Berita

Ilustrasi pemilihan umum/RMOL

Publika

Sesaat Setelah Kandidat Diumumkan

SABTU, 06 MEI 2023 | 06:30 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

KASAK kusuk! Jelang periode lebaran, nama kandidat yang akan berkontestasi di politik domestik 2024 diumumkan. Pada pentas politik tidak ada waktu yang terlalu lama atau terlalu sebentar, semua waktu adalah momentum yang harus dimanfaatkan.

Orientasi politik esensinya adalah upaya memperoleh kuasa sekaligus mempertahankan masa berkuasa.

Kemunculan para kandidat, adalah sebuah keniscayaan dalam demokrasi, karena pergantian kekuasaan merupakan bagian makna dalam kehidupan berdemokrasi. Tidak lama berselang setelah pengumuman tersebut, ramai media massa meliput kegiatan para elite politik yang menjalin komunikasi.


Relasi di antara para aktor politik, tidak hanya kompleks sekaligus rumit, karena semua pihak berada pada tujuan yang sama, yakni berkuasa dan berharap ada dalam gelanggang kekuasaan.

Tokoh dan partai politik kemudian berlomba merumuskan model koalisi, menjajaki penggabungan kekuatan, melakukan simulasi kemenangan. Indikatornya adalah hasil kuantitatif survei, pengukuran dilakukan untuk memastikan keterpilihan. Tersebab itu pula, maka kandidat disorongkan berdasarkan popularitas serta elektabilitas.

Ukuran keterkenalan dan potensi keterpilihan inilah yang membuat partai politik menimbang seorang calon pemimpin. Padahal dibutuhkan kualitas, bukan sekedar kuantitas.

Apa visi kepemimpinan? Bagaimana persoalan publik diselesaikan? Hal-hal tersebut menjadi lebih penting untuk dibahas.

Lalu apa yang tertinggal? Sesungguhnya partai politik seharusnya menjadi kanalisasi suara politik publik, meski dalam realitanya bisa jadi tidak demikian.

Pernyataan bahwa wakil rakyat hanya akan nurut instruksi pemilik partai, disampaikan pada kesempatan terbuka, membuat ilustrasi tentang partai politik tidak ubahnya bak relasi kuasa sebuah perusahaan.

Tidak ada yang benar-benar mewakili amanat serta aspirasi publik. Di balik para kandidat, ada tangan-tangan kuasa yang memainkan gerak terselubung.

Sementara itu, para pendukung kemudian membentuk barisan, membangun barikade, memastikan kandidat pilihannya memenangi kontestasi. Melakukan siasat perang gerilya kampanye.

Saat ini di media sosial, ruang publik kembali mulai menghangat. Riuh rendah dukungan mengemuka. Padahal konsep kepemimpinan yang akan diajukan belumlah terbaca.

Para pemuja membela sekuat tenaga, sementara penentangnya hanya melihat sisi yang berbeda. Sedangkan pemilih kritis akan menimbang program yang akan ditawarkan.

Keterbelahan bukan tidak mungkin kembali terjadi. Bila kemudian pentas politik hanya menyisakan luka sosial dan potensi konflik, apa yang hendak kita harapkan?

Sesaat setelah kandidat diumumkan, secara praktis yang dilakukan adalah konsolidasi untuk pemenangan, agenda serta isu publik terang benderang dikesampingkan. Tema tentang hajat publik, hanya menjadi pelengkap isu pada show debat kandidat, yang kerap kali tidak berpengaruh signifikan pada masa pemilihan.

Tidaklah benar karena masa pemilihan masih terlalu lama, dan masa kampanye belum dimulai maka konsep kampanye belumlah bisa dimunculkan. Justru kita perlu mendapatkan pemikiran-pemikiran baru yang mendalam, guna mengatasi problematika kehidupan sosial kita.

Manakala faktor politik yang didorong ke publik hanya mengedepankan aspek sentimental dan emosional, sementara edukasi rasional terabaikan, kita sesungguhnya tengah menghitung mundur peradaban.

Penulis adalah Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

KPK Terbitkan Sprindik Baru Terkait TPPU Wali Kota Madiun Maidi

Rabu, 23 September 2026 | 18:27

Pemerintah Sediakan Pendidikan Gratis Mulai TK hingga SMA Lewat Dana BOS

Rabu, 23 September 2026 | 18:19

IHSG-Rupiah Kompak Parkir di Zona Hijau Usai BI Tahan Suku Bunga

Rabu, 23 September 2026 | 17:58

Beli Tiket MotoGP Indonesia 2026 via wondr by BNI Diskon hingga Rp300 Ribu

Rabu, 23 September 2026 | 17:41

Anggota DPRD Hingga Petinggi LSM Diperiksa KPK dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 23 September 2026 | 17:38

Prabowo Bentuk Tim Khusus Kaji Rencana Gratiskan Kuliah di PTN

Rabu, 23 September 2026 | 17:34

Bos BI Ungkap Investasi Asing Masuk RI Rp7,1Triliun, Ditopang SBN

Rabu, 23 September 2026 | 17:18

Legislator Nasdem Dorong Pembenahan Pelayaran, Belajar dari Kereta Api

Rabu, 23 September 2026 | 17:09

Pemerintah Bisa Lebih Repot Bila Daya Beli Kelas Menengah Terus Tertekan

Rabu, 23 September 2026 | 17:01

Prabowo Pantau Karhutla Sumatra-Kalimantan, 209,78 Hektare Masih Dipadamkan

Rabu, 23 September 2026 | 16:52

Selengkapnya