Berita

Ilustrasi/Net

Global

Sepertiga Wilayah Ukraina Dipenuhi Bom Tandan dan Ranjau Darat

SABTU, 22 JULI 2023 | 10:09 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Ratusan ribu kilometer wilayah Ukraina saat ini diduga dipenuhi dengan munisi tandan atau bon curah yang belum meledak dan ranjau darat, menimbulkan kekhawatiran akan keamanan warga sipil di masa depan.

Hal itu disampaikan Wakil Sekretaris Jenderal untuk Urusan Politik dan Pembangunan Perdamaian Rosemary DiCarlo kepada Dewan Keamanan PBB pada Jumat (21/7) waktu setempat.

"Meriam yang tidak meledak akan terus menimbulkan bahaya bagi warga sipil selama bertahun-tahun yang akan datang,” kata DiCarlo, seperti dikutip dari RT, Sabtu (22/7).


"Sepertiga wilayah negara itu diduga ditutupi oleh berbagai amunisi, termasuk ranjau darat dan bom curah," katanya.

DiCarlo juga mengatakan bahwa anak-anak terpengaruh secara tidak proporsional oleh pertempuran yang sedang berlangsung karena mereka dibunuh dan dilukai oleh senjata peledak dengan dampak area yang luas di daerah berpenduduk.

Pernyataannya muncul beberapa minggu setelah AS memutuskan untuk memasok munusi tandan ke Kyiv. Senjata semacam itu dilarang oleh lebih dari 110 negara di bawah konvensi PBB pada 2008 karena bahaya besar yang mereka timbulkan bagi warga sipil.

Bom curah melepaskan submunisi yang lebih kecil yang seringkali gagal meledak karena tersebar di area yang luas. Mereka kemudian dapat tetap tidak meledak selama bertahun-tahun, menjadi ancaman bagi warga sipil bahkan setelah konflik berakhir.

Sebanyak 86.500 warga sipil telah terbunuh oleh bom cluster sejak Perang Dunia II, dan banyak lagi yang cacat, menurut Amnesty International.

Pemerintahan Presiden AS Joe Biden memutuskan untuk memberikan amunisi kontroversial kepada Kyiv meskipun faktanya Gedung Putih sendiri telah menyebut penggunaan mereka sebagai kriminal ketika Rusia diduga menggunakannya.

Washington menghadapi kritik dari sekutunya sendiri atas tindakan tersebut, karena Inggris, Kanada, dan Jerman, serta beberapa anggota NATO dan non-NATO lainnya, menyuarakan ketidaksetujuan mereka dengan keputusan ini.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan awal bulan ini bahwa penggunaan bom curah harus dianggap sebagai kejahatan perang. menurutnya, jika pasukan Ukraina menggunakan senjata semacam itu di medan perang, Rusia berhak untuk merespons dengan tepat.

Pada Selasa, Duta Besar Rusia untuk Washington, Anatoly Antonov, mengatakan bahwa AS mengubah Ukraina menjadi kuburan untuk limbah yang mematikan, sehingga hampir tidak mungkin untuk tinggal di sana.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

UPDATE

Kapolri Resmi Larang Seluruh Polisi Pakai Vape

Minggu, 01 November 2026 | 21:51

Ketidakpuasan terhadap Kinerja Pemerintah

Minggu, 01 November 2026 | 21:33

Gaduh Penggeledahan Pesantren, Polri Libatkan Propam

Minggu, 01 November 2026 | 20:41

Dua Nasabah Gugat AIA Financial ke PN Jaksel

Minggu, 01 November 2026 | 20:18

Mantra Mahasiswa dan Mengapa Rakyat Sering Kali Dikalahkan?

Minggu, 01 November 2026 | 19:36

KB Bank Syariah Digugat ke Pengadilan

Minggu, 01 November 2026 | 18:39

Pakar Tata Negara Bongkar Efek Putusan MA Terhadap Nasib Gibran

Minggu, 01 November 2026 | 18:15

Cancel Culture RANS-Willie Salim Contoh Kemarahan Publik

Minggu, 01 November 2026 | 17:41

Lulusan Trisakti Didorong Jadi Generasi Inovatif dan Berjiwa Wirausaha

Minggu, 01 November 2026 | 17:23

Elemen Umat Islam Harus Bersatu Perkuat Ekonomi melalui Koperasi

Minggu, 01 November 2026 | 17:00

Selengkapnya