Berita

Kepala BP2MI Benny Ramdhani di Bandara Soetta, Jakarta, Minggu (17/9)/Ist

Politik

Sambut Kedatangan 4 Jenazah PMI dari Taiwan, Kepala BP2MI akan Selidiki Kematian Tidak Wajar

SENIN, 18 SEPTEMBER 2023 | 01:13 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Empat jenazah Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang bekerja di negara Taiwan telah tiba di Indonesia. Pemulangan jenazah tersebut difasilitasi oleh Badan Pelindungan Pekerjaan Migran Indonesia (BP2MI).

Kedatangan empat jenazah itu disambut langsung oleh Kepala BP2MI, Benny Rhamdani di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Minggu (17/9). Benny pun menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya empat pahlawan devisa itu.

"Saya yang didampingi jajaran BP2MI menyambut empat jenazah anak bangsa sekaligus pahlawan devisa kita yang meninggal dunia di Taiwan, kami dari BP2MI atas nama negara menyampaikan duka, kita kembali kehilangan pahlawan devisa," kata Benny dalam keterangan tertulisnya.


Wakil Ketua Umum Partai Hati Nurani (Hanura) menyebut satu dari empat jenazah tersebut merupakan laki-laki bernama Jaenal Fanani asal Watulimo, Trenggalek, Jawa Timur. Jaenal meninggal dalam insiden bentrokan antara perguruan silat yang ada di Taiwan.

"Almarhum Jaenal Fanani, bekerja dalam sektor manufaktur, almarhum meninggal karena perkelahian antar organisasi bela diri sesama organisasi asal Indonesia yang ada di Taiwan, peristiwanya terjadi 2 September 2023," ungkapnya.

Benny mengatakan, keterlambatan pemulangan almarhum Jaenal ke Indonesia lantaran harus melalui prosedur dan mekanisme yang ada di Taiwan. Sedangkan, jenazah bernama Suryani yang bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga atau ART meninggal karena pendarahan akut pada jaringan lunak tubuh.

"Suryani pekerjaan sebagai ART, asal Tulungagung, Jawa Timur, akibat kematian sakit pendarahan akut pada jaringan lunak tubuh, kepulangan almarhum langsung difasilitasi oleh agensinya," ucapnya.

Kemudian, jenazah bernama Lustianah berasal dari Lampung Timur, yang juga bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga (ART) di negara Taiwan meninggal karena mengidap penyakit turbocolisis alias TBC.

"Lustianah pekerjaan sebagai ART overstay, asal Lampung, akibat kematian sakit TBC, jenazah PMI keempat bernama Yana Mulyana. pekerjaan sebagai ABK ilegal, asal Jawa Barat. Akibat kematian penyakit belum diketahui, masih menunggu hasil autopsi Tim Dokter RS di Taiwan," ucapnya.

Mantan Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD RI) itu mengatakan, empat jenazah PMI tersebut akan diserahkan kepada pihak keluarga mereka masing-masing.

"Setelah ini para jenazah akan diantarkan ke kampung halaman mereka dengan ambulan yang telah disiapkan, kita berharap dalam perjalanan berjalan dengan lancar selamat sampai tujuan, dan perwakilan BP2MI yang ada di daerah tentunya saya sudah koordinasikan untuk mengawal para jenazah sampai tiba di rumah duka," imbuhnya.

"Kita doakan semoga dosa dan salah almarhum diampuni oleh Allah SWT dan semoga amal ibadahnya juga diterima, dan semoga juga husnul khatimah, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan kesabaran untuk menerima ujian ini," tutur Benny.

Kendati begitu, Benny menyebut ada yang janggal terhadap kematian PMI bernama Suryani. Pasalnya, penyakit yang diidap oleh Suryani tidak masuk akal. Oleh karena itu, Benny memerintahkan kepada jajarannya untuk menelusuri hasil medical check up Suryani.

"Saya akan menggunakan intuisi saya bahwa ada yang aneh dengan keberangkatan Suryani, cuma 9 bulan tiba-tiba sakit berat, kok tidak terbaca dalam hasil medis pada saat check up pemberangkatan Suryani, ini yang diberangkatkan oleh agensi Melati Indonesia, ini berangkat 2022 baru sebelas bulan ke sini tiba-tiba penyakitnya cukup parah," ujarnya.

"Tentu ini bukan curiga ya, tapi saya sudah perintahkan Deputi untuk menelusuri ini untuk berkomunikasi dengan perusahaan yang menempatkan," ucapnya.

Benny mengatakan, jika dalam hasil investigasinya tidak sesuai dengan hasil medical cekup Suryani. Benny tidak akan segan-segan untuk memproses secara hukum pihak yang bertanggung atas pemberangkatan Suryani.

"Tapi kalau lihat jenis penyakitnya cukup gawat menurut saya ini penyakit dalam, bagaimana penyakit ini tidak terdeteksi melalui medical check up. Jika hasil medical check up ini tidak benar maka siapapun harus bertanggung jawab secara hukum, saya dan BP2MI tidak akan main-main dengan segala bentuk kejahatan tapi mudah-mudahan tentu tidak terjadi apa-apa," tegasnya.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Ramadhan Pohan, Pendukung Anies yang Kini Jabat Anggota Dewas LKBN ANTARA

Jumat, 09 Januari 2026 | 03:45

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

UPDATE

Kadisdik DKI Senang Lihat Kemping Pramuka di SDN 11 Kebon Jeruk

Sabtu, 10 Januari 2026 | 02:03

Roy Suryo Cs Pastikan Menolak Ikuti Jejak Eggi dan Damai

Sabtu, 10 Januari 2026 | 01:47

Polri Tetap di Bawah Presiden Sesuai Amanat Reformasi

Sabtu, 10 Januari 2026 | 01:14

Kesadaran Keselamatan Pengguna Jalan Tol Rendah

Sabtu, 10 Januari 2026 | 01:04

Eggi dan Damai Temui Jokowi, Kuasa Hukum Roy Suryo Cs: Ada Pejuang Ada Pecundang!

Sabtu, 10 Januari 2026 | 00:34

Debat Gibran-Pandji, Siapa Pemenangnya?

Sabtu, 10 Januari 2026 | 00:19

Prabowo Didorong Turun Tangan terkait Kasus Ketua Koperasi Handep

Sabtu, 10 Januari 2026 | 00:04

Eggi dan Damai Mungkin Takut Dipenjara

Jumat, 09 Januari 2026 | 23:46

Relasi Buku Sejarah dan Medium Refleksi Kebangsaan

Jumat, 09 Januari 2026 | 23:42

Kadispora Bungkam soal Lahan Negara di Kramat Jati Disulap Jadi Perumahan

Jumat, 09 Januari 2026 | 23:07

Selengkapnya