Berita

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Muhaimin Iskandar (Cak Imin)/RMOL

Publika

Apakah Anies Merebut Cak Imin dari Posisi Cawapres Potensial Prabowo?

OLEH: SUGIYANTO
JUMAT, 08 SEPTEMBER 2023 | 10:19 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

APAKAH Anies Baswedan merebut Muhaimin Iskandar alias Cak Imin dari posisi Cawapres potensial Prabowo Subianto?

Pertanyaan ini memunculkan debat menarik, mengingat politik sering kali tidak mengenal teman atau musuh abadi, melainkan hanya mempertimbangkan kepentingan.

Politik juga merupakan seni mengubah yang tidak mungkin menjadi kenyataan, dan sepertinya hal ini terjadi dalam politik Tanah Air saat ini.


Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) telah mengumumkan Prabowo Subianto (PS) sebagai calon presiden 2024. Untuk mendukung PS, Gerindra mengajak Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk berkoalisi. Ketua Umum PKB, Abdul Muhaimin Iskandar (Cak Imin), adalah calon wakil presiden potensial.

Namun, setelah Partai Golkar dan Partai Amanat Nasional (PAN) bergabung dengan Gerindra, peluang Cak Imin menjadi calon wakil presiden pilihan PS berkurang. PAN mengusulkan Erick Thohir sebagai calon wakil presiden, sementara Golkar tampaknya menginginkan Airlangga Hartarto untuk posisi tersebut.

Di sisi lain, Partai Nasional Demokrat (Nasdem), Partai Demokrat, dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) belum memutuskan calon wakil presiden mereka. Deklarasi calon presiden Anies telah dilakukan sejak Oktober 2022, dan Anies sendiri akan menentukan calon wakil presidennya.

Pada akhirnya, Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dianggap berpotensi menjadi calon wakil presiden Anies Baswedan. Namun, perbedaan prinsip membuat Partai Nasdem dan Anies Baswedan memilih Cak Imin sebagai calon wakil presiden.

Pertanyaannya adalah, apakah Ketua Umum Nasdem, Surya Paloh, dan Anies Baswedan tahu bahwa Cak Imin adalah calon wakil presiden potensial Prabowo Subianto?

Selanjutnya, apakah Ketua Umum Nasdem, Surya Paloh, dan Anies Baswedan telah berdiskusi atau setidaknya menyampaikan keinginan mereka kepada Prabowo Subianto?

Atau mungkin mereka telah mengkalkulasikan bahwa menjodohkan Anies dengan Cak Imin adalah cara terbaik untuk memenangkan pemilihan presiden 2024.

Ini mungkin memunculkan perdebatan di masyarakat, apakah Anies merebut Cak Imin dari posisi calon wakil presiden potensial Prabowo Subianto?

Pertanyaan ini muncul karena Anies Baswedan dianggap memiliki dukungan yang lemah di Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah, khususnya dari kalangan Nahdliyin atau warga atau masyarakat Nahdlatul Ulama (NU), sementara Cak Imin memiliki basis massa yang kuat di sana.

Dalam konteks ini, mungkin pilihan terbaik adalah memilih Cak Imin sebagai calon wakil presiden Anies Baswedan, meskipun Cak Imin juga dipertimbangkan sebagai calon wakil presiden potensial oleh Prabowo Subianto.

Hal ini tentu saja memunculkan pertanyaan besar, yakni, apa yang mendasari keputusan ini?

Namun tentang Cak Imin bersedia menjadi calon wakil presiden Anies tidak bisa disalahkan, sebab dia juga berhak memilih opsi terbaik.

Hanya pelaku politik langsung yang dapat menjawab semua pertanyaan di atas dengan jujur. Namun, ketika kita mengajukan pertanyaan kepada para politisi, seringkali jawaban yang diberikan cenderung bias.

Sehingga, terkadang terasa lebih baik jika kita mencari pemahaman dari berbagai sumber yang lebih objektif, atau bertanya kepada “rumput yang bergoyang.”

Namun yang pasti, dalam dunia politik, prinsip yang berlaku adalah kepentingan. Ketika memiliki kepentingan yang sama, hubungan bisa menjadi erat. Namun, jika kepentingan tidak sejalan, maka berpisah atau menjadi lawan politik menjadi hal yang umum terjadi.

Etika politik, adat, dan sopan santun seringkali diabaikan. Mungkin saat ini ada paradigma baru yang berlaku: "Lebih baik meminta maaf daripada izin?" Walaupun sebelumnya terlibat dalam politik dengan hubungan yang harmonis.

Demikianlah, dalam politik, sering kali "demokrasi" dijadikan sebagai kambing hitam untuk menjelaskan perubahan sikap politik yang cepat.

Maka tak heran jika penyanyi dan pencipta lagu legendaris, Iwan Fals, menyuarakan dalam lirik lagunya dengan pertanyaan tajam, "Apakah selamanya politik itu kejam?"

Penulis adalah pemerhati sosial politik

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Menelusuri Perjalanan Baru Vision dalam Serial VisionQuest

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:29

Usai Mandek, Harga Emas Antam Langsung Anjlok Hari Ini

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:22

Polisi Rilis 13 Korban Ledakan Pertokoan Pasar Cimanggis Tangsel

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:17

COP31 Jadi Momentum Prabowo Percepat Transisi Energi

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:08

PM Baru Maroko Temui Raja, Bahas Pembentukan Pemerintahan Baru

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:03

Pertamina Kerahkan Armada Tambahan dan Terminal 24 Jam untuk Normalisasi BBM di Bal

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:54

4,4 Juta Sertifikat Halal Terbit Jelang Batas Akhir, Didominasi UMKM

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:46

Pengamat Dorong Percepatan Jargas dan CNG untuk Tekan Impor LPG

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:42

Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000 per Dolar AS, BI Langsung Buka Suara

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:38

Badai PHK Melanda Netflix Saat Pertumbuhan Melambat

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:27

Selengkapnya