Berita

Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov/Net

Dunia

Puji Pernyataan Obama Soal Krimea, Kremlin: Itu Cukup Rasional

SABTU, 24 JUNI 2023 | 09:19 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pernyataan mantan Presiden AS Barack Obama baru-baru ini tentang Krimea mendapatkan pujian dari Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov.

Menurutnya,ada beberapa pernyataan rasional yang disampaikan Obama tentang sejarah Krimea di antara wawancara tersebut.

"Dari waktu ke waktu pemikiran rasional seperti itu akhirnya menemukan jalan keluarnya," kata Peskov.


Dalam wawancara yang disiarkan CNN pada Kamis (22/6), Obama mengakui bahwa sejumlah besar penduduk di semenanjung itu mendukung posisi Rusia pada 2014.

“Ada alasan mengapa tidak ada invasi bersenjata ke Krimea (pada 2014), karena Krimea penuh dengan banyak penutur bahasa Rusia,” kata mantan pemimpin AS itu kepada Christiane Amanpour dari CNN.

"Ada simpati terhadap pandangan itu. Penduduk Krimea betpandangan bahwa Rusia mewakili kepentingannya," tambah Obama.

Peskov memuji pernyataan Obama tersebut. Menurutnya, ada banyak orang yang mendukung Rusia.

“Memang ada faksi politisi yang cukup besar yang mendukung gagasan mengembangkan hubungan baik dengan Rusia (dan) yang menentang pemberlakuan Russophobia,” kata Peskov.

Namun, mengenai perkiraan Obama tentang jumlah Krimea yang mendukung penyatuan dengan Rusia, Peskov tak sepaham. Menurutnyam Obama perlu menyebut 'mayoritas' bukan hanya sebagian.

"Ini bukan bagian tertentu dari penduduk Krimea, tetapi hampir seluruh penduduk Krimea ingin menjadi bagian dari Federasi Rusia," ujarnya.

Sebagian besar warga Krimea memilih untuk bergabung dengan Rusia dalam referendum yang diadakan pada Maret 2014, tak lama setelah kudeta yang didukung Barat menggulingkan pemerintah yang terpilih secara demokratis di Kyiv.

Banyak penduduk Krimea menolak untuk mengakui otoritas baru di Kyiv dan menyatakan keprihatinan atas potensi 'Ukrainisasi' yang dipaksakan di semenanjung, termasuk diskriminasi terhadap penutur bahasa Rusia.

Ukraina, AS, dan UE mencap pemungutan suara itu ilegal dan menggambarkannya sebagai aneksasi.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Ini Pesan Denny Indrayana Jelang Putusan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:23

IHSG Melesat 1,21 Persen, Rupiah Jauhi Rp18.000 per Dolar AS

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:12

Menhaj Godok Kunjungan Wisata Jemaah Haji dan Umrah ke Yordania

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:11

Prabowo Hadiri Penyerahan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:09

Penempatan Manajer Sesuai Karakter Wilayah Jadi Kunci Keberhasilan Kopdes

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:04

Komisi III DPR Dukung Perombakan Pejabat Polri untuk Regenerasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:58

Komoditas Pangan Jadi Penyumbang Utama Inflasi di Jakarta

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:50

Ferry Juliantono Dorong Kolaborasi Kampus dan Pemda Kembangkan Koperasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:44

KPK Ingatkan Nusron Wahid soal Kewajiban Hadiri Panggilan Penyidik

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:40

Penampakan Tumpukan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:39

Selengkapnya