Berita

Capres nomor urut satu Anies Baswedan/Ist

Publika

Di Kepala Anies Ada Indonesia Baru

OLEH: TONY ROSYID
KAMIS, 28 DESEMBER 2023 | 07:42 WIB

SEJAUH yang saya kenal, Anies Baswedan adalah sosok yang di kepalanya adalah Indonesia masa depan. Tidak ada ruang untuk yang lain, kecuali hanya sisanya.

Yang dipikirkan Anies adalah tentang apa yang dia akan perbuat untuk Indonesia. Apa yang akan dia berikan untuk membesarkan Indonesia. Karena pikirannya fokus, maka terlihat dia sangat menguasai segala tentang persoalan yang dihadapi oleh bangsa ini.

Tidak ada fokus lain di kepala Anies kecuali memikirkan Indonesia. Bagaimana cara menyelesaikan berbagai persoalan yang ada.


Siapapun anda, agak sulit menandingi Anies terkait penguasaannya tentang berbagai masalah bangsa, dan bagaimana menyelesaikannya.

Inilah yang namanya gagasan. Anies mampu menjelaskan secara detail dan cukup komprehensif.

Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo tidak fokus. Lebih dominan memikirkan bagaimana menang dan berkuasa.

Lebih pada aspek kekuasaan dari pada memahami persoalan Indonesia dan bagaikana menyelesaikannya. Lebih sibuk urusan ektabilitas dari pada solusi.

Coba anda perhatikan lebih serius soal ini. Beda Anies dengan Prabowo dan Ganjar.

Jadi, ini bukan soal siapa yang pandai bicara. Pandai bicara gak ada isinya, percuma. Pandai bicara gak ada buktinya juga percuma. Anies berhasil membuktikan kinerjanya ketika menjadi Mendikbud dan terutama saat menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Bermodal S1 Fakultas Ekonomi UGM, S2 jurusan School of Public Policy di University of Maryland, dan S3 jurusan Departement of Political Science Dekalb Illionis USA bisa diartikan sebagai kesiapan sungguh-sungguh Anies untuk menyambut peluang menjadi presiden.

Sebagai aktivis, Anies pernah menjadi ketua OSIS dan ketua BEM UGM. Ini bentuk nyata dari kesiapan Anies untuk menyambut peluang menjadi pemimpin bangsa.

Ini bukan soal ambisi. Ini soal persiapan yang serius untuk mengambil peluang dalam rangka membawa perubahan bangsa. Persiapan Anies sungguh amat panjang dan nyaris sempurna.

Di sini bedanya dengan umumnya capres lain dalam setiap periodenya yang lebih fokus pada syarat formal. Syarat dukungan partai, logistik dan elektabilitas.

Anies berupaya memenuhi syarat substansialnya. Syarat formal baru dipenuhi berikutnya. Bukan terbalik. Dukungan partai dikejarnya, baru belajar tentang masalah yang ada di Indonesia. Pasti bingung dan kelabaan.

Secara moral, Anies bersih. Bersih dari urusan perempuan, bersih pula dari urusan uang. Tidak korup dan mampu menjaga diri dari segala yang berpotensi mengendalikannya. Anies adalah sosok yang berhasil menjaga kemerdekaan dan independensinya.

Tidak ada pihak yang bisa menekannya karena urusan balas jasa. Tidak ada sama sekali. Ini kelebihan Anies. Tidak disandera oleh urusan yang berkaitan dengan balas budi, atau balas jasa.

Anies tidak hanya cerdas dan pintar, tapi karena fokus memikirkan desain masa depan negara, maka di dalam setiap narasinya terurai tentang Indonesia saat ini dengan semua masalahnya, dan tentang Indonesia masa depan dengan berbagai gagasan-gagasan barunya.

Intinya fokus, dipikirkan serius, konsisten dalam waktu yang sangat lama, bahkan puluhan tahun, dipenuhinya semua persyaratan kualitatifnya, sehingga tergambar begitu jelas di kepala Anies tentang masa depan Indonesia.

Dari semua gagasannya, jika anda juga fokus membaca dan memperhatikan, anda pasti dapat menangkap gambaran yang begitu jelas tentang Indonesia dengan semua aspek perubahannya di masa depan.

Perubahan di dalam narasi Anies bukan sekedar slogan. Tapi lebih pada upaya "ambisius" Anies untuk memperbaiki Indonesia. Peluang perubahan itu sangat besar. Maka Anies mempersiapkan diri untuk menyambutnya.

Indonesia butuh orang seperti Anies di setiap periodenya. Mempersiapkan diri jauh-jauh hari untuk memenuhi syarat kualitatif sebagai pemimpin bangsa, dan siap mengambil amanah ketika kesempatan itu tiba.

Penulis adalah Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

IHSG Terkoreksi 1,97 Persen, Mayoritas Saham Berakhir di Zona Merah

Jumat, 06 November 2026 | 12:31

Ekonom Soroti Potensi Konflik Kepentingan CIO Danantara

Jumat, 06 November 2026 | 12:22

Menperin Ungkap Strategi Hadapi Tekanan Industri Tembakau

Jumat, 06 November 2026 | 12:11

Ketum Partai dan Pejabat yang Terlibat Penyadapan Presiden Harus Jadi Tersangka

Jumat, 06 November 2026 | 12:01

Di Tengah Polemik Ijazah, Pengaruh Politik Jokowi Masih Jadi Perhatian

Jumat, 06 November 2026 | 11:51

Bantah Narasi Deindustrialisasi, Menperin: Industri RI Tidak Gelap

Jumat, 06 November 2026 | 11:40

Indonesia-Somalia Bahas Peluang Kerja Sama Perikanan hingga Keamanan Maritim

Jumat, 06 November 2026 | 11:34

Cokbang Buka Peluang Ekonomi Baru dari Kakao Sabang

Jumat, 06 November 2026 | 11:30

KPK Periksa Komisaris PT Murakabi Media Indonesia di Kasus Asuransi Pelni

Jumat, 06 November 2026 | 11:29

Utang Paylater Masyarakat di Bank Tembus Rp31,5 Triliun hingga September 2026

Jumat, 06 November 2026 | 11:16

Selengkapnya