Berita

Rektor Universitas Islam Nusantara (Uninus), Profesor Obsatar Sinaga alias Obi/Repro

Politik

Marak Kecurangan Pemilu, Rektor Uninus Khawatir Pemenang Pilpres 2024 "Pemilik" KPU

SENIN, 11 DESEMBER 2023 | 02:36 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Melihat fakta-fakta kecurangan di pemilu sebelumnya, Rektor Universitas Islam Nusantara (Uninus) periode 2023-2027, Profesor Obsatar Sinaga alias Obi khawatir Pilpres 2024 nanti yang akan menang adalah pihak yang "punya" Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Fakta-fakta dan kekhawatiran itu diungkapkan Prof Obi dalam acara diskusi yang diselenggarakan Forum Guru Besar dan Doktor Insan Cita bertajuk "Election For Sale: Praktik Politik Uang Dalam Pemilu" melalui virtual, Minggu malam (10/12).

Dalam acara ini, Prof Obi mengaku melihat contoh nyata politik uang di lapangan. Misalnya di Kabupaten Bandung Barat (KBB) dengan Kabupaten Bandung.


Meskipun Kabupaten Bandung usianya cukup tua, pembangunan di KBB lebih pesat karena diperebutkan oleh kursi DPR RI. Bahkan, percepatan ekonomi di KBB tinggi pada saat menjelang pemilu.

"Nah ini menunjukkan ada pertumbuhan ekonomi yang bagus gara-gara ada politik uang di sana," kata Prof Obi.

Selain itu, Prof Obi melihat, juga banyak para legislatif yang kembali maju sebagai caleg, tidak melakukan kampanye secara besar-besaran. Hal itu dikarenakan para caleg tersebut meyakini akan kembali menjadi pemenang.

"Dia kumpulkan kader partai, kemudian ngumpul, lalu di foto-foto, nah itu dijumlahkan itu sama dengan usaha dia kampanye. Padahal sebenarnya dia tidak kampanye, tapi dia menang, justru pemenangannya dilakukan oleh penyelenggara pemilu," terang Prof Obi.

Melihat fakta itu, Prof Obi mengaku khawatir karena kecurangan terjadi dilakukan oleh penyelenggara pemilunya. Hal itu kata Prof Obi, dapat terlihat ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Presiden Joko Widodo mau periode kedua.

"Nah saya khawatir nih kalau kaya begini, pertanda misalnya kemarin, rekayasa di dalam Mahkamah Konstitusi saja bisa dilakukan, berarti tidak hanya pada soal legislatif, tapi soal pemilihan presiden ini pun bisa-bisa nanti yang menang yang punya KPU," tutur Prof Obi.

Tak hanya itu, Prof Obi yang mengaku selalu ditunjuk sebagai panitia pemilihan di setiap pemilu belakangan ini, terjadi berbagai kecurangan yang terjadi sejak Tempat Pemungutan Suara (TPS).

"Apapun yang diputuskan oleh PPK, oleh KPU di tingkat kabupaten, kita nggak bisa apa-apa, kita anggap itu sebuah kebenaran yang absolute, yang sudah nggak bisa ditawar-tawar lagi," jelas Prof Obi.

Kemudian, Prof Obi menilai bahwa, politik uang bukan hanya terjadi di tingkat pemilih, melainkan juga terjadi antar partai politik atau peserta pemilu.

"Misalnya begini, pada saat perhitungan di TPS, itu ada nama partai yang dapat suara hanya beberapa, nggak nyampe suara itu untuk dapat kursi. Lah sisa-sisa suara ini, pada perhitungan kelurahan dan kecamatan, sudah membias itu, lalu kemudian PPK melaporkannya sebagai suara yang kosong, dan pada saat diperhitungkan di kabupaten, itu bisa jadi masuk ke suara partai yang memesan. Nah yang begini kan juga pakai politik uang," tutup Prof Obi.



Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

KPK NU Demo di Gedung Merah Putih KPK, Desak Penangkapan Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:23

UPDATE

Wall Street Hijau Usai Data Tenaga Kerja Redupkan Sinyal Kenaikan Bunga The Fed

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:21

Biaya Perawatan Naik 106 Persen, Deteksi Dini Penting untuk Tekan Risiko

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:05

Harga Solar Naik Tinggi, G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:51

Bank Syariah Jumbo Bakal Bertambah, OJK Pasang Target Lima Pemain

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:21

Bursa Eropa Bangkit, DAX Naik 1,17 Persen

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:06

Digitalisasi Parkir On Street Efektif Cegah Pungli

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:53

Suyudi-Wahyu Memimpin Polri: Tujuh Agenda Besar, Saatnya Pembuktian

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:22

Awas, Aktivitas Merapi Melonjak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:04

Pengamen Dilarang Aktivitas di Mikrotrans dan Halte Transjakarta

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:53

Ahli Hukum Diusir MK, Apakah Gibran Sudah Bisa Didiskualifikasi?

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:34

Selengkapnya