Berita

Capres-cawapres nomor urut 1 Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar/Ist

Publika

Anies-Cak Imin Paling Siap Wujudkan Reformasi Jilid 2

OLEH: TONY ROSYID
JUMAT, 01 DESEMBER 2023 | 09:06 WIB

TAHUN 1998 Orde Baru tumbang. Tepatnya ditumbangkan. Rakyat dan mahasiswa mendesak Presiden Soeharto mundur. Dengan legawa dan jiwa kenegarawan yang dimiliki, akhirnya Soeharto mundur. Lalu, Soeharto menyerahkan kepemimpinan negara kepada B.J. Habibie.

Mengapa Soeharto harus ditumbangkan? Dari pertanyaan ini kita akan tahu motif dan semangat mengapa rakyat menumbangkan Soeharto.

Pertama, Soeharto terlalu lama memimpin. 32 tahun. Rakyat jenuh dan bosan. Rakyat ingin ada sesuatu yang baru. Fresh dan muda. Sebuah pembaharuan dan perubahan. Ini psikologi yang normal, wajar dan sehat. Karena itu, harus ada pergantian. Pemilu demi pemilu tidak berhasil menciptakan pergantian presiden. Satu-satunya jalan yang terpaksa harus ditempuh adalah menumbangkan Orde Baru. Meski ongkos sosial, ekonomi dan politiknya cukup mahal dan besar.


Kedua, era Orde Baru rakyat merasa tertekan. Demokrasi terintimidasi. Rakyat bungkam dan tidak berani bersuara lantang. Dengan tumbangnya Orde Baru, rakyat ingin ada kebebasan bersuara dan mengungkapkan pendapat.

Ketiga, era Soeharto, korupsi cukup besar. Gaji pegawai kecil, dan korupsi ada dimana-mana. Ada di semua lembaga dan institusi pemerintahan.

Keempat, nepotisme di era Orde Baru cukup marak. Keluarga Cendana dan kolega dituduh menguasai secara vulgar alokasi APBN. Mereka mengendalikan perputaran bisnis. Tidak ada yang berani kontrol dan mencegahnya.

Kelima, pemilu tidak jurdil. Hasil pemilu diatur. Golkar selalu menang. PPP dan PDI dibonsai. Rakyat dipaksa untuk memilih Golkar. Maka, Golkar selalu menang karena menjadi partai penguasa. Suasana pemilu mencekam. Jauh dari pesta yang menggembirakan.

Keenam, Orde Baru adalah orde sentralisasi. Semua dikendalikan dari pusat. Pemerintah daerah tidak mendapat bagian yang adil dan proporsional sesuai dengan harapan mereka.

Inilah sebagian alasan mengapa Soeharto dipaksa untuk turun. Setelah turun, lahirlah era reformasi. Kebebasan dibuka dan UUD 1945 pun diamandemen. Bahkan empat kali berturut-turut. 1999, 2000, 2001 dan 2002. Akhir-akhir ini sedang diwacanakan untuk diamandemen lagi. Pro kontra terjadi.

Setelah era reformasi lahir, apakah Indonesia menjadi lebih baik?

Di era Orde Baru korupsi merajalela. Sekarang, tidak kalah merajalelanya. Sulit kita menemukan institusi dan lembaga negara yang tidak korup. Bahkan korupsinya lebih masif. Sampai ada anekdot: "dulu orang korupsi di bawah meja. Sekarang semeja-mejanya ikut dikorupsi".

Era Orde Baru, rakyat marah karena nepotisme. Sekarang? Ada beberapa partai dikendalikan oleh keluarga. Ini tidak ada di zaman Orde Baru. Sembilan tahun presiden menjabat, ipar, anak dan menantunya berada di posisi penting di pemerintahan.

Era Orde Baru pemilu dikendalikan. Bagaimana pemilu di era reformasi? Pemilu 2019 banyak kecurangan. Tercatat 894 petugas KPPS meninggal. Pasca pemilu, puluhan demonstran ditangkap. Jelang Pemilu 2024, banyak indikator adanya pengerahan instrumen negara untuk mendukung paslon tertentu.

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri bilang: "Era ini kayak era Orde Baru". Pernyataan ini dibenarkan dan didukung oleh Muhaimin Iskandar alias Cak Imin. Cawapres Anies Baswedan.

