Berita

Cuplikan video Korea Reomit/Net

Dunia

Bukan Faktor Cuaca, Ini Beberapa Hal yang Membuat Jambore Korea Dicap Memalukan

JUMAT, 11 AGUSTUS 2023 | 20:56 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Gelaran Jambore Pramuka Dunia ke-25 di Korea Selatan menjadi ramai diperbincangkan setelah berita kekacauannya beredar di media sosial.

Acara jambore yang digelar di Sae Man Geum, Kabupaten Buan, Provinsi Jeolla Utara, diikuti oleh lebih dari 43.000 peserta dari 158 negara.

Tetapi ribuan peserta dari beberapa kontingen memilih untuk meninggalkan tempat acara karena cuaca panas dan banyak peserta yang cedera atau jatuh sakit.


Banyaknya keluhan yang dilaporkan peserta, membuat Korea Selatan sebagai tuan rumah dinilai gagal, bahkan dicap memalukan.

Selain faktor cuaca panas ekstrem, ternyata banyak penyebab lain yang mengakibatkan acara internasional itu dicibir banyak pihak.

Mengutip postingan video youtube Korea Reomit berjudul "Acara Internasional Jambore yang Memalukan Korea", redaksi merangkum faktor-faktor yang membuat acara pramuka dunia di Korea itu kacau.

1. Kamar Mandi yang Kotor

Tempat mandi yang disedikan pihak Korea Selatan untuk para peserta dinilai tidak layak karena bangunannya terbuat dari tirai yang membuat peserta risih dan tidak nyaman menggunakannya.

Atapnya hanya dilapisi tirai, maka suhu di dalam kamar mandi menjadi lebih panas. Terlebih lagi, saat acara digelar suhu di Korea Selatan mencapai lebih dari 43 derajat celcius.

Kloset yang tersedia juga sangat kotor dan bau, padahal untuk mengikuti acara jambore dunia di Korea, setiap peserta dipungut biaya hingga Rp 13,65 juta. Sementara warga asli Korea dikenakan biaya lebih mahal yakni Rp 17 juta.


2. Tenda yang Lembab dan Panas

Acara jambore sebenarnya diadakan di sebuah ladang pertanian. Karena wilayah Korea Selatan sempat diguyur hujan, area tanah di sana menjadi lembab dan basah.

Peserta yang datang kesulitan untuk memasang tenda karena tanah yang tergenang air. Tuan rumah justru memberikan palet atau kayu yang lebih tinggi di dalam tenda sehingga peserta bisa tidur tanpa kebasahan.

Namun, nyatanya palet itu membuat mereka tidak nyaman tidur karena permukaanya yang tidak rata.

Belum lagi cuaca panas yang menyengat, yang menurut salah satu reporter di sana suhu dalam tenda peserta bisa mencapai 33,9 derajat celcius.
 
Karena tidak nyaman, akhirnya mereka tidur di jalan-jalan, atau di gedung-gedung fasilitas dengan jumlah AC yang terbatas. Ada beberapa tempat yang memiliki kipas angin, tetapi hanya diperuntukkan bagi staf.


3. Makanan yang Dijual dengan Harga Dua Kali Lipat

Salah satu supermarket ternama di Korea GS25 menjual barang di tempat jambore dengan harga dua kali lipat dari harga pasar Korea. Padahal mereka mengetahui bahwa peserta yang datang adalah anak-anak remaja.

Bahkan laporan lain menyebut bahwa bahan makanan yang dibagikan panitia juga sebagian sudah dalam keadaan tidak layak.


4. Banyak yang Sakit

Di hari pertama jambore, tercatat 400 anak yang membutuhkan bantuan medis. Hari kedua 992 dan hari ketiga 1.486 anak.

Di area jambore, hanya ada 5 klinik dan satu rumah sakit. Tetapi salah satu klinik terpaksa tutup karena kekurangan personel.


Ini bukan kali pertama bagi Korea menjadi tuan rumah jambore pramuka dunia. Pada tahun 1991, negara itu pernah menggelar jambore di provinsi Gangwan, Kabupaten Goseong dan dinilai cukup baik.

Korea dipilih sebagai tuan rumah jambore ke 25 pada tanggal 16 Agustus 2017. Itu Artinya Korea memiliki waktu enam tahun untuk mempersiapkan acara tersebut.

Lebih mengejutkan lagi, ternyata pemerintah Korea menyiapkan dana Rp 1,157 triliun untuk acara jambore. Jumlah yang sangat fantastis apalagi jika ditambah dengan pungutan wajib yang dikenakan terhadap seluruh peserta. 

Populer

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Megawati: Kudatuli adalah Simbol Ketidakadilan!

Selasa, 21 Juli 2026 | 23:38

Densus 88 Ciduk Dua Pria Terlibat Jaringan Terorisme di Ciamis dan Lampung

Selasa, 21 Juli 2026 | 23:11

PDIP Sebut Babinsa Awasi Wajib Pajak Salahi Wewenang

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:47

Purbaya Buka Peluang Ubah Status KEK di Bali untuk PFII

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:39

Megawati Minta Pramono dan Doel Kembalikan TIM jadi Tempat Seniman

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:30

Warga Kwini 8 Minta Sengketa Diselesaikan Lewat Jalur Hukum

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:28

PPP Dukung Tindakan Tegas Polri Jaga Kamtibmas di Jakarta

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:14

KPK Terbitkan Dua Sprindik Pengembangan Kasus Bea Cukai, Sudah Ada Tersangka

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:31

Pakar Soroti Modus Dugaan TPPU Febrie dari Safe House hingga Temuan Emas Batangan

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:24

Kiprah Mantri BRI Menjadi Penggerak Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:14

Selengkapnya