Berita

Polusi udara di Jakarta/Ist

Publika

Tetap Sehat Melawan Polutan dengan KF 94 dan KN 95

OLEH: AGUSTINUS TAMTAMA PUTRA
MINGGU, 03 SEPTEMBER 2023 | 10:46 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

POLUSI udara menjadi isu saat ini dan menimbulkan efek batuk pilek, bahkan lebih parahnya ISPA dan Covid-19. Salah satu solusi dan pencegahannya ialah untuk tidak keluar rumah jika memang tidak begitu diperlukan.

Namun bila diharuskan untuk beraktivitas di luar ruangan, disarankan untuk memakai masker dan standar yaitu KF 94 yang filtrasinya mendekati KN 95.

Millway Community sebagai promotor pola hidup sehat dengan mengusung gaya milenial, mengusulkan pemakaian masker tersebut.


Polutan bersifat kasat mata. Karena partikel kecil, maka hanya bisa dilihat dengan bantuan alat, misalnya mikroskop. Polutan adalah partikel bebas dan potensial rentan terhadap kesehatan. Udara jenis apa yang kita hidup tidaklah kita ketahui.

Sebagai contoh mengapa di jalan-jalan tidak jarang pengendara mengantuk. Selain mungkin akibat kondisi badan yang sudah lelah, ternyata rasa kantuk di jalan saat menyetir mobil atau ?"utamanya sepeda motor?" diakibatkan oleh udara yang dihirup.

Udara yang seperti apa yang dihirup akan berbeda antara jalanan di perkotaan dan pedesaan yang asri.

Rasa kantuk di jalan perkotaan diakibatkan oleh banyaknya kandungan karbondioksida yang dihirup. Tidak ada yang bisa memilah dan memilih entah karbonmonoksida atau karbondioksida yang ia hirup lantaran partikel udara tersebut sangat kecil.

Masalah polusi akhir-akhir ini menyeruak sebagai alarm bagi setiap orang untuk waspada pada bahaya penyakit yang bisa masuk sesewaktu. Dengan cara yang tidak diketahui, bisa jadi udara yang terhirup sudah terkontaminasi radikal bebas yang batuk dan flu adalah gejala luar semata.

Bisa jadi polutan mendatangkan ispa dan menjadi celah bagi masuknya virus Covid-19. Kelompok rentan dengan penyakit bawaan bisa terserang penyakit bila tidak awas terhadap pola hidup sehat.

KF 94 dan KN 95

Wabah sindrom pernapasan akut parah virus corona-2 (SARS-CoV-2) muncul dengan cepat dan menyebabkan kematian besar sejak tahun 2019 di seluruh dunia bahkan hingga saat ini dengan adanya varian Omicron, Delta, dll.

Millway mengusulkan, selain melakukan rutinitas perawatan diri, penggunaan masker juga merupakan langkah penting untuk mengekang penyebaran Covid-19 dan menyelamatkan nyawa.

Tergantung pada jenisnya, masker wajah dapat melindungi orang sehat atau mencegah penularan virus mematikan lebih lanjut.

Masker wajah KF94 yang dikembangkan di Korea Selatan misalnya dengan bahan buatan Korea, efektif 94% mewakili efisiensi filtrasi standar. Masker wajah KF94, seperti masker N95, memiliki klip yang dapat disesuaikan agar pas di batang hidung.

KF94 mencapai filtrasi maksimum BFE> 99% dan PFE> 98% dengan MPPS 0,3 ?m. Ia juga menawarkan fitur-fitur menarik seperti sirkulasi udara terbaik, loop telinga yang tahan lama dan rata, kesesuaian wajah yang lebih baik, cakupan maksimum tanpa celah, dan tidak ada reaksi alergi (hipoalergenik).

Dirancang khusus untuk memberikan ruang ekstra di sekitar mulut untuk memudahkan pernapasan saat berbicara. Nyaman dengan sirkulasi udara yang baik dan memiliki penutup samping untuk membentuk wajah dengan empat lapisan bahan bernapas elektrostatis yang dapat memblokir lebih banyak partikel kecil.

Untuk tujuan kebersihan, KF 94 dikemas dengan baik satu per satu dan dijual dalam jumlah besar sebanyak 50-100 buah kotak untuk kenyamanan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengklarifikasi bahwa anak-anak di bawah dua tahun tidak boleh memakai masker. Hal serupa juga terjadi pada mereka yang kesulitan bernapas, tidak sadarkan diri, cacat, atau tidak mampu melepas masker tanpa bantuan.

Millway juga memperingatkan agar tidak berbagi masker dengan orang lain, dan masker bekas apa pun harus dibuang dengan benar.

Dengan masker KF94 asli, kita akhirnya bisa bernapas lega dan tetap terlindungi! Millway menganjurkan asker KF 94 bisa menghalau sekitar 95% partikel polutan di udara.

Penulis adalah Konsultan Millway Community

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Seriuskah Kemdiktisaintek Menjaga Mutu Pendidikan Tinggi

Selasa, 11 Agustus 2026 | 00:22

Anggota Dewan Etik Golkar Diduga Terlibat Dugaan Penipuan Miliaran

Selasa, 11 Agustus 2026 | 00:11

Membangun Kemandirian Energi Desa Melalui Penguatan Kapasitas Local Hero

Selasa, 11 Agustus 2026 | 00:05

Pertamina Perkuat Kemitraan Strategis Lewat SRM Summit 2026

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:31

Kerja Sama KSPSI-UT Perluas Kesempatan Pekerja Raih Pendidikan Tinggi

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:17

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

PTPN IV PalmCo Fasilitasi APRC 2026, Perputaran Ekonomi Masyarakat Meningkat

Senin, 10 Agustus 2026 | 22:58

Isu Wamenhan Baru Jangan Terjebak Kepentingan Bisnis dan Korporasi

Senin, 10 Agustus 2026 | 22:55

Paroki Kraksaan Menanti Kejelasan

Senin, 10 Agustus 2026 | 22:32

Pramono-Erick Thohir Godok Persiapan FIFA ASEAN Cup di Jakarta

Senin, 10 Agustus 2026 | 22:24

Selengkapnya