Berita

Ilustrasi penangkapan teroris/Net

Publika

Teroris Umumnya Miskin, tapi Kemiskinan Bukan Penyebab

SELASA, 08 AGUSTUS 2023 | 17:18 WIB | OLEH: DJONO W OESMAN

LIMA terduga teroris ditangkap Densus 88, sepekan terakhir. Salah satunya, Supri, penjahit di Dusun Sanggarahan, Desa Trayu, Banyudono, Boyolali, Jateng. Ia ternyata perakit bom bunuh diri Agus Sujatno di Mapolsek Astana Anyar, Bandung, 7 Desember 2022.

Mengherankan, Supri ternyata tamatan SMP. Rumahnya di dusun itu berupa gubuk ukuran sekitar 5 X 7 meter. Sehari-hari ia menerima pesanan jahitan warga sekitar. Anaknya tiga.

Padahal, bom di Mapolsek Astana Anyar berdaya ledak tinggi. Tubuh pengebom hancur, kecil-kecil, terlempar belasan meter.


Supri ditangkap Tim Densus 88, Selasa (1/8) pukul 16.00 WIB di Desa Trayu, Kecamatan Banyudono, Boyolali. Di jalan, bukan di rumahnya. Kepala Bagian Bantuan Operasi Densus 88 Antiteror Polri, Kombes Pol Aswin kepada pers, mengatakan:

"Tersangka S berlatih membuat switching bom sejak 2010, dilatih oleh saudara Sogir. Sedangkan Saudara Sogir dilatih membuat bom oleh dr Azhari (teroris asal Malaysia yang ditembak mati, melalui perang, di Kota Batu, Malang, Jatim, 2005). Jadi, ini warisan Azhari.”

Sogir adalah terpidana kasus terorisme, pengebom Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia, di Jakarta, 2004. Jadi, antar teroris saling terkait dalam beberapa jaringan.

Kepala Biro Penmas Divhumas Polri, Brigjen Ahmad Ramadhan kepada wartawan, Jumat (4/8) mengatakan: “S (Supri) sudah tersangka. Setelah Tim Densus 88 menangkap Supri, kemudian menangkap pula empat tersangka teroris lain di Boyolali dan Sukoharjo, Solo.”

Ramadhan: “Tersangka S biasa merakit bom di rumahnya di Dusun Sanggarahan itu. Dari rumahnya kami temukan senjata samurai, panci presto untuk membuat bom, sepeda motor.”

Panci presto sudah diteliti. Sama dengan serpihan kontainer dan kaca bom di Mapolsek Astana Anyar, Bandung. Dengan begitu, pengeboman Astana Anyar sudah terungkap.

Saat penggeledahan rumah tersangka Supri, Kepala Dusun Sanggarahan, Slamet Maryadi dilibatkan polisi selaku kepala wilayah dusun.

Slamet merinci barang yang disita polisi dari rumah Supri: "Ada ember, terus panci presto, samurai, terus barang-barang elektronika. Tersangka sehari-hari tukang jahit. Tapi tidak pernah bergaul dengan tetangga.”

Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia, Islah Bahrawi, yang dipercaya membantu Polri mengungkap jaringan terorisme, menceritakan:

"Nama Supri awalnya terendus penyidik dari identifikasi motor yang dipakai oleh alm Agus Sujatno alias Agus Muslim (pengebom bunuh diri Mapolsek Astana Anyar). Motor itu dulu dipakai Agus bersama tersangka S (Supri) di Ciamis, Jabar, beberapa hari sebelum terjadi bom bunuh diri.”

Islah Bahrawi menjelaskan, dari pengakuan Supri ke polisi, terungkap bahwa bom Astana Anyar memang dibuat oleh S. Dan, S menyerahkan sendiri paket bom itu dalam keadaan semi terurai kepada alm Agus di Boyolali.”

Islah: “Tersangka S juga buka lembaga pendidikan agama untuk merekrut calon pengantin atau pelaku bom bunuh diri.”

Dilanjut: "Dari pengakuan lima tersangka, mereka juga merencanakan meledakkan Mapolresta Surakarta dalam waktu dekat. Namun terhalang, karena belum ada pengantin yang siap. Jadi, mereka masih menyasar polisi.”

Islah alumni Pondok Pesantren Syaichona Moh Cholil Bangkalan. Ia kini Tenaga Ahli Pencegahan Radikalisme, Ekstremisme dan Terorisme, Mabes Polri. Saat ceramah, uraiannya detail dan berbasis sejarah.

