Berita

Selebgram artificial intelligence dari Indonesia, Lentari Van Lorainne/Net

Publika

Menghadirkan Manusia di Keriuhan Kecerdasan Buatan

SELASA, 05 SEPTEMBER 2023 | 22:55 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

MERANGSEK! Keberadaan Artificial Intelligence -kecerdasan buatan semakin merasuk ke berbagai ruang kehidupan manusia.

Sebut saja, Lentari Van Lorainne sang selebgram virtual, yang dilahirkan melalui rekayasa algoritma. Imajinasi manusia menjadi wilayah tidak bertepi, perlu menghadirkan batas kesadaran.

Dalam ruang hidup kecerdasan buatan, kecerdasan manusia bertindak menjadi standar referensi dasar, sebagai sumber pembelajaran machine learning. Kekaburan kecerdasan manusia dimasa mendatang, diproyeksi akan semakin tertinggal dari kemampuan intensif kecerdasan buatannya.


Realitas modern yang terintegrasi dengan kehidupan digital mengakibatkan situasi ketergantungan atas teknologi. Posisinya berubah dari sekadar menjadi sarana bantu, berubah menjadi penentu, dominasi digital seolah mulai bergeser dan mensubordinasi manusia.

Sesuai diktum McLuhan, teknologi adalah ekstensi dari manusia, yang seharusnya mampu dikendalikan. Determinisme teknologi yang sejatinya menjadikannya sebagai perkakas kemajuan bagi kehidupan manusia, berpotensi untuk berubah menjadi kemungkinan mimpi buruk. Hal yang tidak terbayangkan.

Pada setiap etape kehidupan manusia, selalu terdapat dua pilihan yang tampil, baik-buruk adalah konsekuensi dari keputusan kita. Selaras dengan pemikiran filsuf Slavoj Zizek, kereta kemajuan ini tidak terkendali karena eksploitasi manusia itu sendiri.

Kekeringan makna dalam kehidupan manusia, menjadi penyebab hilangnya kemampuan kontrol, sehingga tidak mampu melakukan pengendalian. Dalam artikel The Posthuman Desert, (Zizek, 2023) manusia bertanggung jawab atas pilihannya mengenai masa depan yang diprediksi sebagai tahap post-human.

Dalam kajian Zizek, mengutip Yuval Harari, ketika manusia mulai melakukan sintesis superhuman dan bertindak layaknya sang pencipta, maka kecerdasan buatan yang akan semakin lebih cerdas dari manusia itu sendiri, menyebabkan esensi keberadaan manusia menjadi semakin tidak relevan sekaligus tidak berarti.

Penyebab malapetaka bagi peradaban manusia di era bioteknologi, kecerdasan buatan dan mahadata adalah manusia itu sendiri. Kapitalisme sebagai sistem dari mata uang modernitas, melepaskan kendali dibawah nilai akumulasi.

Dengan begitu, seharusnya regulasi menjadi pembeda, sayang penguasa sekaligus berperan ganda sebagai penangguk keuntungan dari nilai tambah.

Bila sedemikian suram, kabut polusi yang semakin pekat menggantung di langit masa depan, sudah sepantasnya etika, moralitas dan kemanusiaan menjadi kompas pemandu arah. Manusia pula yang menjadi kunci penentu kemana kemajuan ini akan berlabuh.

Para pemimpin memainkan peran signifikan untuk menavigasi kehidupan bersama. Publik sebagai entitas penting kehidupan bernegara perlu memberi batas tegas bila terjadi penyimpangan.

Refleksi akhir kekinian akan terkait pada situasi domestik, ketika kampanye politik mulai melibatkan kecerdasan buatan, menjadikan publik sebagai objek semata.

Jagat digital dan ruang virtual akan dipenuhi dan berseliweran disinformasi yang bukan fakta, bercampur sentimen serta menggumpalkan emosi. Berbahaya.

Perlu dipastikan bagaimana ruang sosial di tahun politik 2024, terlepas dari pencemaran rekayasa kecerdasan buatan, yang dipergunakan untuk memenangkan elite, mengambil keuntungan sesaat, serta berpotensi menghancurkan modal sosial utama bangsa, yakni rasa persatuan. Semoga masih ada kemanusiaan itu dalam diri manusia.

Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Komisi XIII DPR Segera Panggil Pejabat Terkait soal Fasilitas Mewah Lapas Cibinong

Kamis, 24 September 2026 | 14:25

Ajukan Kasasi, Nadiem Tak Akan Menerima Hasil Apapun di Luar Bebas

Kamis, 24 September 2026 | 14:25

Respons Demo Buruh, Dasco: RUU Pelindungan Ketenagakerjaan Rampung Oktober 2026

Kamis, 24 September 2026 | 14:15

PAN: Ambang Batas Parlemen Perlu Hati-hati, Jangan Lebih dari 4 Persen

Kamis, 24 September 2026 | 14:03

Usai Antar Giuseppe Garibaldi, Perwakilan Angkatan Laut Italia Temui Prabowo

Kamis, 24 September 2026 | 14:03

Dasco Pastikan DPR Dalami Temuan Fasilitas Mewah di Lapas Cibinong

Kamis, 24 September 2026 | 13:58

MGLV Kantongi Fasilitas BNI, Ekspansi Data Center Jababeka dan Batang Digenjot

Kamis, 24 September 2026 | 13:51

Demo Buruh di Depan UOB Plaza: Jalur Utama Jakarta Pusat Dialihkan!

Kamis, 24 September 2026 | 13:40

Hakim Banding Pangkas Vonis Nadiem

Kamis, 24 September 2026 | 13:39

UU Pengaturan Reforma Agraria jadi Kado Manis Petani untuk Berdaulat

Kamis, 24 September 2026 | 13:32

Selengkapnya