Berita

Bakal Cawapres Gibran Rakabuming Raka di Hall Indonesia Arena Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (25/10)/RMOL

Politik

Kampanye Bansos Gibran Langgengkan Kesenjangan Ekonomi Pemerintahan Jokowi

MINGGU, 29 OKTOBER 2023 | 08:27 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Dalam sesi deklarasi Capres-Cawapres Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka di depan pimpinan partai koalisi pendukungnya sebelum pendaftaran ke KPU, Rabu (25/10) lalu, turut dipaparkan sejumlah program.

Pada momen itu, Gibran bak sales marketing produk. Dia memamerkan beberapa program unggulan pemerintah yang yang sudah berjalan berupa bantuan sosial  (bansos) dan berupa program kredit bunga murah semacam Kredit Usaha Rakyat (KUR) serta tambahan kartu kartu bansos baru.

Ketua Asosiasi Kader Sosio Ekonomi Strategis (Akses), Suroto mengungkap pesan Gibran bahwa rakyat banyak yang miskin di republik ini, namun tetap akan berada dalam program santunan pemerintah.
 

 
“Rakyat akan kembali dicekoki model program ekonomi neo-klasik, model ekonomi neo-kapitalis, neo-liberalis dengan skema biarkan elite kaya dengan korporasinya rampas ekonomi rakyat seperti yang terjadi selama hampir dua periode kepemimpinan Joko Widodo (Jokowi) ayahnya,” ujar Suroto dalam keterangan tertulis, Minggu (29/10).

Lanjut dia, rakyat banyak yang jadi korban kemiskinan struktural akibat kebijakan ekonomi neo-liberal dan jadi residu dari kejahatan korporasi kapitalis. Di mana selama ini direduksi dengan cara disantuni, disedekahi dengan program bansos tersebut.
 
“Intinya, program Gibran akan teruskan program ayahnya. Model kebijakan ekonomi lama yang sebabkan kemiskinan dan kesenjangan sosial ekonomi yang diterapkan pemerintah hari ini akan terus dilanjutkan,” ungkap Suroto.

“Kemiskinan struktural ini akan dilanjutkan. Ibarat sakit lama akan ditawarkan dengan obat lama. Sehingga rakyat harus siap dengan sakit lama yang semakin akut, memburuk karena tidak akan ada pembaharuan,” jelasnya.
 
Di tengah hiruk pikuk pembangunan di era Jokowi yang banyak dielu-elukan selama ini, ternyata data kondisi sosial ekonomi masyarakat dalam sepuluh tahun terakhir cukup mengenaskan.

Suroto membeberkan, jumlah orang miskin dan orang kaya tidak mengalami perubahan signifikan. Bahkan di kelompok super kaya selama sepuluh tahun terakhir jumlahnya tetap sama.
 
“Elite kaya semakin kaya dan yang miskin makin miskin saja. Rakyat kecil di bawah disuruh bersaing berdarah darah antar tetangganya mengais rejeki, sementara elite penguasa dan elite kaya di atas membangun kongkalikong dan kekuasaan dinasti,” ungkapnya lagi.
 
Mengutip World Data Book - Suisse Credit Institute tahun 2021, Suroto menyebut, ternyata struktur kepemilikan kekayaan orang dewasa di Indonesia dalam posisi stagnan. Bahkan dibandingkan dengan rata-rata duniapun, kondisinya sangat tertinggal jauh.

“Orang kayanya makin kaya dan sangat sedikit sementara orang miskinnya, makin miskin dan sangat banyak serta membentuk pola struktur piramida yang sangat runcing ke atas,” bebernya.
 
Menurut dia, jumlah penduduk dewasa Indonesia tahun 2021 adalah sebanyak 183,7 juta atau 67,38 persen dari penduduk. Rata rata kekayaan orang dewasa Indonesia pada tahun 2021 sebesar 15.535 Dolar AS  atau Rp222,3 juta.

Sementara, sambung dia, rata rata dunia adalah sebesar 87.489 Dolar AS atau Rp1,257 milyar (dihitung dengan kurs tengah tahun 2021 sebesar 14.311 per  1 Dolar AS). Angkanya hanya 17,6 persen dari rata rata dunia.
 
“Dilihat dari angka mediannya adalah  sebesar 3.457 Dolar AS atau Rp49,4 juta per orang. Sementara rata rata dunia adalah sebesar 8.360 Dolar AS atau Rp119,6 juta per orang. Angkanya tetap hanya 41,3 persen dari rata rata dunia,” bebernya lagi.
 
Tahun 2021, Rata rata kelompok bawah (miskin) dengan kekayaan di bawah 10.000 Dolar AS atau di bawah Rp143,1 juta adalah sebanyak 75,1 persen. Rata rata dunia hanya 53,2 persen.
 
“Angka yang cukup fantastis adalah di kelompok kaya atau mereka yang memiliki kekayaan di atas 100.000 - 1 juta Dolar AS atau Rp1,43 - 14,3 milyar. Di Indonesia angkanya hanya 1,9 persen, sementara rata rata dunia adalah sebesar 11,8 persen atau kita hanya 16,1 persen dari rata rata dunia,” pungkas dia.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Fenomena Embun Upas Dieng Muncul Lagi, Ini Perkiraan Waktu Puncaknya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:13

Pidato Bahlil di Depan Prabowo: Kekuasaan Itu Harus Direbut!

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Kejagung Pelajari Pengajuan Justice Collaborator Sony Sonjaya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Ranking FIFA Indonesia Naik Lagi Usai Kalahkan Mozambik 1-0, Kini di Posisi 118 Dunia

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:57

Prabowo Dorong HIPMI Cetak Pengusaha Patriotik yang Peduli Rakyat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:51

Bupati Muara Enim Suap ASN BPK untuk Tutup Temuan Audit

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:41

Kelas Menengah Paling Terdampak Kenaikan Pertamax

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Bedah Rumah Warga, Wujud Nyata Pemasyarakatan Berdampak untuk Masyarakat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Prabowo Sering ke Luar Negeri karena Indonesia Disukai Banyak Negara

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:11

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Selengkapnya