Berita

Presiden Rusia Vladimir Putin saat melakukan panggilan video bersama Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina dalam upacara untuk menandai kedatangan pengiriman bahan bakar pertama ke Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Rooppur, pada 5 Oktober 2023/Sputnik

Global

Bangladesh Resmi Terima Pengiriman Uranium

JUMAT, 06 OKTOBER 2023 | 11:14 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Bangladesh telah menerima pengiriman pertama bahan bakar uranium dari Rusia untuk pembangkit listrik tenaga nuklir pertamanya pada Kamis (6/10).

Proyek yang bernilai sekitar 12,65 miliar dolar (Rp 197 triliun) ini akan membuat Bangladesh menjadi negara ke-33 di dunia yang memiliki kemampuan untuk memproduksi tenaga nuklir.

Mengutip Asia One, Jumat (6/10), negara di Asia Selatan ini saat ini tengah aktif membangun dua pembangkit listrik tenaga nuklirnya, yang bekerja sama dengan perusahaan milik negara Rusia, Rosatom, dengan 90 persen proyek tersebut didanai oleh pinjaman dari Moskow, dalam jangka waktu pengembalian selama 28 tahun dan masa tenggang selama 10 tahun.


“Hari ini adalah hari kebanggaan dan kegembiraan bagi rakyat Bangladesh,” kata Perdana Menteri Sheikh Hasina dalam konferensi video dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, yang disebut Kedutaan Besar Rusia di Bangladesh sebagai upacara pengiriman bahan bakar nuklir dalam sebuah postingan di Facebook.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, yang baru-baru ini mengunjungi Bangladesh, memastikan bahwa Moskow berkomitmen untuk menyelesaikan proyek ini tepat waktu, meskipun mereka banyak menghadapi kendala dari sanksi Barat terkait konflik di Ukraina.

Progres konstruksi ini diketahui juga sempat tertunda akibat pembatasan pandemi Covid-19 dan juga masalah terkait sanksi AS.

Namun, pembangkit listrik pertama dengan kapasitas pembangkit sebesar 2.400 megawatt ini dijadwalkan akan mulai beroperasi pada Juli tahun depan.

Proyek tersebut merupakan salah satu upaya Bangladesh dalam mengatasi krisis listriknya sejak 2013, hal ini disebabkan oleh cuaca yang tidak menentu dan kesulitan dalam membayar impor bahan bakar di tengah menurunnya cadangan devisa dan melemahnya mata uang.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

UPDATE

Demi Keamanan, Kapolri Patut Didukung Usut Dugaan Penyadapan Terhadap Presiden

Kamis, 05 November 2026 | 16:34

Potensi Wisata Besar Belum Dongkrak Ekonomi Sabang

Kamis, 05 November 2026 | 16:27

Pertamina Drilling Gandeng Halliburton Perkuat Operasional Migas di Timteng

Kamis, 05 November 2026 | 16:12

DPR Taruh Harapan di Pundak Suyudi dan Jajaran Usut Tuntas Kasus Listyo Sigit Dkk

Kamis, 05 November 2026 | 16:00

Bobolnya Lapis Pengaman Presiden

Kamis, 05 November 2026 | 15:48

Ekonomi Aceh Tetap Tumbuh Positif Meski Dihantam Bencana

Kamis, 05 November 2026 | 15:46

BPS: Pengangguran RI Berkurang 77 Ribu Orang per Agustus 2026

Kamis, 05 November 2026 | 15:38

Pertamina Hulu Energi Catat Torehan Manis Jelang Akhir Tahun

Kamis, 05 November 2026 | 15:33

ABP: Rakyat Tetap Berdiri Bersama Presiden Prabowo

Kamis, 05 November 2026 | 15:28

Jokowi Keberatan Roy Suryo Minta Ijazah Diperiksa Lagi

Kamis, 05 November 2026 | 15:22

Selengkapnya