Berita

Singapura/Net

Dunia

Singapura akan Kurangi Intensitas Emisi dan Ubah Bisnis menjadi Ramah Lingkungan

RABU, 09 AGUSTUS 2023 | 08:30 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Tidak banyak yang tahu bahwa Singapura - yang selama ini dikenal sebagai pusat keuangan dan tujuan yang menarik bagi wisatawan - ternyata merupakan salah salah satu dari tiga pusat perdagangan dan penyulingan minyak teratas di dunia.

Dengan total kapasitas penyulingan minyak mentah 1,5 juta barel per hari, Singapura menjadi pengekspor minyak sulingan, bahan bakar, dan bahan kimia terbesar keempat di dunia.

Pemain kunci di sektor ini, dan industri terkait seperti pembuat rig lepas pantai dan pelampung, juga menempatkan kantor pusat regional mereka di negara tersebut.


Economic Times mencatat, pada tahun 2020, produksi dari industri minyak dan gas serta petrokimia di Singapura bernilai sekitar 60 miliar dolar AS, tetapi angka ini sedikit berfluktuasi karena harga minyak yang tidak stabil.

Industri petrokimia di negara ini menyumbang 23 persen dari total perdagangan nasional, 5 persen dari PDB dan mempekerjakan hampir 30.000 orang.

Pada Juni tahun ini, raksasa energi Inggris, Shell, mengumumkan bahwa mereka akan menilai kelangsungan fasilitas penyulingan dan manufakturnya di Pulau Bukom dan Jurong.

Tentunya ini bukan sesuatu yang mengejutkan karena merupakan cerminan dari tren dan tantangan yang dihadapi oleh industri perminyakan di seluruh dunia karena pergerakan menuju sumber energi terbarukan.

Maret lalu, Shell membuat keputusan untuk tidak melanjutkan dua proyek yang katanya sedang dipelajari untuk memproduksi biofuel dan minyak dasar di Singapura.

Proyek ini telah berjalan, akan berlokasi di Pulau Bukom dan memiliki kapasitas untuk memproduksi 550,00 ton bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF) per tahun untuk memasok pusat penerbangan utama Asia seperti Bandara Internasional Hong Kong dan Changi Singapura.

Pabrik tersebut juga akan memiliki fleksibilitas untuk memproduksi diesel terbarukan dan bahan baku bionaphtha untuk petrokimia.

Jika Shell, yang telah berada di Singapura selama lebih dari 130 tahun, menarik diri, itu sama sekali bukan perusahaan minyak besar Eropa pertama yang melakukannya.

BP (sebelumnya British Petroleum) menutup bisnis penyulingan di Singapura pada tahun 2004 dan menjual sahamnya di Singapore Refining Company pada tahun 2004 ke PetroChina dan Chevron.

Seperti pemasok petrokimia dan plastik lainnya, Shell mengurangi ketergantungannya pada dua produk padat energi ini sebagai cara untuk mengecilkan jejak karbonnya dan menjadi net zero emitter pada 2050.

Inisiatif Transisi Energi Shell akan membuatnya lebih seperti raksasa gas alam daripada perusahaan minyak.

Singapura sebagai sebuah negara telah berkomitmen untuk mencapai emisi nol bersih pada tahun 2050. Dalam Strategi Pembangunan Rendah Emisi Jangka Panjang (LEDS), dikatakan bahwa pihaknya berencana untuk mengurangi Intensitas emisi sebesar 36 persen dari tingkat tahun 2005 pada tahun 2030 dan menstabilkan gas rumah kaca.

Namun, para pejabat industri dan pemerintah percaya bahwa permintaan bahan bakar, pelumas dan petrokimia akan terus menguat selama bertahun-tahun mendatang terutama di pasar negara berkembang yang mengelilingi Singapura.

Berlawanan dengan Shell, ExxonMobil, perusahaan energi nomor satu di dunia berdasarkan pendapatan, mengatakan telah mengembangkan bisnisnya di Singapura untuk memenuhi peningkatan permintaan produknya di seluruh kawasan.

"Saat kami berinvestasi, itu untuk jangka panjang, melalui naik turunnya siklus bisnis," kata Geraldine Chin, ketua dan direktur pelaksana ExxonMobil Asia Pacific kepada Straits Times Singapura.

Dia mengatakan, permintaan bahan bakar dan pelumas yang lebih bersih akan tumbuh di seluruh Asia dan ini dapat dikembangkan dari produk "bottom-of-the-barrel" yang perusahaannya gunakan untuk memproduksinya dengan teknologi eksklusif.

Menanggapi tekanan dari tren penghijauan global pada industri, pemerintah Singapura berencana mengubah Pulau Jurong menjadi taman energi dan bahan kimia yang berkelanjutan.

Pulau yang dibuka pada tahun 2000, diciptakan sebagai pusat petrokimia dengan menggabungkan tujuh pulau, muncul sebagai pengekspor utama bahan bakar berkelanjutan, bahan kimia daur ulang, dan bahan baku terbarukan untuk membuat bahan kimia industri dan plastik.

Singapura juga berencana menjadi pusat regional terkemuka untuk perdagangan karbon, konsep "keuangan hijau", konsultasi dan manajemen risiko, serta layanan lainnya.

"Kami terus melihat aliran investasi yang sehat dari perusahaan energi dan bahan kimia yang ingin memperluas kehadiran global mereka, menumbuhkan kemampuan baru untuk menangkap peluang pertumbuhan hijau di dunia, dan mengubah bisnis mereka menjadi ramah lingkungan," kata Damian Chan, wakil presiden eksekutif di Economic Development Board.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

KPK Amankan Dokumen dan BBE saat Geledah Kantor Dinas Perkim Pemkot Madiun

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:15

UPDATE

Jokowi Jadikan PSI Kendaraan Politik demi Melanggengkan Dinasti

Senin, 02 Februari 2026 | 10:15

IHSG "Kebakaran", Sempat Anjlok Hingga 5 Persen

Senin, 02 Februari 2026 | 09:49

Ketegangan Iran-AS Reda, Harga Minyak Turun Hampir 3 Persen

Senin, 02 Februari 2026 | 09:47

Tekanan Pasar Modal Berlanjut, IHSG Dibuka Anjlok Pagi Ini

Senin, 02 Februari 2026 | 09:37

Serang Pengungsi Gaza, Israel Harus Dikeluarkan dari Board of Peace

Senin, 02 Februari 2026 | 09:27

BPKN Soroti Risiko Goreng Saham di Tengah Lonjakan Jumlah Emiten dan Investor

Senin, 02 Februari 2026 | 09:25

Komitmen Prabowo di Sektor Pendidikan Tak Perlu Diragukan

Senin, 02 Februari 2026 | 09:14

Menjaga Polri di Bawah Presiden: Ikhtiar Kapolri Merawat Demokrasi

Senin, 02 Februari 2026 | 09:13

Emas Melandai Saat Sosok Kevin Warsh Mulai Bayangi Kebijakan The Fed

Senin, 02 Februari 2026 | 09:07

Nikkei Positif Saat Bursa Asia Dibuka Melemah

Senin, 02 Februari 2026 | 08:49

Selengkapnya