Berita

Mobil polisi di lokasi penembakan massal di Philadelphia, Amerika Serikat pada Senin, 3 Juli 2023/Net

Suara Mahasiswa

Lobi Senjata di Balik Penembakan Massal di Amerika Serikat

OLEH: FAILUSUFA AZKA*
SABTU, 08 JULI 2023 | 07:20 WIB

PENEMBAKAN massal kembali terjadi di saat momen kemerdekaan Amerika Serikat (AS) yang diperingati tanggal 4 Juli 2023 lalu. Berdasarkan data The Guardian, tercatat sebanyak 16 peristiwa penembakan terjadi sepanjang hari kemerdekaan, 15 orang meninggal dunia, dan hampir 100 orang terluka.

Liburan yang seharusnya merupakan momen bahagia berubah menjadi insiden yang mengerikan.

Berdasarkan data dari kelompok nirlaba Gun Violence Archive, di tahun 2022 terdapat 647 insiden penembakan massal di AS. Pergantian tahun ternyata tidak menunjukkan perubahan yang berarti bagi penurunan kasus penembakan massal.


AS masih menjadi negara dengan peringkat pertama kasus kekerasan bersenjata tertinggi. Tingginya jumlah kasus ini kerap dikaitkan dengan kuatnya lobi senjata di parlemen.

Industri senjata api merupakan bisnis besar di AS. Diperkirakan industri senjata api bernilai sekitar 71 miliar dolar AS, dan 7,86 miliar dolar AS pajak negara bersumber dari industri ini. Jumlah kepemilikan senjata api juga cukup tinggi, per-100 orang penduduk terdapat sekitar 120,5 senjata api.

Tingginya angka kepemilikan senjata salah satunya dipengaruhi oleh kemudahan mendapatkan senjata api akibat longgarnya persyaratan aturan kepemilikan di AS.

Lobi senjata dapat didefinisikan sebagai upaya untuk memengaruhi kebijakan negara bagian dan federal tentang senjata, biasanya melalui kandidat pendukung yang telah berjanji menentang langkah-langkah pengendalian senjata.

Menurut media Aljazeera, lobi senjata mencakup kontribusi langsung kepada legislator, upaya untuk secara independen mendukung pejabat terpilih, dan kampanye untuk mempengaruhi opini publik tentang isu-isu yang berkaitan dengan senjata api.

Peran kelompok pro-senjata dalam lobi cukup signifikan, bisnis senjata yang strategis menjadikan kelompok ini rela mengeluarkan puluhan juta dolar untuk menggagalkan undang-undang pembatasan senjata.

Salah satu kelompok pro-senjata yang terkenal yaitu National Rifle Association (NRA). Berdasarkan data dari OpenSecret yang diperoleh Aljazeera, kelompok ini telah mengeluarkan 140 juta dolar AS sejak tahun 2000 untuk mendukung legislator pro-kepemilikan senjata api.

Sistem politik di AS juga membuat undang-undang pembatasan kepemilikan senjata api sulit untuk lolos. Dua partai besar di AS, Republik dan Demokrat, memiliki pandangan yang berseberangan terkait kepemilikan senjata api.

Mayoritas Republikan mendukung adanya kepemilikan senjata api bagi individu dengan alasan peningkatan keamanan, sementara pendukung Demokrat merasa bahwa kepemilikan senjata individu tidak begitu diperlukan.

Anggota kongres dari Republik tentunya perlu mempertahankan konstituen yang mayoritas berasal dari negara bagian yang mendukung kepemilikan senjata api. Menurut harian The Atlantic, para senator kebanyakan menggunakan cara filibuster, yaitu memberikan hak veto atas kebijakan nasional kepada minoritas negara bagian yang kebanyakan berkulit putih, berlokasi di pedesaan, dan merupakan pendukung Republik.

Para senator tersebut tentunya memiliki tujuan untuk terpilih kembali pada pemilihan umum berikutnya, dan tidak mungkin bagi mereka untuk mengubah visi dan misinya di saat hanya ada 24 persen pemilih Republik yang ingin mempersulit pembelian senjata.

Dengan lobi dari industri senjata dan kelompok pro-senjata, semakin sulit sepertinya jika mengharapkan undang-undang pembatasan akan segera dikeluarkan.

Survei dari Pew Research Institute tahun 2023 menunjukkan bahwa opini mayoritas publik AS semakin cenderung melihat kekerasan bersenjata sebagai masalah besar di negaranya, di samping dukungan politis yang berbeda. Survei ini juga menunjukkan sebanyak 58 persen responden menunjukkan perlunya aturan kepemilikan senjata yang lebih ketat.

Setiap harinya jumlah warga yang tewas akibat penembakan massal di AS  mencapai 120 orang dan lebih dari 200 orang terluka. Publik dibuat semakin waspada terhadap ancaman yang bisa terjadi setiap saat.

Biaya yang dikeluarkan negara akibat penembakan massal menurut Every Town Research mencapai 557 miliar dolar AS setiap tahunnya. Ini angka yang cukup fantastis karena lima kali lebih besar dibandingkan anggaran Pemerintah AS untuk Kementerian Pendidikan.

Pemerintah AS harus mengambil langkah yang lebih serius lagi dalam menyikapi permasalahan penembakan massal. Kebebasan dan kemudahan mendapatkan senjata telah menjadikan situasi semakin kritis.

Bila undang-undang pembatasan tidak kunjung disahkan dan pengawasan terhadap kepemilikan senjata tidak diperketat, ini semua membuktikan bahwa isu penembakan massal tidak ditanggapi secara serius oleh pemerintah.

*Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

KPK Periksa Sejumlah Pejabat BPK di Kasus Suap Audit Pemkab Muara Enim

Senin, 14 September 2026 | 14:27

Pembukaan Rekening Massal Bikin Fiskal Pemerintah Makin Tertekan

Senin, 14 September 2026 | 14:26

Menteri Haji Minta Jemaah Bersiap, Biaya Haji Ditargetkan Tuntas Sepekan

Senin, 14 September 2026 | 14:16

Pembunuh Wanita Muda di Kamar Hotel di Tanah Abang Dibekuk

Senin, 14 September 2026 | 14:12

Megaproyek Northern Metropolis Ambisi Hong Kong Cetak Pusat Ekonomi Baru

Senin, 14 September 2026 | 14:09

Dolar AS Jadi Aset Paling Aman Setahun ke Depan

Senin, 14 September 2026 | 14:01

Mantan Aspri Ridwan Kamil Dipanggil KPK

Senin, 14 September 2026 | 14:01

Mobil Listrik China Mulai Jadi Favorit, JAECOO dan BYD Adu Penjualan

Senin, 14 September 2026 | 13:56

Kemenhaj Kawal Keberangkatan 282 Jemaah Umrah PT AAT Mulai 15 September

Senin, 14 September 2026 | 13:48

Kenaikan Harga Cabai Tak Picu Inflasi di Jakarta

Senin, 14 September 2026 | 13:48

Selengkapnya