Berita

Ilustrasi/Net

Global

Kanguru Australia Sengaja Ditembak Sebelum Mati Kelaparan di Musim Panas

RABU, 10 MEI 2023 | 21:36 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Lonjakan populasi kanguru di Australia telah memicu kekhawatiran tentang kelangsungan hidup mereka di musim kemarau.

Oleh sebab itu, banyak ahli ekologi Australia termasuk Katherine Moseby menyarankan untuk memusnahkan sebagian populasi kanguru, sehingga kematian akibat kelaparan dapat diminimalisir.

Moseby menceritakan bagaimana bencana kekeringan yang terakhir kali terjadi memusnahkan 80-90 persen populasi kanguru di berbagai daerah.


"Mereka mati kelaparan, pergi ke toilet umum dan makan tisu toilet, atau berbaring di jalan karena kelaparan," ungkapnya, seperti dikutip dari CNA News pada Rabu (10/5).

Menurutnya cara paling baik untuk menyelamatkan kanguru dari nasib ini adalah dengan menembak mereka, dan memanen dagingnya, sebagai cara untuk menjaga jumlah tetap terkendali.

“Itu menekan jumlahnya. Jika kita melihat mereka sebagai sumber daya dan mengelolanya seperti itu, kita tidak akan mendapatkan kematian yang mengerikan seperti yang kita lihat,” jelas Moseby.

Kanguru dilindungi di Australia, tetapi spesies yang paling umum tidak terancam punah. Ini memungkinkan mereka dapat ditembak dan dibunuh di sebagian besar yurisdiksi, tetapi tetap dengan izin pemerintah.

Setiap tahun, sebanyak lima juta kanguru ditembak untuk didistribusikan ke industri rumahan, yang menjadikan mereka sebagai produk daging, makanan hewan, dan kulit.

Aktivis hak-hak hewan mengecam pemusnahan komersial sebagai "pembantaian kejam". Raksasa pakaian olahraga global seperti Nike dan Puma pernah dikecam karena menggunakan kulit kanguru untuk produknya.

Kendati demikian, menurut seorang peneliti terkemuka di bidang manajemen kanguru, George Wilson, tidak etis membiarkan kanguru tetap hidup dengan populasi banyak hingga mati kelaparan.

Menghentikan operasi pengolahan kanguru justru dinilai Wilson akan membuat kondisi semakin buruk.

Populer

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:30

UPDATE

Sambut Wacana Revisi UU Tipikor, Komisi III DPR: Perlu Dikaji Lebih Mendalam

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:32

Mahasiswa Bentangkan Poster Raksasa Tolak Karhutla

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:27

Asta Cita Sulit Berjalan Tanpa Stabilitas Keuangan dan Pemerintahan Bersih

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:22

Sahroni Minta Polisi Jaga Adik-adik Mahasiswa

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:11

Mahasiswa Demo Mabes Polri, Jangan Kriminalisasi Pegawai PLN

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:57

Nasdem Bedah Pemikiran Bung Hatta untuk Perkuat Etika Politik

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:51

Koperasi Sawit Didorong Bangun Pabrik CPO hingga Kilang Minyak Goreng

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:45

Massa Tertahan di Depan Gedung UOB, Desak Polisi Buka Jalan

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:41

IHSG Menguat Tipis Usai RUPSLB BEI Setujui Dividen Rp1,56 T

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:24

Massa Berbaju Hitam Lewat Kantor KPU RI Menuju Bundaran HI

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:14

Selengkapnya