Berita

Penasihat Negara dan Menteri Luar Negeri China Qin Gang (kanan) bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken pada 18 Juni 2023/Net

Global

Pengamat: Jelang Pilpres 2024, AS Makin Semangat Terlibat dengan China

SENIN, 19 JUNI 2023 | 16:20 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Sejumlah pengamat di China ikut menyoroti kunjungan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken ke Beijing pada Minggu (18/6) waktu setempat, yang terjadi di tengah ketegangan kedua negara yang semakin meningkat.

Tiba di Beijing Minggu sore, Blinken disambut Menteri Luar Negeri China Qin Gang di pintu sebuah vila di Wisma Tamu Negara Diaoyutai Beijing dan dua diplomat senior melakukan pembicaraan kecil saat mereka masuk.

Kunjungan Blinken ke China digambarkan sebagai 'jarang' dan 'beresiko tinggi' karena ini adalah perjalanan pertama seorang diplomat top AS ke negara itu sejak 2018. Kunjungan Blinken diharapkan dapat membantu mengarahkan hubungan China-AS ke jalur yang stabil di mana hubungan bilateral telah berada pada titik terendah dalam beberapa dekade.


Sejumlah pakar menilai kunjungan Blinken saat ini didorong oleh kebutuhan mendesak AS untuk lebih terlibat dengan China.

"Jelas, AS sekarang menjadi sangat bersemangat untuk terlibat dengan China. Untuk satu alasan, sebentar lagi akan memasuki masa pemilihan dan tidak banyak waktu tersisa untuk mengambil tindakan lebih lanjut," kata Sun Chenghao, seorang peneliti dari Pusat Keamanan Internasional dan Strategi di Universitas Tsinghua, seperti dikutip dari Global Times.

Sun menambahkan, Washington saat ini telah menghadapi tekanan yang meningkat dari pihak ketiga termasuk negara-negara Eropa dan Asia-Pasifik, yang tidak ingin AS menekan China sedemikian rupa.

Opini publik AS memiliki harapan yang rendah untuk kunjungan ini. Saat ini, AS perlu melakukan beberapa penyesuaian dalam kebijakan China tetapi sekarang sulit bagi AS untuk menyesuaikannya, menurut Sun. Namun, ia juga mengingatkan agar jangan terlalu berharap bahwa beberapa perselisihan inti antara China dan AS dapat diselesaikan melalui kunjungan Blinken ini.

Sebelumnya pada Jumat, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin mengatakan bahwa AS telah memandang China sebagai saingan utama dan tantangan geopolitik yang paling penting.

"Ada persaingan antara kedua negara di bidang-bidang seperti ekonomi dan perdagangan, tetapi seharusnya tidak ada persaingan zero-sum yang kejam. Lebih sedikit lagi harus ada praktik untuk menahan atau menekan satu sama lain atas nama persaingan dan mencabut hak sah China untuk pembangunan," ujarnya.

Ini, kata Wang, bukan 'persaingan yang bertanggung jawab', tetapi perundungan yang tidak bertanggung jawab.

"Ini hanya akan mendorong kedua negara ke arah konfrontasi dan menciptakan dunia yang terpecah belah," katanya.

Sebelum Blinken memulai perjalanan ke China, Qin melakukan panggilan telepon dengannya, di mana Qin menguraikan sikap tegas China tentang masalah inti seperti persoalan Taiwan. Qin menekankan bahwa AS harus menghormati kedaulatan China, berhenti mencampuri urusan dalam negeri China dan berhenti merugikan kepentingan keamanan dan pembangunan kedaulatan China atas nama persaingan.

Beberapa ahli menilai bahwa secara keseluruhan hubungan China-AS masih rapuh dan tidak stabil, dan pada titik ini, jika terjadi insiden yang tidak terduga, kedua belah pihak harus menanganinya dengan tenang dan tidak boleh terlalu dipengaruhi oleh politik dalam negeri.

Khususnya pada masalah Taiwan, AS memang telah melangkah terlalu jauh, menunjukkan tanda-tanda berbahaya melewati garis merah.

“Jika timbul masalah terkait masalah Taiwan, landasan politik untuk kerja sama antara China dan AS tidak akan ada lagi, sehingga semakin sulit untuk mencapai hasil yang lebih bermanfaat di bidang ekonomi dan perdagangan,” kata Li Haidong, seorang profesor di China Foreign Affairs University.

Populer

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

Keputusan Pemerintah Batasi Ekspor Gas ke Singapura Sangat Tepat

Selasa, 27 Oktober 2026 | 01:57

IHSG, Selat Malaka dan Ujian Kedaulatan Ekonomi Indonesia

Selasa, 27 Oktober 2026 | 01:41

MKD Diminta Bersikap Tegas Sikapi Laporan Dugaan KDRT Anggota Dewan

Selasa, 27 Oktober 2026 | 01:20

Singapura, Dino Patti Djalal dan Opini Sesat

Selasa, 27 Oktober 2026 | 00:45

Bareskrim Tahan WN Taiwan Manajer Kapal Pengangkut 1 Ton Ketamin

Selasa, 27 Oktober 2026 | 00:26

Haji Isam dan Kutukan Demokrasi Mahal

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:50

Kinerja Sektor Hukum Era Prabowo-Gibran Makin Bertaring

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:24

Temui Mendikdasmen, DPR Minta Gerakan Lawan Bullying Diperkuat Lintas Sektor

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:09

Balas Singapura! Bahlil Bakal Bangun PLTN di Batam

Senin, 26 Oktober 2026 | 22:18

Pelabuhan Sabang Didorong jadi Hub Internasional yang Ramah Lingkungan

Senin, 26 Oktober 2026 | 22:17

Selengkapnya