Berita

Putri sulung Presiden keempat RI, Gus Dur, Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid/Net

Politik

Berkaca Rempang hingga Wadas, Putri Gus Dur: Selama Rakyat Dipandang Rendah, Maka Kisah Tragis akan Terus Terulang

MINGGU, 24 SEPTEMBER 2023 | 11:57 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Beragam aksi warga yang hendak mempertahankan tanah miliknya menjadi perhatian serius putri sulung Presiden keempat RI, Gus Dur, Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid.

Alissa Wahid secara serius menyimak peristiwa yang sedang hangat di Pulau Rempang, Batam dan Pohuwato, Gorontalo. Dia berkesimpulan bahwa semua kasus ini berasal dari persoalan cara memandang rakyat dalam agenda pembangunan.

“Di tempat-tempat berbeda itu, rakyat tidak ujug-ujug marah,” tegasnya lewat akun media sosial X sesaat lalu, Minggu (24/9).


Menurutnya, ketika tanah rakyat diambil, baik dengan intimidasi ringan maupun kasar, maka perlawanan rakyat menjadi hal yang lumrah. Untuk melakukan perlawanan, rakyat tidak butuh orang luar.

“Naiflah yang menganggap rakyat tidak punya nurani, nalar dan kearifannya, sehingga butuh provokasi dari luar untuk berjuang,” ujarnya.

Alissa Wahid juga mengurai pengalamannya saat bertemu para pejabat dan wakil rakyat. Kebanyakan mereka menganggap rakyat sebagai kumpulan orang lemah, sebagian lagi tidak tahu kepentingan bangsa dan negara.

“(Ada) yang menganggap rakyat boleh dikorbankan. (Ada) yang menganggap rakyat tidak tahu diuntung sudah dapat ganti rugi besar. Ganti rugi,” tekannya.

Pengalaman di Wadas

Penjahit Gusdurian ini turut berbagi pengalaman saat dirinya ke Wadas, Purworejo, Jawa Tengah. Di sana dia pernah bertanya kepada mereka yang menerima tanahnya diambil negara dengan ganti rugi.

Jawaban warga terbilang mencengangkan. Sebab, para pejabat meyakinkan warga bahwa semua tanah di Wadas sebenarnya adalah milik negara, untuk itu tanah tersebut akan diambil untuk pembangunan proyek. Padahal di satu sisi, warga memiliki sertifikat kepemilikan tanah yang sah.

“Kata bapak-bapak itu, rakyat itu nyewa kok. Nyatanya kami kan tiap tahun mbayar pajak. Itu kan biaya sewa supaya bisa memakai tanahnya,” ujar Alissa menirukan ucapan warga yang ditemuinya saat di Wadas.

Menurutnya, para pejabat menganggap urusan tanah hanya urusan harga yang lebih tinggi. Bukan soal jatidiri, sejarah, dan penghidupan sang rakyat.

“Selama rakyat dipandang rendah dan boleh dikorbankan atas nama pembangunan yang berpihak hanya pada keleluasaan bisnis, maka selama itu pula kisah-kisah tragis seperti Pubabu, Pohuwato, Kendeng, Rembang, Sukolilo Kendal, Lampung, dan Rempang akan terus terulang,” tutupnya.

Populer

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

UPDATE

Obituari Dudi Sudibyo

Senin, 16 Maret 2026 | 21:36

Sekda Jateng Diperiksa Kejati

Senin, 16 Maret 2026 | 21:12

Mendes Optimistis Ekonomi Desa Bergerak Bersama Pemudik

Senin, 16 Maret 2026 | 21:06

Kopra by Mandiri Pertahankan Gelar Best Trade Finance Provider in Indonesia 2026

Senin, 16 Maret 2026 | 20:58

Lebih dari 32 Ribu Orang Ikut Mudik Gratis Presisi 2026

Senin, 16 Maret 2026 | 20:58

Kunjungi Kantor Agrinas, Menkop Godok Operasional Kopdes

Senin, 16 Maret 2026 | 20:49

Media Berperan Penting sebagai Pilar Demokrasi

Senin, 16 Maret 2026 | 19:48

PT KAI Bangun 5.484 Rusun Nempel Stasiun di Empat Kota

Senin, 16 Maret 2026 | 19:28

Survei Konsumen: Komitmen Lingkungan Jadi Penentu Pilihan AMDK

Senin, 16 Maret 2026 | 19:14

Untung dari Perang

Senin, 16 Maret 2026 | 19:05

Selengkapnya