024 bisa dikalahkan.

Hal itu disampaikan Founder Lembaga Survei Kelompok Kajian dan Diskusi Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI), Hendri Satrio atau Hensat, pada diskusi virtual LP3ES bertajuk “Masa Depan Demokrasi jika Dinasti Jokowi Menang”, Selasa (9/1).

“Lantas, sebetulnya apa yang harus kita lakukan agar hal-hal yang tadi disampaikan Mbak Bivit dan Mas Wija (narasumber diskusi) tidak terjadi, mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus bersatu padu mengalahkan jagoan Jokowi, supaya tidak berkuasa, supaya tidak menang,” kata pengamat politik yang akrab disapa Hensat itu.


Menurut Hensat, salah satu cara untuk mengalahkan jagoan Jokowi yang disebut-sebut mengarah pada pasangan capres-cawapres nomor urut 2, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, adalah dengan bergabungnya dua paslon yang menjadi rivalnya di Pilpres 2024. Dalam hal ini pasangan capres-cawapres nomor urut 1, Anies-Muhaimin dan pasangan capres-cawapres nomor urut 3, Ganjar-Mahfud.

“Sebagai pengamat, saya lihat hampir saja terjadi bila langsung ada pemisahan antara pasangan 02 yang penguasa dengan gabungan kekuatan antara pasangan 01 dan 03. Kalau tidak ada garis tegas, mana yang penguasa, mana yang men-challenge penguasa, maka akan sangat sulit terjadi kemenangan bagi demokrasi,” kata Hensat yang juga Dosen Universitas Paramadina ini.

Namun demikian, Hensat menyayangkan komunikasi politik antara paslon 1 dan 3 justru masih sangat sulit. Ini lantaran masing-masing tim pemenangan enggan untuk melebur dan menyatukan kekuatan untuk melawan paslon 2.

“Sayangnya, hubungan komunikasi yang baik antara 01 dan 03 itu kemudian dibantahkan sendiri oleh salah satu perwakilan dari 01, ‘karena nggak mungkin terjadi dalam kompetisi kita berkomunikasi’. Padahal menurut saya, satu-satunya jalan satu-satunya jalan cara untuk menghalangi itu adalah memang komunikasi antara 01 dan 03 sebagai garis tegas pemisahan antara si penguasa dengan yang tidak berkuasa,” sesal Hensat.

“Apakah kemudian itu pragmatis pertanyaannya, mungkin iya, tapi per hari ini saya tidak menemukan alasan bagi Jokowi, Prabowo, Gibran untuk tidak memaksakan mereka menang satu putaran, atau tidak memaksakan mereka menang dua putaran, di putaran kedua,” imbuhnya.

Atas dasar itu, Hensat menilai bahwa untuk menghentikan ambisi kuasa dinasti Jokowi masih memerlukan gerakan yang ekstrem agar demokrasi di Indonesia masih bisa bertahan.

“Artinya, butuh sebuah kegiatan ekstrem luar biasa untuk menghalangi kekuasaan ini menang dalam pemilu yang katanya demokratis, katanya ya, kata penguasa pemilunya demokratis. Kalau kita lihat-lihat kan banyak hal yang membuat sebetulnya ini tidak demokratis,” pungkas Hensat.



Populer

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Komisi III DPR Dukung Kejagung Bongkar Tuntas Mafia Nikel di Sultra

Senin, 09 November 2026 | 00:30

Menanti Hoegeng di Zaman Now

Senin, 09 November 2026 | 00:06

Ratusan Ojol dan Sahabat Disabilitas Peroleh Santunan Jelang HUT ke-15 Nasdem

Minggu, 08 November 2026 | 23:41

Surya Paloh Ingatkan Ego Partai Tak Boleh Kalahkan Kepentingan Nasional

Minggu, 08 November 2026 | 23:37

Jimly Minta 8 Partai di Parlemen Segera Bermusyawarah soal Gibran

Minggu, 08 November 2026 | 23:25

UI dan Peradi Profesional Perkuat Kolaborasi Lewat Networking Golf Tournament 2026

Minggu, 08 November 2026 | 20:55

Mutu Audit jadi Penentu Kepercayaan Publik terhadap Korporasi

Minggu, 08 November 2026 | 20:00

Desak Tito Mundur, Faizal Assegaf: Dia Lingkar Inti Jokowi

Minggu, 08 November 2026 | 19:45

Ubedilah Badrun: Patron Jenderal Listyo Sigit Bertahun-tahun adalah Jokowi

Minggu, 08 November 2026 | 19:38

Prabowo Kumpulkan 10 Mantan Kapolri di Hambalang, Ada Da'i Bachtiar hingga Tito Karnavian

Minggu, 08 November 2026 | 18:48

Selengkapnya