Berita

Ketua Umum Front Pembangunan Persatuan Rakyat (FPPR), Yudi Syamhudi Suyuti/Net

Bisnis

Indonesia Berpotensi Stabilkan Pasar Modal Global

RABU, 04 OKTOBER 2023 | 08:31 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Gejolak ekonomi global akibat dampak dari rencana pengumuman The Federal Reserve (The Fed) Bank untuk menaikkan suku bunga yang pada akhirnya ditangguhkan, membuat perekonomian masih belum bisa dipastikan stabil.

Apalagi, Presiden The Fed, Cleveland Loretta Mester mengatakan bahwa bank sentral AS kemungkinan perlu menaikkan suku bunga sekali lagi tahun ini dan kemudian mempertahankannya pada tingkat yang lebih tinggi untuk beberapa waktu, guna mengembalikan inflasi ke target 2 persen.

“Pernyataan Loretta Mester ini dinyatakan pasca-penangguhan kenaikan suku bunga,” ujar Ketua Umum Front Pembangunan Persatuan Rakyat (FPPR), Yudi Syamhudi Suyuti kepada wartawan, Rabu pagi (4/10).


Katanya, faktor yang paling mendasar dari ketidakpastian keuangan global ini adalah terjadinya defisit permodalan keuangan global karena terhambatnya neraca keuangan global, akibat kredit macet yang dialami oleh banyak negara di dunia.

Hal ini menimbulkan kekurangan aliran rantai perekonomian yang dipicu oleh Covid 19, Perang Rusia dan Ukraina dan berbagai berbagai persoalan yang akan muncul seperti perubahan iklim dan pemanasan global. Di mana untuk mengatasinya memerlukan reformasi keuangan secara mendasar.

Dalam konteks investasi di pasar modal, dampak pengumuman The FED Bank membuat para investor di berbagai pasar modal seperti New York Stock Exchange (NYSE), Nasdaq Stock Market (NASDAQ), Shanghai Stock Exchange (SSE), Euronext, Eurozone dan di hampir para Investor di berbagai Pasar Modal di dunia berpotensi mengalami goncangan psikologis.

“Hal ini tentu memerlukan solusi di luar kebiasaan, namun terukur secara rasional dalam mengatasi masalah goncangan psikis investasi,” tegas Yudi.

Salah satu formula yang memungkinkan dalam mengatasi persoalan ketidakpastian ini adalah menciptakan stabilitas pasar melalui pasar modal di Indonesia. Hal ini, karena Indonesia merupakan negara yang mampu menyumbang fundamental stabilitas ekonomi dan keuangan terbesar di Asia Tenggara.

Selain itu, Indonesia merupakan negara non-blok yang tidak berpihak pada konflik antara Amerika Serikat dan Tiongkok, juga tidak terlibat secara blocking perang Rusia dan Ukraina.

Sehingga stabilitas pasar keuangan global, justru mampu diredam, jika para investor pasar modal baik dari Amerika Serikat, Tiongkok, Korea Selatan, Jepang dan lainnya menanamkan investasinya di Pasar Keuangan Indonesia.

Melalui investasi di Indonesia, seperti di saham-saham Nasional Perusahaan Indonesia seperti Perusahaan Logistik, Perbankan, Sumber Daya Alam, Pertanian, Perkebunan dan Perusahaan-Perusahan yang berpotensi melancarkan penambahan modal pada perusahaan-perusahaan dalam melancarkan arus masalah-masalah ekonomi yang macet. Maka hal ini membuat rantai produksi, perdagangan dan distribusi mendorong lancarnya neraca keuangan.

Namun ada beberapa hal yang dibutuhkan dunia pada Indonesia adalah stabilitas politik. Hal ini akan menjadi tahapan dalam pencapaian konsensus baru tata keuangan global. Stabilitas politik Indonesia akan tercapai jika terjadi titik temu arus pembangunan dari bawah ke atas dan dari atas ke bawah.

“Sehingga pengaruh pasar modal Indonesia harus didorong untuk menguatkan pembiayaan perekonomian akar, seperti melibatkan UMKM dalam pembangunan ekonomi, sosial dan budaya,” terangnya.

“Di sinilah dibutuhkan banyak eksekusi gabungan rantai pasokan keuangan secara kapital, sosial dan kultural. Sehingga partisipasi dan kerjasama ekonomi yang hidup mampu menggairahkan investasi di pasar modal Indonesia,” demikia Yudi.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

Teknik Klasik, Kaitkan Prabowo dengan Teror Aktivis

Kamis, 02 April 2026 | 14:02

Kepala BNPB hingga BMKG Turun Langsung ke Lokasi Gempa di Sulut dan Malut

Kamis, 02 April 2026 | 13:59

TEBE Siap Tebar Dividen Rp200,46 Miliar, Cek Jadwal Lengkapnya

Kamis, 02 April 2026 | 13:51

Penerapan WFH di DKI Bisa Jadi Contoh Penghematan BBM

Kamis, 02 April 2026 | 13:40

Awas Penunggang Gelap Gelar Operasi Senyap Jatuhkan Prabowo Lewat Kasus Aktivis KontraS

Kamis, 02 April 2026 | 13:33

Kemkomdigi Tunggu Itikad Baik Youtube dan Meta Patuhi PP Tunas

Kamis, 02 April 2026 | 13:20

Trump akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

Kamis, 02 April 2026 | 13:19

Demi AI, Oracle PHK 30.000 Karyawan Lewat Email

Kamis, 02 April 2026 | 13:19

ASN Diwanti-wanti WFH Bukan Libur Panjang

Kamis, 02 April 2026 | 13:15

Aksi Heroik Sugianto Bikin Prabowo Bangga, Diganjar Penghargaan Presiden Korsel

Kamis, 02 April 2026 | 13:09

Selengkapnya