Dikutip dari NUOnline, 28 Juni 2022, Islah menjelaskan kata kunci dalam agama yang dimanfaatkan untuk radikalisme terorisme.

Islah: “Kunci itu adalah konsep kematian, dogma, dan membuat kekuasaan di akhir zaman.”

Tiga hal dalam agama itu bisa ditunggangi untuk kepentingan politik. “Sebagaimana tragedi terbunuhnya Sayyidina Utsman bin Affan r.a atas konspirasi Muhammad bin Abu Bakar dengan orang Mesir yang mengatasnamakan agama,” katanya.

Dari tragedi itu, berkembang sampai sekarang, sehingga berpotensi memecah-belah umat Islam sendiri. “Padahal itu semua hanya bagian dari persoalan tafsir,” katanya.

Dilanjut: “Kita tahu, bahwa ajaran-ajaran Ateisme bersumber dari Arab pada kejayaan Islam. Seperti Abu al-A’la Al-Ma’arri seorang filsuf, penyair, dan penulis buta yang memegang kontroversi pandangan tak beragama. Ada juga Abu Bakar Al-Razi yang memiliki paradigma teosentris sekaligus menolak konsep kenabian, sehingga ia divonis al-mulhid.”

Menurutnya, kini tradisi yang dicontohkan para pendahulu sudah hilang. Seumpama, jika ada kekeliruan dalam tahlilan, maulidan dan sejenisnya, langsung divonis bid’ah, kafir, dan sebagainya.

Islah: "Mestinya ada diskursus pemikiran dan keilmuan, agar tidak saling mengkafirkan, membenci, dan sejenisnya. Oleh karena itu, mari kita selamatkan dan memajukan Islam dengan ilmu pengetahuan, bukan dengan politik.”

Meski kebanyakan teroris di Indonesia pelakunya orang miskin, tapi ia tak setuju bahwa kemiskinan penyebab munculnya teroris. “Intinya persoalan tafsir kitab,” ujarnya.

Itu juga selaras dengan pendapat Putri Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid), Alissa Wahid. Tapi, Alissa sepakat, bahwa teroris adalah penjahat yang memanfaatkan agama. Penyebabnya beragam, tapi bukan terkait kemiskinan pelaku.

Alissa di program D'Rooftalk, 30 Maret 2021 mengatakan soal itu, demikian:

"Warga NU bercanda begini: Kalau alasan orang radikal adalah miskin, harusnya yang radikal itu orang-orang NU, dong. Karena orang NU banyak yang miskin. Tapi kan engga. NU, kita tahu pandangan agamanya justru yang paling moderat. Jadi, teroris bukan akibat kemiskinan.”

Penangkapan lima terduga teroris di Boyolali dan Sukoharjo itu membuat masyarakat lega. Meskipun, ada terduga lain yang masih diburu Densus 88.

Betapa pun, kini masyarakat sudah muak pada teroris. Beda, dengan satu-dua dekade lalu, saat Bom Bali, sebagian masyarakat (diam-diam) bersimpati pada teroris. Kini tidak lagi.

Penulis adalah Wartawan Senior

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Awal Pekan, Harga Emas Antam Terpantau Turun ke Rp2.668.000 per Gram

Senin, 22 Juni 2026 | 10:21

Harta Zita Anjani Melonjak Rp100 Miliar, Hari Purwanto: Mungkin Menang Lotre

Senin, 22 Juni 2026 | 10:11

Emas Antam Mandek di Awal Pekan, Satu Gram Rp2,6 Juta

Senin, 22 Juni 2026 | 09:49

Bajak Kader Partai Lain, PSI Dinilai Tetap Berpotensi Jadi Partai Gurem

Senin, 22 Juni 2026 | 09:43

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan Rp17.812 per Dolar AS

Senin, 22 Juni 2026 | 09:30

Dolar AS Menguat di Tengah Amblesnya Yen dan Poundsterling

Senin, 22 Juni 2026 | 09:20

Trump Sebut Starmer Gagal, Isu Pengunduran Diri PM Inggris Kian Menguat

Senin, 22 Juni 2026 | 09:11

Gibran Ingin Layanan Kesehatan di Wilayah 3T Diperkuat

Senin, 22 Juni 2026 | 09:00

Rayakan HUT ke-499, Jakarta Berikan Tarif Spesial Rp1 untuk MRT, LRT, dan TransJakarta Hari Ini

Senin, 22 Juni 2026 | 08:47

Bakal Turun Gunung Bareng PSI, Jokowi Dinilai Sulit Lepas dari Bayang-bayang Kekuasaan

Senin, 22 Juni 2026 | 08:46

Selengkapnya