Situasi yang penuh sesak dan semakin jauh dari semangat reformasi inilah yang mendorong Cak imin menggelorakan Reformasi Jilid 2. Reformasi jilid 1 gagal. Karena tidak mereformasi apa-apa, kecuali tampil layaknya Orde Baru. Bahkan lebih parah lagi.

Korupsi makin parah setelah revisi UU KPK. Pemilu terkekang. Karena instrumen negara digunakan sebagai mesin pemenangan. Kebebasan pendapat diintimidasi. Sektor ekonomi, pendidikan dan kesehatan masih jauh dari perubahan. Pembangunan tidak jelas arahnya.

Dalam konteks ini Orde Baru jauh lebih baik dan terukur. Desentralisasi diubah lagi menjadi sentralisasi. Lalu, apa yang bisa diambil manfaatnya dari reformasi selain mengganti Soeharto?

Perlu Reformasi jilid 2, kata Cak Imin di acara deklarasi pemuda di Smesco pada Rabu kemarin malam (29/11). Cak Imin tahu dan kenal betul, Anies Baswedan adalah sosok aktivis reformasi dengan integritas dan kompetensi yang meyakinkan. Rekam jejak, kiprah dan gagasannya menunjukkan kapabilitasnya untuk melakukan perubahan dan mengawali Reformasi jilid 2.

Ini bukan omong kosong. Karena pertama, bisa dilihat faktanya dari rekam jejak dan prestasi yang pernah dibuat Anies Baswedan. Kedua, bisa disimak dari penguasaan masalah negeri ini dalam berbagai talk show, diskusi dan seminar. Ketiga, bisa dibaca dari gagasan-gagasannya untuk bangsa ini ke depan. Dan gagasan-gagasan Anies-Muhaimin begitu utuh, telah diringkas sebagiannya dalam ratusan halaman buku. Sebuah gagasan, ketika disampaikan ke publik berarti bersedia untuk didiskusikan dan siap untuk diuji.

Kesiapan ini belum begitu terlihat dari kedua paslon lawannya. Baik Prabowo-Gibran maupun Ganjar-Mahfud. Apalagi kedua paslon mengambil posisi ingin melanjutkan Jokowi. Tidak ada tawaran perubahan dari dua paslon ini, kecuali fokus bagaimana memenangkan pemilihan.

Dari sini menunjukkan betapa Anies-Cak imin adalah tokoh yang paling siap untuk melakukan perubahan untuk Reformasi jilid 2. Spirit Reformasi jilid 2 yang diupayakan oleh Anies-Cak Imin saat ini sedang berhadapan dengan status quo.

Mampukah pasangan Anies-Cak Imin yang mengandalkan gerakan rakyat ini mengambil kembali tongkat estafet reformasi yang telah lama disabotase rezim?

Penulis adalah Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa



Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Tim Hukum Febrie Curiga Ada Nama Pejabat Kejagung Dicatut terkait Duit Rp40 Miliar

Rabu, 09 September 2026 | 04:16

Merawat Aceh, Memprioritaskan Kepentingan Rakyat

Rabu, 09 September 2026 | 04:04

Polda Banten-Basarnas Maksimalkan Pencarian Jurnalis Hilang Kontak di Selat Sunda

Rabu, 09 September 2026 | 03:32

Bahaya Abu Vulkanik bagi Penerbangan: Ancaman Tak Kasat Mata yang Mematikan

Rabu, 09 September 2026 | 03:22

PDIP Tafsirkan Pidato AHY: Bisa Jadi Pesan untuk Presiden Menuju 2029

Rabu, 09 September 2026 | 03:09

Wow! Hadiah Sayembara Ijazah Gibran Tembus Rp10,25 Miliar

Rabu, 09 September 2026 | 02:52

Sekolah Tatap Muka di Lampung Batal Gegara Anak Krakatau Kembali Erupsi

Rabu, 09 September 2026 | 02:14

Survei Digdaya: Kepuasan Publik terhadap Prabowo Capai 56,3 Persen

Rabu, 09 September 2026 | 02:01

Pencarian 8 Orang Hilang Kontak di Selat Sunda Terkendala Arus Kencang

Rabu, 09 September 2026 | 01:34

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Selengkapnya