Berita

Ilustrasi Foto/Net

Nusantara

Lindungi Hak Asasi Nelayan, MK Diminta Hentikan Tambang di Pulau-pulau Kecil

RABU, 13 DESEMBER 2023 | 16:29 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Sejak diproklamirkan pada tahun 1957, Deklarasi Djuanda kini berusia 66 tahun. Ini adalah momen penting bagi Indonesia untuk memperingati keutuhannya sebagai Negara Kepulauan, tidak terkecuali keutuhan pulau-pulau kecil yang kini di bawah ancaman pembangunan ekstraktif dan krisis iklim.
 
Deklarasi Djuanda (13 Desember 1957) dalam satu butirnya berbunyi, “Segala perairan di sekitar, di antara dan yang menghubungkan pulau-pulau yang termasuk dalam daratan Republik Indonesia, dengan tidak memandang luas atau lebarnya, adalah bagian yang wajar dari wilayah daratan negara Republik Indonesia dan dengan demikian merupakan bagian dari perairan pedalaman atau perairan nasional yang berada di bawah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia”.
 
Dalam Rangka Memperingati 66 Tahun Deklarasi Djuanda; KORAL, Ekomarin, dan PBHI menggelar Diskusi Kebijakan dengan tema, “Refleksi 66 Tahun Deklarasi Djuanda: Tambang di Pulau Kecil Dibolehkan, Hak Asasi Nelayan dan Rakyat Pulau Kecil Dirampas” di Jakarta, Rabu (13/12).


Deklarasi Djuanda merupakan bagian dari sejarah nasional Negara Kepulauan. Konstitusi Pasal 33 ayat(3) dan (4) UUD 1945 yang mengatur bahwa sumber daya kepulauan dikuasakan kepada negara untuk dipergunakan secara berkelanjutan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat Indonesia.

Disayangkan, momen 66 tahun Deklarasi Djuanda itu bertolak belakang dengan paradigma ekstraktif yang kian menggerus pulau-pulau kecil.
 
Pelaku usaha berupaya meretas jalan guna melegalkan pertambangan di pulau-pulau kecil. Perusahaan tambang nikel PT Gema Kreasi Perdana (PT. GKP) menggugat Pasal 23 ayat (2) dan Pasal 35 huruf k UU No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil sebagai terdaftar dalam Perkara Mahkamah Konstitusi No. 35/PUU-XII/2023. Upaya ini bertujuan agar MK menafsirkan kedua pasal dalam UU No. 27/2007 tersebut menjustifikasi kegiatan pertambangan di wilayah yang berada dalam kategori Pulau Kecil.

“Jika gugatan PT GKP dikabulkan MK, maka sekitar 13.466 pulau kecil atau lebih dari 90 persen pulau Indonesia dengan mayoritas tidak berpenghuni terancam hancur dan tenggelam. Juga publik perlu mengingat pengalaman Pulau Nipa di Kepulauan Riau yang tenggelam karena ditambang.” tegas Koordinator Ekomarin, Marthin Hadiwinata.
 
Perwakilan dari Tim Advokasi Penolakan Pertambangan di Pulau Kecil (Terpukau) yang diwakili Annisa Zahra menyebutkan, Mahkamah Konstitusi (MK) telah memutus Uji Materil terhadap UU 27/2007.

“UU itu telah mengakui hak-hak asasi nelayan dan masyarakat atas pulau kecil dan perairan sekitarnya yang harus dihormati. Juga adanya Putusan MA No. 57 P/HUM/2022 tertanggal 22 Desember 2022 telah menyatakan bahwa kegiatan pertambangan adalah abnormally dangerous activity,” ujar Zahra.

“Kegiatan pertambangan yang selama ini terjadi mengakibatkan adanya perampasan hak asasi nelayan dan rakyat yang bermukim di wilayah pesisir dan pulau kecil. Sehingga Uji materil PT GKP harus ditolak oleh Mahkamah Konstitusi,” tambahnya menegaskan.
 
Selanjutnya Harimuddin dari Integrity Law Office selaku kuasa hukum Idris dkk sebagai pihak terkait langsung dalam Uji Materil UU 27/2007 tersebut menjelaskan, Putusan Mahkamah Agung telah menyatakan tambang di Pulau Wawonii tidak bisa dilanjutkan.

“Kemudian, tidak hanya persoalan putusan MA tersebut, perizinan PT GKP juga bermasalah, di antaranya IPPKH yang juga sudah dibatalkan oleh PTUN Jakarta meskipun belum berkekuatan hukum tetap,” tukas Harimuddin.
 
Sementara itu, Jull Takaliuang dari Koalisi Save Sangihe Island menceritakan perjuangan masyarakat menolak tambang di Pulau Sangihe, Sulawesi Utara.

“Rakyat harus benar-benar menguatkan diri untuk menghadapi perampasan sumber daya alam dan ruang hidup,” tegas Jull.

“Kita telah berjuang hingga pada akhirnya Izin Operasi Produksi PT Tambang Mas Sangihe dicabut. Untuk selanjutnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral perlu juga mencabut Kontrak Karya PT TMS yang statusnya adalah bukan IUPK atau tidak sesuai dengan undang-undang yang berlaku, sehingga Kontrak Karya tersebut harus ikut dibatalkan. Kementerian ESDM juga harus tegas terhadap penambangan liar di Pulau Sangihe,” tandasnya.
 
Kemudian Hariyono, seorang nelayan kecil dari Pulau Bunyu, Kalimantan Utara menceritakan dampak buruk tambang batubara yang dialami masyarakat.

“Mulai dari pencemaran di perairan, hingga ancaman bencana ekologis karena adanya tiga pertambangan di Pulau Bunyu dengan luas tidak lebih dari 198,32 km2,” tandas Hariyono.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

UPDATE

Presiden Prabowo Patok Belanja Negara Rp4.097 Triliun, Defisit Rp671,2 T di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 18:15

Pemerintah Anggarkan Belanja Rp4.097 Triliun untuk Delapan Program Prioritas di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:59

Titah Prabowo Usut Tambang Ilegal Wajib Dilaksanakan TNI-Polri

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:55

Prabowo Targetkan Efisiensi Rp360 Triliun dari Belanja Pemerintah

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:41

Muktamar NU dalam Pusaran Politik Kepentingan Umat

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:20

Prabowo Usul Beri Kewarganegaraan Ganda bagi Diaspora dengan Talenta Terbaik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:10

Iwan Sumule: Program Prabowo adalah Amanat Konstitusi

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:09

Kepastian RUU Perampasan Aset, Menteri Hukum: Tunggu DPR Gelar Uji Publik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:53

Prabowo Siapkan Ambulans Udara hingga Tim Dokter Terbang untuk Layani Daerah Terpencil

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:52

Prabowo Buka Opsi Datangkan Dokter dari Luar Negeri untuk Praktik di Indonesia

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:32

Selengkapnya