Berita

Presiden Joko Widodo/Ist

Publika

Reformasi Menghasilkan Dinasti Jokowi?

OLEH: TONY ROSYID*
SENIN, 30 OKTOBER 2023 | 03:31 WIB

JOKO WIDODO minta tiga periode, begitu kata Adian Napitupulu. Anggota DPR dari PDIP ini memberi info bahwa Jokowi kecewa kepada Megawati karena proposal tiga periode tidak dikabulkan. Hal ini dipertegas oleh sumpah Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto.

Melalui seorang menteri dan sejumlah ketua umum partai, Jokowi memang minta tiga periode. Bukankah dalam konferensi pers Jokowi sering membantah bahwa dirinya mau tiga periode? Terserah anda, percaya Jokowi atau Adian dan Hasto.

Di antara mereka, pasti ada yang berbohong. Siapa yang berbohong? Jokowi atau Adian Napitupulu dan Hasto Kristiyanto? Kembali ke penilaian anda. Yang pasti, ini menyangkut integritas dan kredibiltas elite politik. Tentu akan punya pengaruh signifikan terhadap nasib bangsa ini.


Kenapa Megawati menolak proposal tiga periode? Ada dua asumsi. Asumsi pertama, Megawati punya komitmen kepada konstitusi dan terhadap demokrasi. Gagasan tiga periode jelas melanggar konstitusi dan merusak demokrasi. Ini akan berpotensi melahirkan politik dinasti.

Dua periode Jokowi berhasil menempatkan Gibran Rakabuming Raka (putra sulung Jokowi) dan menantunya (Bobby Nasution) jadi walikota, juga Kaesang Pangarep jadi ketum PSI. Bagaimana jika tiga periode?

Tiga periode akan membuka ruang untuk presiden berkuasa seumur hidup. Kalau sudah berkuasa tiga periode, gagasan presiden seumur hidup akan jauh lebih mudah. Ketika semua parpol dan kekuatan sipil dapat dikendalikan, siapa lagi yang bisa menghalangi presiden menjabat seumur hidup? Gagasan tiga periode sama artinya rencana presiden seumur hidup. Ini kesimpulannya. Simpel!

Asumsi kedua, Megawati tidak ingin Jokowi terlalu lama berkuasa. Semakin lama Jokowi berkuasa, maka semakin sulit bagi PDIP untuk mengimbanginya. Alih-alih mengendalikan. Yang terjadi bisa sebaliknya. PDIP dikendalikan oleh Jokowi. Pada akhirnya, PDIP diambil Jokowi.

PDIP sangat kuat. Iya. Setidaknya untuk saat ini. Saat ketika Megawati masih menjadi ketua umum dan pegang kendali. Megawati adalah pendiri. Layaknya seorang pendiri, ia cukup tangguh untuk menjaga dan mempertahankan PDIP. Jika estafet kepemimpinan partai sudah beralih tangan dan lepas dari tangan Megawati, PDIP belum tentu sekuat sekarang. Kata Ibnu Khaldun: pengkopi dan penikmat kekuasaan tidak akan sekuat para pendiri (Buku Muqaddimah).

Ketika estafet kepemimpinan PDIP terjadi, dan saat itu Jokowi masih menjadi presiden, sulit membayangkan PDIP jatuh ke tangan orang lain. Pengaruh Jokowi di grass root PDIP akan semakin kuat selama tiga periode. Tidak sulit bagi Jokowi ambil tongkat estafet PDIP. Entah Jokowi turun langsung, atau melalui anak dan menantunya. Adu kuat dinasti Megawati vs dinasti Jokowi sangat mungkin terjadi saat suksesi PDIP.

Megawati paham soal ini. Ketum PDIP ini cukup berpengalaman untuk membaca manuver Jokowi. Karena itu, proposal tiga periode dengan tegas ditolak Megawati. No option!

Meski begitu, karir dan dinasti Jokowi tidak lantas berakhir. Jokowi lalu memainkan kartu Prabowo dan PSI. Gibran didampingkan dengan Prabowo untuk menjadi pasangan capres-cawapres. Kaesang ambil posisi ketua umum PSI. Prabowo-Gibran bertarung dengan Ganjar, capres PDIP. PSI akan berupaya menggerus elektabilitas PDIP. Saat ini, PSI tentu saja tidak sepadan dengan PDIP. PDIP masih terlalu kuat untuk Pemilu 2024.

Setidaknya untuk jangka panjang, PSI akan punya kekuatan untuk melawan PDIP. Target PSI di Pemilu 2024 dapat kursi dulu di DPR. Setelah itu, secara maraton PSI akan bergerilya untuk mengambil konstituen PDIP. Jokowi tahu bagaimana caranya.

Di sisi lain, isu dinasti yang dialamatkan kepada keluarga Jokowi terus berlanjut di media. Ini isu yang dianggap paling seksi. Aneh, karena lahir di era reformasi. Sangat disayangkan oleh banyak pihak. Ini membuat demokrasi Indonesia mundur jauh ke belakang.

Reformasi 1998 yang sukses menggantikan Orde Baru akankah berakhir dengan dinasti baru? Apakah gerakan reformasi akan mengantarkan Orde Baru ke dinasti baru? Dinasti Jokowi? Ini tidak akan berlanjut Jika pasangan Prabowo-Gibran kalah di Pilpres 2024 nanti. Jika menang, rakyat mesti siap dipimpin oleh dinasti Jokowi.


*Penulis adalah pengamat politik dan pemerhati bangsa

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Prabowo Apresiasi Rahmat Erwin Usai Raih Emas dan Pecahkan Rekor Dunia

Minggu, 27 September 2026 | 12:11

Partai Koalisi Bela Prabowo Mati-matian tapi Diam Saat Gibran Dikritik

Minggu, 27 September 2026 | 12:05

Daftar 10 Wilayah Terpanas 27 September 2026, Suhu Capai 37,4 Derajat

Minggu, 27 September 2026 | 11:57

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Spesifikasi Samsung Galaxy A08 Resmi Meluncur di Indonesia, Baterai 6.000 mAh

Minggu, 27 September 2026 | 11:37

Indonesia Calonkan Diri untuk Kursi Tidak Tetap DK PBB Periode 2029-2030

Minggu, 27 September 2026 | 11:04

Tak Ada Satupun Partai Koalisi Pasang Badan saat Gibran Hadapi Gugatan Ijazah

Minggu, 27 September 2026 | 10:31

KPK Amankan Perhiasan Diduga Emas Saat Geledah Kanwil BPN Jatim

Minggu, 27 September 2026 | 10:17

Perang Abad 21 Sudah Dimulai, tapi Mukan di Medan Tempur

Minggu, 27 September 2026 | 10:05

Sugiono: RI Percaya PBB, Tapi Multilateralisme Harus Lebih Representatif dan Gesit

Minggu, 27 September 2026 | 09:27

Selengkapnya