Berita

Ilustrasi Foto: Pekerja migran sektor perikanan/Net

Nusantara

Pelanggaran HAM masih Selimuti Pekerja Migran Sektor Perikanan

JUMAT, 29 DESEMBER 2023 | 16:59 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Alumni Society of ALSA (ASA) Indonesia dan Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia mengadakan webinar dengan tema Beyond The Horizon: Unveiling The Untold Story of Fishery Exploitation and Human Rights Challenge beberapa waktu lalu.

Webinar tersebut menghadirkan narasumber yang kompeten di bidangnya, yakni Ketua Koalisi Masyarakat Sipil Lawan Perdagangan Orang dan Kejahatan, Nukila Evanty  dan Direktur National Fishers Center Indonesia, Jeany Sirait.

Nukila menerangkan terkait Hak Asasi Manusia (HAM) di laut yaitu hak bebas dari kekerasan, pelanggaran hak-hak pekerja migran, kekerasan karena pembajakan, pengabaian pelaut, perbudakan, perdagangan orang, pekerja anak dan kegagalan dalam kesetaraan dan inklusi.


"Empat prinsip dasar HAM di laut, yakni pertama, HAM Universal. Kedua, tanpa ada perbedaan. Ketiga, tak terbagi dan keempat dasar hukum perjanjian internasional dan kebiasaan internasional sehingga sangat berhubungan dengan pendekatan HAM," kata Nukila dalam keterangannya, Jumat (29/12).

"Kasus-kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di sektor perikanan mencapai 4 ribu orang (data kementerian kelautan dan perikanan),” tambahnya.

"Oleh karenanya harus memastikan tanggung jawab flag states (negara berbendera kapal), port state (negara pelabuhan) dan coastal state (negara pantai) untuk melindungi  dan menghormati HAM, menghindari praktik-praktik kekerasan yang dilarang hukum HAM internasional," tegas Nukila.

Dia juga menjelaskan UU dan Kebijakan dinilai belum cukup karena Konvensi ILO Nomor 188/2007 tentang pekerjaan  dalam penangkapan ikan yang bertujuan untuk memberikan kelayakan kerja di atas kapal bagi para anak buah kapal saat ini belum diratifikasi.

"Rekomendasi saya segera pemerintah Indonesia Ratifikasi Konvensi ILO 188 agar menjamin kelayakan kerja di atas kapal bagi para anak buah kapal," tegasnya lagi.

"Selain rekomendasi dari saya antara lain : mekanisme pengaduan bagi anak buah kapal yang mudah dan cepat, joint inspection (pengawasan pemenuhan hak), kolaborasi dengan masyarakat sipil untuk penelitian TPPO," beber dia.

Kemudian, narasumber lainnya Jenny Sirait menerangkan kondisi miris Anak Buah Kapal perikanan karena telah mengalami perbudakan

"Berdasarkan pengaduan yang kami terima, hampir semua ABK Perikanan mengalami perbudakan dan tindak pidana perdagangan orang. Hal ini bermula dari proses rekrutmen yang tidak transparan dan tidak adil,” jelas Jeany.

"Tindak pidana perdagangan orang yang dimaksud adalah perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan, atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat,” bebernya.

Sehingga, lanjut dia, memperoleh persetujuan dari orang yang memiliki kendali atas orang lain tersebut. Baik yang dilakukan di dalam negara maupun antar negara, untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi.

"Yang bisa kita lakukan saat ini adalah mendorong regulasi yang jelas terkait kewenangan lembaga atas isu ABK, regulasi yang aplikatif terhadap kepentingan pemenuhan hak ABK, pengawasan yang komprehensif (koalisi Advokat hadir dalam isu ABK), kampanye isu perlindungan hak ABK," jelasnya lagi.

Khusus saran kepada Advokat, Jeany menyarankan Advokat ikut aktif dalam pendampingan anak buah kapal yang dilanggar haknya sebagai pekerja migran.

"Terlepas dari organisasi advokat yang saat ini bermacam-macam seharusnya tidak menjadi alasan untuk melakukan bantuan hukum secara cuma-cuma yang memang saat ini masih minim sekali Advokat terlibat dalam pembelaan Anak Buah Kapal tersebut," tandas Jeany.

Sebelum Webinar ditutup, Ketua Umum Alumni Society of Alsa, Sonia Ramadhani mengingatkan para Alumni ASA yang berprofesi sebagai Advokat tentu harus melakukan Pro Bono untuk mendampingi dan membela Anak Buah Kapal yang menjadi korban pelanggaran hukum.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

324 Hunian Layak untuk Warga Bantaran Rel Senen Rampung Juni 2026

Senin, 06 April 2026 | 18:15

Kasus Amsal Sitepu Harus jadi Refleksi Penegakan Hukum

Senin, 06 April 2026 | 17:59

WFH Jumat Tak Boleh Ganggu Produktivitas

Senin, 06 April 2026 | 17:45

Putri Zulhas Ngaku Belum Tahu Gugatan Pengosongan Rumah

Senin, 06 April 2026 | 17:45

Petinggi Tiga Travel Haji Dicecar KPK soal Perolehan Keuangan Tidak Sah

Senin, 06 April 2026 | 17:37

Konversi LPG ke Jargas

Senin, 06 April 2026 | 17:25

Prabowo Naikkan Target Bedah Rumah Tahun Ini Jadi 400 Ribu Unit

Senin, 06 April 2026 | 17:21

Impor Sparepart Pesawat dapat Insentif Bea Masuk Nol Persen

Senin, 06 April 2026 | 17:12

Sahroni Cabut Laporan Terhadap Influencer Indira dan Rena

Senin, 06 April 2026 | 16:59

PB Orado: Turnamen Domino Jatim Fondasi Menuju Kejurnas

Senin, 06 April 2026 | 16:55

Selengkapnya