Berita

Kolase Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dan Muhaimin Iskandar atau Cak Imin/Repro

Publika

Mengulik Misteri Hubungan Gus Dur dan Gus Muhaimin

RABU, 13 SEPTEMBER 2023 | 17:17 WIB | LAPORAN: JONRIS PURBA

LANGKAH politik Ketua DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar kian gemilang. Setelah satu tahun lebih mengarungi arus dinamika seleksi capres dan cawapres untuk Pemilu 2024 akhirnya didaulat menjadi bakal calon wakil presiden yang mendampingi Anies Baswedan.

Keputusan tersebut diambil oleh PKB setelah menerima ajakan Surya Paloh untuk bergabung dalam Koalisi Perubahan.

Selasa (12 september 2023), Partai Nasdem dan bersama Anies Baswedan mengajak Gus Imin, panggilan populernya, untuk bersilaturahmi dengan Partai Keadilan Sejahtera di kantor pusat PKS.


Langkah politik Gus Imin memang tidaklah mulus. Mantan Ketua Umum PB PMII ini kerap menghadapi beragam serangan dari lawan-lawan politiknya. Mulai dari isu korupsi di Kementerian Tenaga Kerja Tahun 2012 yang terus digoreng setiap menjelang pilpres hingga tuduhan kudeta terhadap guru politiknya sendiri.

Saat PKB menyatakan menerima tawaran Partai Nasdem untuk menduetkan Gus Imin dengan Anies, serangan pun kembali membahana. Seperti sudah, banyak orang menduga, siapa pun yang menolak tunduk kepada keinginan politik Jokowi akan segera dilumpuhkan. Cak Imin pun segera dipanggil KPK dan diperiksa selama berjam-jam.

Serangan lain datang dari mantan Sekjen PKB periode 2005 2008, Yenny Wahid. Putri Gus Dur yang bersuamikan politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ini kembali mengangkat peristiwa konflik internal PKB tahun 2008. Menurut Yenny, Muhaimin telah mengudeta Gus Dur sehingga harus keluar dari partai yang didirikannya sendiri. Tuduhan tersebut dibantah oleh Gus Imin.

“Selalu muncul, setiap pemilu selalu dimunculkan, dibesarkan, tentu musiman lah saya bilang. Tetapi tuduhan saya berkhianat itu sama sekali tidak beralasan," kata Cak Imin seperti ditulis CNBC, Rabu (6/9).

"Bahkan ada yang bilang saya kudeta, yang benar adalah justru saya dikudeta, dikudeta oleh orang-orang yang kemudian Gus Dur memberhentikan saya," imbuhnya.

Masih menurut tulisan CNBC, lebih lanjut, Imin kemudian menuturkan momen ketika Gus Dur disebut terkejut saat mengetahui dirinya bersedia secara sukarela untuk dipecat dari posisi Ketua Umum.

“Yang kemudian sampai hampir gagal ikut pendaftaran itu, Gus Dur manggil Saya, 'Saya gak nyangka kamu mau saya berhentikan... ya sudah kamu buat surat pengunduran diri sekarang, ini sudah ada drafnya'. Siap saya tanda tangan surat pengunduran diri, agar semua smooth,” katanya.

Imin menyebut surat itu kemudian tak pernah dikeluarkan karena perintah Gus Dur yang mengatakan hanya boleh dikeluarkan ketika Gus Dur butuh.

"Saya kasih kepada Gus Dur. Apa yang terjadi? 'Surat saya terima Min, tapi tolong kamu sendiri yang simpan, nanti kamu keluarkan kalau benar-benar saya butuhkan'. Sampai hari ini, tidak pernah diminta Gus Dur, surat itu ada di tempat saya," katanya.

Tidak banyak yang tahu betapa hubungan antara Muhaimin dan Gus Dur masih baik-baik saja setelah polemik kepemimpinan PKB terjadi. Salah satu yang mengetahuinya adalah mantan Presiden Megawati Soekarnoputri.

Dalam konferensi pers di hadapan wartawan menjelang Pemilu 2014, seperti ditulis Beritasatu Online, Rabu, 14 Mei 2014, Megawati cerita, Gus Dur pernah menitip dua keponakannya, yakni Saifullah Yusuf yang saat itu menjabat Wakil Gubernur Jawa Timur, dan Muhaimin Iskandar (Imin), Ketua Umum PKB.

