Berita

Ilustrasi/Net

Tekno

Penelitian Apple Ungkap 2,6 Miliar Catatan Pribadi Disusupi Pelanggaran Data

SENIN, 11 DESEMBER 2023 | 11:19 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Keamanan data pribadi perlu terus ditingkatkan, sebab, menurut penelitian gabungan Apple dan Massachusetts Institute of Technology, lebih dari 2,6 miliar catatan pribadi telah disusupi oleh pelanggaran data dalam dua tahun terakhir.

Studi menyatakan, sekitar 1,1 miliar dan 1,5 miliar pelanggaran terjadi, masing-masing pada 2021 dan 2022, sehingga berkontribusi terhadap peningkatan tiga kali lipat insiden tersebut antara tahun 2013 dan tahun lalu.

"Di AS saja, jumlah pelanggaran data meningkat hampir seperlima dalam sembilan bulan pertama tahun 2023, dibandingkan keseluruhan tahun 2022," menurut penelitian tersebut, seperti dikutip dari The National, Senin (11/12).


Hal ini, kata mereka, menyoroti perlunya perlindungan yang lebih ketat, terutama enkripsi end-to-end, sebuah sistem di mana hanya mereka yang berkomunikasi satu sama lain yang dapat melihat pesan yang dikirim.

“Organisasi harus memikirkan kembali jumlah data yang mereka kumpulkan dan, khususnya, membatasi jumlah data konsumen tidak terenkripsi yang mereka simpan. Itu juga sebabnya, pada tahun lalu, platform teknologi dan pemain industri lainnya telah memperluas penggunaan enkripsi end-to-end mereka,” kata studi tersebut.

Enkripsi end-to-end atau E2EE menggunakan algoritma yang mengubah karakter teks standar menjadi format yang tidak dapat dibaca. Ia menggunakan kunci enkripsi untuk mengacak data sehingga hanya pengguna yang berwenang yang dapat membacanya.

Asal usul E2EE, demikian sebutannya, dimulai pada tahun 1970-an. Namun, mendapat perhatian dengan munculnya WhatsApp, yang disebut-sebut sebagai fitur privasi utama. Pada tahun 2014, Meta, yang saat itu dikenal sebagai Facebook, membeli WhatsApp seharga 19 miliar dolar AS.

Alasan paling jelas adalah menjamin keamanan dan privasi konten yang dibagikan antar pengguna. Namun hal ini tidak hanya terbatas pada pengguna biasa, bisnis juga dapat memperoleh manfaat besar dari E2EE, karena dapat melindungi data dan informasi sensitif, seperti dokumen keuangan dan hukum.

Studi Apple-MIT mencatat bahwa perusahaan teknologi semakin meningkatkan keamanan ekosistem mereka dengan meluncurkan beberapa fitur enkripsi.

Apple dan MIT dalam penelitiannya memperingatkan bahwa meskipun ada upaya untuk mengamankan data, perusahaan mungkin masih gagal, terutama karena pelaku kejahatan di web mampu menembus sistem keamanan yang paling kuat sekalipun.

“Tren terkini terus menunjukkan bahwa peretas yang kreatif menjadi lebih canggih dan agresif. Serangan Ransomware berada pada titik tertinggi sepanjang masa, dan geng ransomware semakin menargetkan organisasi yang menyimpan data pribadi paling sensitif,” katanya.

Jumlah serangan ransomware melonjak hampir 70 persen dalam tiga kuartal pertama tahun 2023, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, kata studi tersebut, mengutip data dari Corvus, yang berspesialisasi dalam asuransi siber.

“Pelaku kejahatan terus menghabiskan banyak waktu dan sumber daya untuk menemukan cara yang lebih kreatif dan efektif untuk mencuri data konsumen, dan kami tidak akan berhenti dalam upaya kami untuk menghentikannya,” kata Craig Federighi, wakil presiden senior bidang rekayasa perangkat lunak Apple dalam sebuah pernyataan.

“Seiring dengan meningkatnya ancaman terhadap data konsumen, kami akan terus mencari cara untuk melawan atas nama pengguna kami dengan menambahkan perlindungan yang lebih kuat," katanya.

Populer

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Modal Asing Keluar Rp7,71 Triliun, BI Catat Tekanan di SBN pada Pertengahan Januari 2026

Jumat, 16 Januari 2026 | 08:05

Dolar AS Menguat ke Level Tertinggi Enam Pekan

Jumat, 16 Januari 2026 | 07:56

Kejauhan Mengaitkan Isu Ijazah Jokowi dengan SBY–AHY

Jumat, 16 Januari 2026 | 07:48

RUU Perampasan Aset Jangan Jadi Alat Menyandera Lawan Politik

Jumat, 16 Januari 2026 | 07:40

Jenazah 32 Tentara Kuba Korban Serangan AS di Venezuela Dipulangkan

Jumat, 16 Januari 2026 | 07:33

Bursa Eropa: Efek Demam AI Sektor Teknologi Capai Level Tertinggi

Jumat, 16 Januari 2026 | 07:16

Emas Tak Lagi Memanas, Tertekan Data Tenaga Kerja AS dan Sikap Moderat Trump

Jumat, 16 Januari 2026 | 07:06

Wajah Ideal Desa 2045

Jumat, 16 Januari 2026 | 06:50

TPU Tegal Alur Tak Tersangkut Lahan Bersengketa

Jumat, 16 Januari 2026 | 06:23

Kemenkes Siapkan Rp1,2 Triliun untuk Robotik Medis

Jumat, 16 Januari 2026 | 06:04

Selengkapnya