Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Impor Pangan Meningkat

RABU, 12 JULI 2023 | 10:00 WIB | OLEH: DR. IR. SUGIYONO, MSI

IMPOR pangan yang meningkat dan membesar merupakan sinyal penting tentang adanya masalah pada ketahanan pangan, yaitu pemenuhan kecukupan pangan dari sumber impor.

Sebenarnya transaksi impor merupakan peristiwa yang lazim untuk jenis sistem perekonomian yang bersifat terbuka, yang negara menganut boleh melakukan kegiatan ekspor dan impor dengan hambatan tarif dan non tarif yang minimalis.

Komoditas impor pangan non migas tersebut dalam nilai jutaan dolar AS per tahun periode tahun 2018-2022, antara lain adalah ampas/sisa industri makanan, gandum-ganduman, gula dan kembang gula, biji-bijian berminyak, susu, mentega, telur, garam, buah-buahan, berbagai makanan olahan, daging hewan, sayuran, kakao/coklat, tembakau, olahan dari tepung, ikan dan udang, kopi, teh, rempah-rempah, lemak dan minyak hewan/nabati, minuman, produk hewani, daging dan ikan olahan, serta bahan-bahan nabati. Nilai impor pangan tersebut sebesar 27 miliar dolar AS per tahun 2022.


Berdasarkan perspektif politik pangan, suatu kegiatan impor pangan yang seperti ini diyakini bersifat inferior. Nilai impor pangan yang meningkat terus-menerus membunyikan alarm tentang kondisi darurat pangan, terutama ketika Indonesia merupakan negara kepulauan dan bersifat agraris dengan jumlah penduduk sebanyak 277,23 juta jiwa tahun 2023.

Meskipun secara agregat di Indonesia dijumpai luas lahan pertanian yang semakin meningkat, namun terdapat persoalan, yang penting dari sudut pandang perspektif pembangunan pertanian. Pertanian dalam arti yang luas.

Persoalan tersebut antara lain adalah hasil survei pertanian antar sensus tahun 2018 menunjukkan jumlah rumah tangga petani gurem meningkat dari 14,2 juta menjadi 15,8 juta periode tahun 2013-2018.

Sementara itu, jumlah petani berjenis kelamin laki-laki sebanyak 25,44 juta orang dan perempuan sebanyak 8,05 juta orang per tahun 2018. Jadi, secara sangat kasar terdapat sekitar 55,82 persen dari rumah tangga petani di Indonesia merupakan petani gurem.

Petani gurem adalah petani pengguna lahan yang menguasai lahan kurang dari 0,5 hektar. Angka tersebut merupakan sinyal keras dari jenis skala usahatani padi, palawija, hortikultura tertentu, perkebunan, tanaman hutan, dan kehutanan lainnya, yang tidak ekonomis.

Ini artinya, basis pembangunan pertanian di Indonesia bertumpu pada kegiatan budaya hidup sebagai petani untuk memberi makan kepada keluarga dan masyarakat, namun tidak ekonomis dan rawan terhadap terbentuknya bangunan kemiskinan. Itu ketika politik pangan menghendaki peningkatan produksi dibandingkan pendapatan petani. Kemudian teknologi mekanisasi pertanian berbenturan dengan pengangguran.

Sementara itu, pengembangan lahan gambut sejuta hektare dan penanaman singkong food estate di Kalimantan dan Papua tidak menggembirakan. Namun, pembangkitan kewirausahaan petani generasi Z dan pengembangan rekayasa genetika memberikan harapan.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef); pengajar Universitas Mercu Buana

Populer

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Cek Siaran Langsung Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026

Selasa, 22 September 2026 | 02:21

DPRD DKI Apresiasi Kebijakan Penutupan TPS Ilegal

Selasa, 22 September 2026 | 02:01

Indonesia Rebut 7 Medali di Aichi-Nagoya

Selasa, 22 September 2026 | 01:42

Ditjen AHU Perkuat Pengawasan Korporasi

Selasa, 22 September 2026 | 01:23

Wamendagri Ribka Haluk Berduka Tiga ASN Jadi Korban KKB

Selasa, 22 September 2026 | 01:01

Hasil Audit BPK Ditunggu dalam Kasus Toba Pulp Lestari

Selasa, 22 September 2026 | 00:37

Tiga Bulan Nganggur, Karyawan De Club Arjuna Geruduk Balai Kota

Selasa, 22 September 2026 | 00:26

Kejagung Periksa Dirut PT Migas Kota Bekasi terkait Dugaan Korupsi KSO

Selasa, 22 September 2026 | 00:01

80 Negara Siap Hadapi Wajib Sertifikasi Halal

Senin, 21 September 2026 | 23:47

KPK Harus Periksa Nusron Wahid demi Kepastian Hukum

Senin, 21 September 2026 | 23:31

Selengkapnya