Berita

Gurubesar Ilmu Hukum Universitas Padjadjaran, Prof Romli Atmasasmita/Net

Publika

Lembaga PK Dihubungkan dengan Hak Asasi Terdakwa

OLEH: ROMLI ATMASASMITA*
SENIN, 17 APRIL 2023 | 08:19 WIB

LEMBAGA Peninjauan Kembali, selanjutnya, disebut PK dimasukkan ke dalam UU Nomor tahun 1981 sesungguhnya mengambil alih lembaga yang sama di dalam Hukum Acara Perdata atau Herziening.

Lembaga PK pasca ratifikasi ICCPR 1966 dengan Undang-undang Nomor 12 tahun 2005 tentang Pengesahan International Convention On Civil and Political Rights (kovenan internasional tentang hak-hak sipil dan politik), telah mengalami perubahan penafsiran, yaitu tidak lagi semata-mata norma yang wajib dipatuhi baik oleh pencari keadilan maupun pihak APH termasuk hakim, melainkan juga lembaga PK pasca putusan MK RI Nomor 34/PUU-XI/2013 dan putusan MK RI Nomor 33/PUU-XIV/2016 telah ditafsirkan merupakan sebagai sarana hukum lembaga perlindungan hak asasi manusia terdakwa dan ahli warisnya di dalam melawan hak negara untuk menghukum.

Di dalam Pasal 263 dinyatakan bahwa terdakwa dan ahli warisnya masih diberikan hak (asasi) untuk memohonkan kepada Mahkamah Agung RI, menyelidiki dan mengungkap kembali putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap dengan harapan pemohon dapat memperoleh kembali keadilan bagi dirinya dan keluarganya yang bersifat final.


Merujuk pada dua putusan MK RI tersebut di atas, diharapkan bahwa APH dan ahli hukum pidana dapat memahami ketentuan Pasal 263 KUHAP secara komprehensif dalam konteks perkembangan peradaban bangsa-bangsa khususnya di Indonesia.

Harapan bahwa, penerapan ketentuan PK dalam KUHAP seharusnya mengikuti perkembangan hak asasi manusia oleh Mahkamah Agung RI merupakan puncak kekuasaan kehakiman, di samping Mahkamah Konstitusi RI tampaknya telah tercapai dengan putusan MKRI Nomor 33/PUU-XIV/2016 dalam permohonan pengujian atas Pasal 263 UU Nomor 8 Tahun 1981 atas nama Ana Boentaran, istri Djoko Tjandra memutuskan bahwa, kaidah-kaidah undang-undang yang diatur dalam Pasal 263 ayat (1) UU Nomor 8 Tahun 1981 tidak sesuai dengan kaidah konstitusi tentang asas negara hukum dan asas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta persamaan di hadapan hukum, perlindungan dari perlakuan diskriminatif, perlindungan atas pribadi dan keluarga, kehormatan, martabat, perlindungan  atas rasa aman dan ketakutan sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (3), Pasal 28D ayat (1), Pasal 28G, Pasal 28I ayat (2) dan ayat (4) Undang Undang Dasar 1945.

Permohonan perlindungan hukum dari pemohon juga dilandaskan pada bunyi ketentuan Pasal 263 KUHAP yang menjelaskan bahwa, terhadap putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, kecuali putusan bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum, terpidana atau ahli warisnya dapat mengajukan permintaan peninjauan kembali kepada Mahkamah Agung.

Permohonan peninjauan kembali dilakukan atas dasar: a. Apabila terdapat keadaan baru yang menimbulkan dugaan kuat, bahwa jika keadaan itu sudah diketahui pada waktu sidang masih berlangsung, hasilnya akan berupa putusan bebas atau putusan lepas dari segala tuntutan hukum atau tuntutan penuntut umum tidak dapat diterima atau terhadap perkara itu diterapkan ketentuan pidana yang lebih ringan;

b. Apabila dalam pelbagai putusan terdapat pernyataan bahwa sesuatu telah terbukti, akan tetapi hal atau keadaan sebagai dasar dan alasan putusan yang dinyatakan telah terbukti itu, ternyata telah bertentangan satu dengan yang lain;

c. Apabila putusan itu dengan jelas memperlihatkan suatu kekhiIafan hakim atau suatu kekeliruan yang nyata.

Putusan MKRI Nomor 33 Tahun 2016 merupakan awal baru terobosan menggapai keadilan bagi terdakwa yang dirugikan oleh ketentuan Pasal 286 KUHAP.

Di dalam Pasal 286 KUHAP bahwa putusan bebas dan lepas dari tuntutan hukum yang masih boleh dilakukan perlawanan oleh jaksa penuntut umum dilarang. Putusan MKRI Nomor 33 Tahun 2016 telah membuka pintu keadilan yang tidak terbatas dari kesewenang-wenangan penyalahgunaan hukum untuk tujuan politik dan penzaliman.

*Gurubesar Ilmu Hukum Universitas Padjadjaran

Populer

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

Fahira Idris Dukung Pelarangan Medsos Buat Anak di Bawah 16 Tahun

Minggu, 08 Maret 2026 | 01:58

Golkar Berduka, Putri Akbar Tandjung Wafat

Rabu, 11 Maret 2026 | 15:27

UPDATE

Progam Mudik Gratis Jadi Cara Golkar Hadir di Tengah Masyarakat

Rabu, 18 Maret 2026 | 14:18

Kepemimpinan Intrinsik Kunci Memutus Kebuntuan Krisis Sistemik Bangsa

Rabu, 18 Maret 2026 | 14:12

Sahroni Dukung Kejagung Awasi Ketat MBG Agar Tak Ada Kebocoran

Rabu, 18 Maret 2026 | 14:07

Agrinas Palma Berangkatkan 500 Pemudik Lebaran 2026

Rabu, 18 Maret 2026 | 14:05

KPK Bakal Bongkar Kasus Haji Gus Alex di Pengadilan

Rabu, 18 Maret 2026 | 13:35

Pemudik Boleh Titip Kendaraan di Kantor Pemerintahan

Rabu, 18 Maret 2026 | 13:28

Kecelakaan di Tol Pejagan–Pemalang KM 259 Memakan Korban Jiwa

Rabu, 18 Maret 2026 | 13:21

Contraflow Diberlakukan Urai Macet Parah Tol Jakarta-Cikampek

Rabu, 18 Maret 2026 | 13:16

90 Kapal Lintasi Selat Hormuz Meski Perang Iran Masih Berkecamuk

Rabu, 18 Maret 2026 | 13:15

Layanan Informasi Publik KPK Tetap Dibuka Selama Libur Lebaran

Rabu, 18 Maret 2026 | 13:11

Selengkapnya