Berita

Publika

Antara Resolusi PBB Untuk Menghentikan Perang Gaza Dan Ketakutan Netanyahu Masuk Penjara

RABU, 13 DESEMBER 2023 | 23:44 WIB | OLEH: MEGA SIMARMATA

WALAU gagal diloloskan melalui Sidang Dewan Keamanan PBB akibat diveto Amerika Serikat, namun akhirnya Resolusi PBB berisi perintah agar dipaksakan gencatan senjata di Gaza bisa diloloskan melalui Sidang Majelis Umum PBB dengan mendapat dukungan dari 153 negara.

Sidang Majelis Umum PBB itu digelar hari Selasa, 12 Desember 2023, di Markas PBB, New York City, AS.

Resolusi tentang gencatan senjata antara Tentara Israel IDF dan Hamas itu didukung oleh 153 negara, ditolak 10 negara dan ada 23 negara abstain.


Dari 10 negara yang menolak Resolusi Gencatan Senjata itu, dua diantaranya adalah Israel dan Amerika Serikat.

Tentu warga dunia, di antaranya adalah kita semua, sangat lega bahwa perang yang sudah menewaskan 18.000 warga Palestina di Jalur Gaza bisa segera dihentikan memakai tangan PBB.

Tapi sesungguhnya angka 18.000 yang menjadi korban tewas dari kebiadaban Penjahat Perang Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, kenyataannya tidak cuma seperti itu jumlah korban tewasnya.

Sebab Kementerian Pertahanan Sipil di Jalur Gaza baru saja menegaskan sampai dengan saat ini tercatat ada 8000 warga Gaza yang dinyatakan hilang akibat perang yang sudah memasuki hari ke 68.

Korban yang dinyatakankan hilang sebanyak 8.000 orang itu rata-rata karena tertimpa reruntuhan bangunan yang hancur akibat di ledakan Israel secara brutal.

Kecil mungkinan ke-8.000 orang itu bisa bertahan hidup karena sampai dengan hari ini, sebab perang sudah memasuki hari ke 68.

Maka itulah sebabnya kalau ditanya berapa sebenarnya jumlah korban tewas di Gaza?

Lebih tepat disebut 26.000 orang yang terdiri dari 18.000 orang yang sudah terkonfirmasi identitasnya ditambah lagi ada 8.000 orang yang terperangkap di bawah reruntuhan bangunan yang hancur diledakkan Israel.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana nasib Perang Gaza pasca disetujuinya Resolusi PBB yang berisi tentang gencatan senjata?

Sudah barang tentu, Israel wajib mematuhi Resolusi PBB tersebut dengan menarik mundur ribuan tentaranya dari Jalur Gaza.

Permasalahan sesungguhnya adalah Netanyahu sangat ketakutan jika perang ini berakhir.

Sebab perang inilah yang menjadi satu satunya benteng pertahanan diri Netanyahu agar terhindar dari sidang dari tiga kasus korupsinya di Pengadilan Distrik Yerusalem.

Dengan alasan perang, sidang korupsi Netanyahu terpaksa ditunda selama 2 bulan.

Tapi majelis hakim telah memutuskan untuk melanjutkan sidang tersebut mulai awal Desember.

Itulah sebabnya maka setiap hari, Netanyahu terus memerintahkan agar diposting di media media sosial foto dirinya setiap mengunjungi tentara IDF di Jalur Gaza, atau setiap kali Netanyahu si Penjahat Perang ini pamer memimpin rapat dengan Kabinet Perangnya yang kini lagi memindahkan target serangan liar mereka ke arah perbatasan Lebanon.

Untuk apa Netanyahu kesurupan memamerkan foto foto road show perangnya di media sosial dan di media media pemberitaan?

Karena kepada Majelis Hakim yang sedang terus menyidangkan 3 kasus korupsinya, sejak awal Oktober 2023 si Penjahat Perang ini  menyampaikan alasan mangkirnya di persidangan adalah tidak punya waktu untuk menghadiri persidangan akibat harus memimpin peperangan.

Jadi itulah maka perang ini mau terus dilanjutkan oleh Netanyahu.

Sebab bila ia menghadiri persidangan maka itu hanya akan memberikan jalan tol bagi tibanya sidang penyampaian vonis.

Sesuai omongan dari Jaksa Agung Israel yang lama Avichai Mandelblit (pensiun pada awal tahun 2022) bahwa mau sampai kapanpun sidang korupsi Netanyahu sengaja ditunda tunda oleh Netanyahu, vonisnya tetap akan sama yaitu menyatakan bahwa Netanyahu bersalah.

Karena Netanyahu tahu bahwa akhir dari ketiga kasus korupsinya di persidangan adalah pasti menyatakan dirinya bersalah, seribu satu macam alasan disampaikan dan dilakukan Netanyahu agar sidang ini tertunda terus.

