Berita

Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani saat menjadi co-chair dalam Coalition of Finance Ministers for Climate Action di Maroko, 11 Oktober 2023/Ist

Bisnis

Tangani Krisis Iklim, Sri Mulyani Pimpin Pertemuan Menkeu Dunia di Maroko

JUMAT, 13 OKTOBER 2023 | 10:25 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Dalam upaya menangani krisis iklim global yang semakin mendesak, Menteri Keuangan RI Sri Mulyani bersama dengan Menteri Keuangan Belanda, Sigrid Kaag, memimpin jalannya pertemuan antar Menteri Keuangan dunia yang tergabung dalam Coalition of Finance Ministers for Climate Action.

Pertemuan ke-10 yang digelar di Marakesh, Maroko, pada Rabu (11/10) itu dihadiri oleh 91 negara koalisi dan 26 institusi mitra. Pertemuan itu menghasilkan Pernyataan Aksi Iklim dari setiap negara yang mencakup komitmen bersama untuk mengembangkan taksonomi ramah lingkungan dan berkelanjutan, serta melakukan penilaian risiko keuangan terkait perubahan iklim.

“Permasalahan iklim menjadi semakin penting seiring berjalannya waktu. Melihat urgensi ini, kami para Menteri Keuangan sedunia berkomitmen untuk menanganinya dengan serius, karena permasalahan iklim merupakan permasalahan bersama-permasalahan dunia," kata Sri Mulyani, seperti dikutip dari akun Instagram @smindrawati, Jumat (13/10).


Dalam pertemuan tersebut terdapat empat topik utama yang dibahas, pertama ialah terkait keberlanjutan lingkungan dan ekonomi. Sebagai co-chair Coalition, Sri Mulyani menekankan bahwa negara-negara harus terus berkomitmen terhadap keberlanjutan lingkungan dan ekonominya.

“Keuangan transisi menjadi salah satu cara yang disepakati dalam menyeimbangkan keduanya,” jelasnya.

Selanjutnya, topik kedua yang dibahas yaitu terkait peran pemerintah. Peran pemerintah menjadi salah satu tonggak utama dalam upaya keberlanjutan, seperti melalui reformasi kebijakan perpajakan, pembentukan komite-komite terkait, serta penerbitan obligasi hijau.

Pembahasan ketiga terkait inovasi dan pengukuran. Menurut Sri Mulyani, negara-negara anggota harus mengadopsi pendekatan yang inovatif serta memiliki metode pengukuran yang terukur untuk memastikan tujuan-tujuan berkelanjutan dalam menangani krisis iklim ini dapat tercapai.

Pembahasan terakhir yaitu kolaborasi, yang harus diutamakan baik dalam lingkup domestik maupun global. Tindakan ini, menurut Sri Mulyani, harus dilakukan oleh institusi global dalam mengoordinasikan serta mengharmonisasikan upaya bersama guna mengatasi krisis iklim.

"Saya sangat kagum dengan pertemuan ini. Pembicaraan yang terjadi menjadi bukti betapa besarnya potensi yang kita miliki bila kita terus berkolaborasi dan berinovasi dalam menghadapi perubahan iklim," tambah Sri Mulyani.

Di sepanjang tahun ini beberapa fenomena krisis iklim yang sangat mengancam telah terjadi di dunia, mulai dari terjadinya pendidihan global (global boiling) pada Juli 2023, dimana suhu bumi tercatat sebagai yang terpanas sepanjang sejarah, serta kenaikan suhu permukaan laut rata-rata global hingga 0,51 derajat celcius, tertinggi dibandingkan rata-rata tahun 1991 hingga 2020.

Selain itu situasi lain mulai semakin mengancam yang juga disertai dengan fenomena El-Nino di tahun 2023. Risiko kemarau panjang juga disebut dapat meningkatkan potensi bencana kebakaran hutan dan lahan, kekeringan air, dan mengganggu ketahanan pangan.

Untuk itu dalam upaya mengatasi masalah tersebut, seluruh pembahasan ini menurut Sri Mulyani, akan dibahas lebih lanjut ketika Finance Day pada COP28 yang akan diselenggarakan di Dubai, pada Desember 2023. COP28 sendiri akan menjadi tonggak penting dalam sejarah yang berperan sebagai landasan upaya-upaya aksi iklim kolektif dunia.

"Kami sepakat untuk terus mengedepankan kebijakan-kebijakan ketahanan iklim, investasi berkelanjutan, serta kebijakan fiskal yang akan terus melindungi bumi kita. Kini dan nanti!,” tegas Sri Mulyani dalam unggahannya.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Ini Pesan SBY untuk Pemerintahan Prabowo soal Langkah Stabilisasi Ekonomi

Kamis, 11 Juni 2026 | 03:45

Pengusaha Perikanan jadi Tersangka Kasus Alih Fungsi Lahan di Batang

Kamis, 11 Juni 2026 | 03:19

Atlet Terbaik Taekwondo Asia Siap Tampil di Jakarta pada Agustus Mendatang

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:55

SBY: Masih Tersedia Opsi dan Solusi dari Otoritas Moneter dan Fiskal Kita

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:31

Reformasi MBG dan Menjaga Asa Prabowo

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:02

Program MBG Jangan Dihancurkan Gegara Tata Kelola Bermasalah

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:42

Danantara Perkuat Fokus Bisnis Telkom Lewat Pemangkasan Anak Usaha

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:21

Said Didu soal Kasus BGN: Prabowo Betul-betul Dikhianati

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:07

Kapuspen TNI: Media Miliki Peran Strategis Mencerdaskan Bangsa

Kamis, 11 Juni 2026 | 00:50

DPD Minta Dapur MBG yang Sudah Berjalan Jangan Diputus Mendadak

Kamis, 11 Juni 2026 | 00:30

Selengkapnya