Berita

Aksi penolakan masyarakat Rempang menolak penggusuran atas nama investasi/Net

Publika

Rempang dan Perjuangan Bangsa Melayu

OLEH: IRJEN (PURN) HAMIDIN*
JUMAT, 22 SEPTEMBER 2023 | 15:59 WIB


Melayukah aku?

Sebagai seorang pribumi yang lahir di kaki gunung, tepatnya di Kota Pagar Alam yang terletak persis di kaki gunung Dempo Sumatera Selatan dan suku yang tercatat dalam data dukcapil ditulis suku "Besemah" dan dalam berbagai lieratur sejarah ditulis sebagai suku "Pasemah" atau suku "Melayu Pasemah" tentu dipastikan aku berasal dari asli suku besemah, sub dari suku "Melayu", suku yang di Sumatera Selatan menyebar di Kota Pagar Alam, Kabupaten Lintang Empat Lawang, Kabupaten Lahat, Kabupaten Oku Selatan, dan Kabupaten Muara Enim.
 
Secara regional suku melayu ini menyebar hampir disebagian besar pesisir timur Sumatera, Semenanjung Malaka, dan dibeberapa wilayah di Kalimantan, yang menurut sejarah bahwa suku ini berasal dari bangsa Proto Melayu yaitu orang-orang Astronesia yang datang masuk ke wilayah Nusantara pada tahun 1500 SM dan meninggalkan keturunan di berbagai wilayah nusantara.


Yang terlebih dulu masuk ke nusantara sejarah menyebutnya melayu tua atau Proto Melayu dan yang belakangan masuk disebut melayu muda atau Deutro Melayu. Proto Melayu inilah yang diyakini sebagian Melayu Polenesia yang datang dari selatan Cina yang tersebar dari Madagaskar sampai laut timur pacific dan meninggalkan keturunan Suku Dayak dan Suku Toraja.  

Proto Melayu masuk ke Nusantara diperkirakan pada tahun 1500 SM, sedangkan melayu berikutnya adalah keturunan melayu muda atau Deutro Melayu yang masuk Nusantara pada priode priode tahun 400 SM dan 300 SM. Dalam berbagai literatur sejarah juga mencatat bahwa pasca Deutro Melayu memasuki Nusantara berdirilah kerajaan melayu yaitu kerajaan Malayapura atau kerajaan Dharmasraya atau Kerajaan Jambi yang saat itu disebut "MoLuoYu Guo" (dibaca; mat - la -yu kwok). Jadi aku adalah Melayu - asli suku Melayu - dari Deutro Melayu. Untuk itu terbesit dibenakku untuk menulis tentang Bangsa Melayu ini.

Melayu di Rempang

Masih mengutip dari berbagai catatan dan berbagai sumber, terkait hiruk pikuk konflik suku Melayu versus Pemerintah di Rempang, untuk meyakinkan maka kubuka lagi WA saudaraku yang juga seorang tokoh masyarakat di Rempang beberapa hari lalu. Jujur kutemukan artikel menarik dan heroik yang dia berikan, bahwa; setelah era kerajaan Bintan dan Temasik (kini Singapura) abad 12 sampai 14 berdirilah Kesultanan Melaka.

Saat Melaka dipimpin oleh Sultan Mansursyah atau Raja Abdulah (1458 - 1477 ) melesatlah sebuah nama terkenal Laksamana Hang Tuah seorang tokoh yang berasal dari sungai Duyung, Lingga. Kenapa dia menjadi begitu hebat? Sejarah mencatat bahwa karena beliau dibantu oleh sahabat-sahabatnya yang berasal dari Bintan, mereka adalah Hang Jebat, Hang Lekir, Hang Lekiu dan Hang Kasturi.

Saking hebatnya para sahabatnya, Hang Tuah mengatakan bahwa para sahabatnya berasal dari daerah yang sama dengan dia. Para perajurit hebat yang berasal dari Bintan ini bersama rakyat terlatih menguasai Kepulauan Riau dan Selat Malaka. Mereka para rakyat terlatih ini berasal dari Pulau Bintan, Bulang, Galang, Karimun, Kepulauan Lingga, Pulau Tujuh, Riau daratan, Kalimantan, Singapura dan Malaysia sekarang.

Masa kejayaan Sultan Mansyur Syah Hang Tuah diberi tanggung jawab mengamankan Bintan, Kepulauan Riau, dan Singapura. Setelah beliau wafat penjagaan dan pengawasan diserahkan pada menantunya Hang Nadim dan Hang Jebat. Anak keturunan Hang Tuah dan Hang Jebat diberi gelar kehormatan sebagai Datuk Kaya dan Datuk Patinggi.

Saking kuatnya, dalam tulisannya Tome Pires menulis “siapa yang memiliki Melaka, dialah yang menentukan hidup matinya Venesia”. Pada tanggal 25 Juli 1511, Admiral D Alburqueque dengan 1600 tentara 15 kapal besar menyerang dengan bantuan bantuan Portugis dari Goa India, tanggal 15 Agustus Melaka Roboh, Pemeritahan dan pertahanan pindah ke Bintan.

Oktober 1512 Kota Kara diserang Portugis pimpinan D' Alberquegue dan Jotge de Brito dan diserang ulang tahun 1523 dan 1524. Terakhir 23 Oktober 1526 pertahanan Sultan Mahmud di Bengkalis diserbu, begitupun serangan susulan terjadi atas Pulau Bulang, Rempang, Galang, dan berakhir di Bintan. Sultan Mahmud berpindah ke Pekan Tua Pelalawan ( Riau daratan sekarang ) dan tahun 1528 beliau wafat.

Inilah sekilas wajah perjuangan bangsa Melayu termasuk pentingnya Rempang bagi sejarah Melayu.

*Penulis merupkan pensiunan jenderal bintang dua Polri

Populer

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

UPDATE

Obituari Dudi Sudibyo

Senin, 16 Maret 2026 | 21:36

Sekda Jateng Diperiksa Kejati

Senin, 16 Maret 2026 | 21:12

Mendes Optimistis Ekonomi Desa Bergerak Bersama Pemudik

Senin, 16 Maret 2026 | 21:06

Kopra by Mandiri Pertahankan Gelar Best Trade Finance Provider in Indonesia 2026

Senin, 16 Maret 2026 | 20:58

Lebih dari 32 Ribu Orang Ikut Mudik Gratis Presisi 2026

Senin, 16 Maret 2026 | 20:58

Kunjungi Kantor Agrinas, Menkop Godok Operasional Kopdes

Senin, 16 Maret 2026 | 20:49

Media Berperan Penting sebagai Pilar Demokrasi

Senin, 16 Maret 2026 | 19:48

PT KAI Bangun 5.484 Rusun Nempel Stasiun di Empat Kota

Senin, 16 Maret 2026 | 19:28

Survei Konsumen: Komitmen Lingkungan Jadi Penentu Pilihan AMDK

Senin, 16 Maret 2026 | 19:14

Untung dari Perang

Senin, 16 Maret 2026 | 19:05

Selengkapnya