Bahkan pernah, hakim yang menyidangkannya sampai ada yang terkena sakit covid sehingga persidangan terpaksa ditunda cukup lama.

Akibat ketakutan masuk ke jeruji besi alias masuk ke dalam penjara inilah, Netanyahu mati matian melakukan apa saja yang dapat menghindarkan dirinya dari penjara.

Sebab suami dari Sara Netanyahu ini bersikeras mau berkuasa hingga 8 tahun lamanya.

Ia pun sedang berjuang untuk terus bertahan sebagai Perdana Menteri agar dapat merecoki dan mengintervensi Pilpres Amerika, dimana Penjahat Perang ini ngotot agar yang harus jadi capres dari Partai Republik adalah Nikki Haley, mantan Gubernur Carolina Selatan dan mantan Dubes AS di PBB pada era kepresidenan Donald Trump.

Jadi, untuk dapat mencegah Penjahat Perang ini mengorbankan Palestina untuk jadi human shield nya agar terhindar dari persidangan kasus korupsinya, tepatnya untuk menghindarkan Netanyahu dari kurungan penjara, maka semoga Resolusi PBB yang memerintahkan gencatan senjata di Gaza, sungguh dapat terwujud.

Dan di atas semua itu agar sisa sandera yang masih ditahan Hamas (ternyata jumlahnya adalah 135 orang),  bisa segera dibebaskan.

Walau baru saja diberitakan bahwa dari sisa sandera sebanyak 135 orang itu, 19 orang diantaranya sudah meninggal dunia.

Hanya karena ada seorang politisi korup takut menerima konsekuensi dari ketakusan dirinya dan istrinya menikmati suap, kini dunia dibuat jadi seperti dipelonco dan diterima karena dipaksa menyaksikan penderitaan dan tragedi kematian rakyat Palestina di Jalur Gaza.

Tinggal sehari lagi, perang Gaza sudah berlangsung selama 70 hari.

Bayangkan, betapa beratnya beban Netanyahu.

Walau sudah sangat mengerikan seperti inipun kondisi di Gaza, Netanyahu dan Kabinet Perangnya yang tak bermoral, perang ini masih mau mereka lanjutkan sampai 2 bulan bahkan kalau bisa sampai 1 tahun ke depan.

Agar persidangan korupsi Netanyahu pun ikut tertunda sampai perang selesai.

Akibat 1 koruptor tak berani menerima kenyataan bahwa takdirnya memang harus masuk penjara, Palestina dijadikan mainan.

Tragis luar biasa !

Penulis adalah wartawati senior yang pernah bekerja sebagai jurnalis di Radio Elshinta, Radio Ramako, Radio Trijaya FM, Voice of America (VOA), Inilah.com dan RMOL. Meliput di ABRI (kini TNI) sejak 1993 dan Polri sejak 2005 hingga saat ini.

Populer

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

Tetangga Sudah Mendahului, Indonesia Masih Berpidato

Jumat, 15 Mei 2026 | 05:30

Jokowi Boleh Keliling Indonesia Asal Tunjukkan Ijazah Asli

Rabu, 20 Mei 2026 | 01:33

Anak SMA Peserta Cerdas Cermat MPR Ramai-ramai Dibully Juri dan MC

Senin, 11 Mei 2026 | 14:27

Tuntutan Seret Jokowi ke Pengadilan terkait Kasus Nadiem Mengemuka

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:02

Bebaskan Nadiem, Lalu Adili Jokowi

Senin, 18 Mei 2026 | 02:46

UPDATE

Di Depan Mahasiswa, Direktur Pertamina Beberkan Strategi Jaga Ketahanan Energi Nasional

Kamis, 21 Mei 2026 | 18:19

PLN Resmikan SPKLU ke-5.000 di Indonesia, Pengguna EV Kini Makin Nyaman

Kamis, 21 Mei 2026 | 18:14

Polri Panen Raya Jagung di Bengkayang

Kamis, 21 Mei 2026 | 18:14

Viral Sarden Disebut Bukan UPF, Ini Penjelasannya

Kamis, 21 Mei 2026 | 18:11

OPM Diduga Dalang Pembunuhan Delapan Penambang Emas di Distrik Korawai

Kamis, 21 Mei 2026 | 18:05

Mengenal Duck Syndrome yang Viral di Media Sosial, Ini Pengertian dan Dampaknya

Kamis, 21 Mei 2026 | 18:04

MBG Tetap Prioritas meski Anggaran Dipangkas

Kamis, 21 Mei 2026 | 17:46

Pidato Prabowo ke Golkar Dinilai Bukan Sekadar Candaan

Kamis, 21 Mei 2026 | 17:42

Cirebon Raya Siap Jadi Tuan Rumah Muktamar NU

Kamis, 21 Mei 2026 | 17:33

Hubungan Baik Prabowo-Megawati Perlihatkan Kepemimpinan Inklusif

Kamis, 21 Mei 2026 | 17:32

Selengkapnya