Pernyataan Megawati tersebut menjadi Indikasi bahwa antam Gus Dur sebagai paman dan Muhaimin sebagai keponakan masih memiliki hubungan yang baik.

Kesaksian yang menguatkan juga datang dari Setya Dharma Pelawi. Aktivis senior alumni Universitas Padjadjaran ini memberikan kesaksian yang mengejutkan.

“Saya jadi saksi bahwa Gus Dur masih memberikan perhatian kepada Gus Imin setelah beliau lengser dari Dewan Syuro PKB. Menjelang Pemilu 2009, Gus Dur meminta sahabatnya Rahman Tolleng untuk membantu Gus Imin memperkuat PKB dari dalam,” ungkap aktivis lintas zaman ini.

“Bang Tolleng kan gak mungkin masuk PKB toh, maka diutusnya saya untuk masuk PKB bahkan sempat menjadi caleg. Banyak orang, kawan-kawan heran Kenapa Setia Dharma tiba-tiba jadi caleg PKB. Sekarang aja saya buka. Karena itu dulu kan tugas khusus dari Gus Dur lewat Bang Tolleng,” tutur mantan caleg PKB untuk Pemilu 2009 dan 2014 ini sambil tertawa terbahak-bahak.

“Gus Dur itu orang yang sangat bijak dan punya kemampuan memandang jauh ke depan. Beliau tahu bahwa sejak awal Gus Imin adalah orang yang tepat untuk membesarkan PKB. Tapi beliau kan juga harus mengapresiasi kehendak politik putrinya. Jika saat itu Gus Dur menunjukkan sikap memihak Muhaimin, bukan pilihan yang bijak,” lanjut kang Tya, panggilan akrab Setya Dharma.

Aktivis Prodem yang sering mengikuti diskusi Forum Demokrasi bersama Gus Dur ini menilai bahwa langkah Gus Dur selalu jauh melebihi zamannya. Tidak akan PK menjadi tetap besar setelah beliau wafat jika tidak ada “Drama” konflik antara Gus Dur dan Cak Imin.

Buktinya hingga sekarang, anak, keponakan dan keluarga besar Gus Dur selalu menjadi pihak yang didekati oleh setiap kelompok politik yang akan bertarung dalam pilpres.

“Kita yang mengenal Gus Dur sejak di Forum Demokrasi, udah taulah gaya-gaya kaderisasi Gus Dur. Sekarang saat Gus Imin jadi wapres Anies, semua, banyak tokoh NU yang dilirik untuk jadi pasangan Prabowo atau Ganjar kan. Yenny Wahid, Mahfud MD, Khofifah menjadi target untuk didekati dan direkrut menjadi cawapres atau sekadar vote getter. Posisi politik mereka naik. Itulah buah kecerdikan Gus Dur dalam menjaga eksistensi PKB dan keluarga besar NU dalam dinamika politik Indonesia," papar Kang Tya.

“Sudah seharusnya para tokoh politik nahdliyin berterima kasih kepada Gus Imin karena dia berani melawan titah Jokowi dan menjadi cawapres Anies, maka tokoh nahdliyin lain turut diburu untuk menjadi cawapres Ganjar atau Prabowo,” pungkas Ketua Masyarakat Anti Kepalsuan (Mat Kepal) Ini ambil tersenyum simpul.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Keempat Kalinya Indonesia Jadi Tuan Rumah PENSA 2026

Minggu, 25 Oktober 2026 | 00:25

OMC Bantu Sejukkan Jakarta

Minggu, 25 Oktober 2026 | 00:02

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

TVRI dan PIM Jajaki Kolaborasi Angkat Kiprah Perempuan Indonesia

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:23

KNMP Kota Sorong Buka Peluang Pasar bagi Nelayan Lokal

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:00

Modal Asing Kabur Imbas Sentimen MSCI, BI Jamin Likuiditas Rupiah Memadai

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:44

Kapal Asal Malaysia Bawa 1,16 Ton Ketamin, Dasco Tegaskan Jaga Generasi Muda

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:16

BSI Himpun Dana Tabungan Haji Rp18 Triliun, Nasabah Gen Z Naik 30 Persen

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:15

Wilayah Berdekatan, Mengapa Jakarta Lebih Panas Saat Bogor Masih Diguyur Hujan?

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:03

KemenHAM Tampilkan Peta Pemenuhan Hak Dasar Hingga Tingkat Desa Berbasis Digital

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 18:35

Selengkapnya