Berita

Dua mantan Pegawai KPK, Febri Diansyah dan Rasamala Aritonang, tiba di Gedung Merah Putih KPK, Senin (2/10)/RMOL

Hukum

Febri Diansyah dan Rasamala Aritonang Bakal Dicecar Soal Bukti Dokumen yang Diamankan KPK

SENIN, 02 OKTOBER 2023 | 17:20 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Dua mantan pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Febri Diansyah dan Rasamala Aritonang, akan didalami soal barang bukti dokumen yang diamankan tim penyidik terkait dugaan korupsi di Kementerian Pertanian (Kementan).

Seperti disampaikan Jurubicara Bidang Penindakan dan Kelembagaan KPK, Ali Fikri, pihaknya menemukan berbagai barang bukti saat melakukan penggeledahan di beberapa tempat.

"Baik itu uang cash rupiah maupun mata uang asing di rumah dinas menteri yang teman-teman juga sebagian sudah mengetahui jumlahnya lumayan besar, kurang lebih Rp30 miliar, termasuk juga dugaan senjata api yang sudah diserahkan kepada Direktorat Intelkam Polda Metro Jaya," kata Ali kepada wartawan di Gedung Merah Putih KPK, Jalan Kuningan Persada Kav 4, Setiabudi, Jakarta Selatan, Senin sore (2/10).


Dari barang bukti tersebut, lanjut Ali, akan dikonfirmasi kepada saksi-saksi yang dipanggil. Termasuk dua orang saksi yang sudah hadir, yakni mantan Jurubicara KPK Febri Diansyah dan mantan Kepala Bagian Perancangan Peraturan dan Produk Hukum pada Biro Hukum KPK Rasamala Aritonang.

Ali menjelaskan, kedua saksi tersebut, dan satu saksi lainnya yakni Donal Fariz selaku mantan peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) dipanggil dalam kapasitasnya sebagai pihak yang berprofesi sebagai pengacara, bukan sebagai pengacara atau kuasa hukum seseorang yang berurusan dengan KPK.

"Kami perlu konfirmasi kepada para saksi ini, termasuk Donal Fariz dalam kapasitasnya bukan sebagai kuasa hukum ataupun advokat, jadi nanti kami akan konfirmasi terkait dengan dokumen-dokumen dimaksud," jelas Ali.

Ali memastikan, dalam pemanggilan tiga saksi tersebut, pihaknya sudah berkirim surat beberapa hari sebelumnya.

Saat ditanya soal dugaan perusakan barang bukti dokumen apakah terkait dengan saksi yang diperiksa hari ini, Ali tidak membantahnya.

"Jadi sebagaimana yang sudah kami sampaikan kemarin, ketika proses penggeledahan di Kementerian Pertanian di Gedung A, di sebuah ruang termasuk ruang Sekjen, ruang Menteri, kemudian kami memperoleh informasi ada dugaan barang bukti yang sengaja oleh pihak-pihak tertentu dihancurkan, tentu dalam rangka untuk menghilangkan jejak," papar Ali.

"Tentu nanti berikutnya kami pasti akan telusuri lebih jauh terkait hal itu. Karena bagaimanapun juga ini merupakan tindakan-tindakan yang dapat dikategorikan merintangi proses penyidikan yang sedang dilakukan oleh penegak hukum, termasuk KPK. Dan itu dilarang oleh UU, ada ancaman hukumannya di Pasal 21 UU Tipikor," sambung Ali.

Berdasarkan informasi penyidik, kata Ali, upaya menghilangkan barang bukti tersebut dilakukan dengan cara disobek atau dihancurkan.

"Tapi sekali lagi, apapun perbuatannya yang itu sengaja untuk merintangi proses penyidikan itu dapat dihukum. Itu harus dipertanggungjawabkan secara hukum," tegas Ali menutup.

Pada Jumat (29/9), KPK resmi mengumumkan proses penyidikan dugaan tindak pidana korupsi yang terjadi di Kementan. Di mana, penyidikan ini terkait dengan dugaan pemerasan terhadap pejabat di lingkungan Kementan.

Akan tetapi, KPK belum membeberkan identitas para tersangka maupun konstruksi perkaranya. Hal itu akan diungkapkan ke publik ketika dilakukan upaya paksa penangkapan maupun penahanan terhadap para tersangka.

KPK pun sudah melakukan penggeledahan di rumah dinas Mentan di Jalan Widya Chandra V nomor 28, Kebayoran Baru, Jakarta Pusat sejak Kamis sore (28/9) hingga Jumat siang (29/9).

Dari penggeledahan di rumah dinas Mentan itu, KPK mengamankan berbagai barang bukti, di antaranya uang tunai dalam bentuk rupiah, dolar AS, dan dolar Singapura yang jumlahnya sekitar Rp30 miliar. Juga ditemukan berbagai dokumen dan alat elektronik.

Tak hanya itu, KPK juga menemukan 12 pucuk senjata api. Untuk temuan senjata api tersebut KPK menyerahkannya kepada Polda Metro Jaya untuk ditelusuri lebih lanjut.

Sedangkan penggeledahan di kantor Kementan, KPK mengamankan bukti berupa dokumen dan alat elektronik.

Berdasarkan informasi yang diperoleh redaksi, dalam perkara dugaan pemerasan di Kementan ini, KPK sudah menetapkan tiga orang tersangka. Yakni Mentan SYL; Sekretaris Jenderal Kementan 2021-sekarang, Kasdi Subagyono; dan Direktur Pupuk dan Pestisida 2020-2022 atau Direktur Alat Mesin Pertanian 2023, Muhammad Hatta.

Dan pada hari ini, Senin (2/10), KPK mengumumkan bahwa salah satu tersangka juga kembali ditetapkan sebagai tersangka penerimaan gratifikasi dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Sosok yang juga ditetapkan sebagai tersangka gratifikasi dan TPPU adalah Mentan SYL. 
Terdapat dua Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) untuk Mentan SYL, yakni Sprindik terkait perkara korupsi dan gratifikasi, dan Sprindik untuk TPPU.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

Bursa Asia Awali November di Zona Merah

Senin, 02 November 2026 | 08:21

Laba Samindo Resources Melonjak 53 Persen, Efisiensi Biaya Jadi Penopang

Senin, 02 November 2026 | 07:55

Jet Pribadi Jatuh dan Meledak Dekat Permukiman, Sembilan Orang Tewas

Senin, 02 November 2026 | 07:40

Dituding Manipulasi Suara, Ketua KPU India Didesak Mundur

Senin, 02 November 2026 | 07:20

OJK: Tak Ada Dua Sanksi untuk Satu Pelanggaran di Pasar Modal

Senin, 02 November 2026 | 07:06

Polda Metro Tak Cukup Minta Maaf soal “Mahasewa Bayaran”

Senin, 02 November 2026 | 06:40

Kelurahan Berperan Besar Menuju Jakarta Kota Global

Senin, 02 November 2026 | 06:36

Potensi Pasar Asuransi Syariah RI Masih Besar

Senin, 02 November 2026 | 06:00

PPP NTB Protes Mardiono Asal Pecat Pengurus

Senin, 02 November 2026 | 05:39

Ketika Syarat Konstitusional Wapres Dipersoalkan

Senin, 02 November 2026 | 05:26

Selengkapnya